Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Puasa sebagai Jalan Melatih Hati Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah yang menghadap Selat Sunda, tempat matahari terbit dari balik gunung dan tenggelam di pelukan laut, masyarakat Lampung menandai waktu bukan sekadar dengan hari dan bulan, melainkan dengan adat. Di sanalah Ramadhan tidak sekadar datang sebagai kewajiban agama, tetapi hadir sebagai tamu agung yang disambut dengan sikap hidup, tata laku, dan kesadaran batin.
Orang Lampung percaya bahwa adat adalah jalan, agama adalah cahaya, dan manusia adalah pejalan. Maka ketika Ramadhan tiba, jalan adat dilapangkan agar cahaya itu sampai ke hati.

Orang-orang tua di marga Sekala Brak masih menyimpan kisah tentang Puyang Tihang Maja, seorang penjaga gunung yang hidup jauh sebelum Islam mengakar di Lampung. Konon, setiap tahun pada bulan tertentu, ia mengasingkan diri, menahan lapar dan bicara, hanya minum air embun dan membaca doa-doa leluhur.
Ketika Islam datang melalui para ulama dari Pagaruyung dan pesisir Banten, kebiasaan itu menemukan maknanya. Para penyebar agama tidak menghapus laku puyang, melainkan menafsirkannya ulang. Puasa yang dahulu dilakukan untuk menenangkan alam kini dipahami sebagai jalan membersihkan hati.

Legenda ini diwariskan secara lisan dan tercatat dalam naskah tua marga yang disimpan dalam bentuk kertas daluang, sebagian kini tersimpan di museum daerah dan koleksi keluarga adat.

Puasa, dalam kisah ini, bukan sekadar menahan makan, tetapi menjaga keseimbangan antara diri, sesama, dan Sang Pencipta.
Masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua sistem besar: Saibatin dan Pepadun. Keduanya memiliki marga, dan setiap marga memiliki kitab adat, silsilah, serta hukum lisan yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 10: Makan Penutup, Warisan Rasa yang Menyatukan Generasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, salah satu naskah adat Lampung tertua, terdapat prinsip hidup yang berbunyi: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa sejak Islam diterima, adat Lampung tidak berdiri berlawanan dengan agama, melainkan menjadi wadahnya. Ramadhan kemudian dimasukkan ke dalam kalender sosial adat.
Dalam silsilah marga, bulan Ramadhan sering disebut sebagai waktu penyucian niat. Perkawinan adat besar dihindari, sengketa diselesaikan lebih cepat, dan musyawarah dilakukan dengan bahasa yang lebih halus. Hal ini bukan aturan tertulis, melainkan kesadaran kolektif yang diwariskan.

Puasa dalam pandangan adat Lampung tidak dipahami secara sempit. Ia disebut sebagai “laku hati”, sebuah proses melatih batin agar seseorang layak memegang kehormatan.
Falsafah hidup Lampung, Piil Pesenggiri, menjadi kunci. Empat unsurnya, julok adek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan, semuanya diuji dalam Ramadhan.
Menahan lapar melatih julok adek (harga diri). Menahan amarah mengasah nengah nyappur (kemampuan hidup bermasyarakat). Berbagi takjil adalah wujud nemui nyimah. Sementara gotong royong membersihkan balai adat menjelang Idulfitri adalah praktik sakai sambayan.

Puasa menjadi sekolah karakter, bukan ritual kosong.
Meski tidak semua ritual adat bersifat seremonial besar, Ramadhan memiliki jejak kuat dalam kebiasaan sosial Lampung.
Tradisi begawi kecil sering dilakukan menjelang akhir Ramadhan, bukan sebagai pesta, tetapi sebagai syukuran sederhana. Musik adat dipelankan, tarian cangget dibawakan dengan gerak yang lebih lembut, menandakan suasana batin yang ditahan.
Para tetua adat sering mengutip ayat Al-Qur’an:

Baca Juga :  Dengan Semangat Piil Pesenggiri, Kita Wujudkan Indonesia Maju, Berdaulat, dan Bermartabat Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, kamu berpuasa…”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini kemudian ditafsirkan secara adat: puasa diwajibkan agar manusia beradat, bukan sekadar taat.
Analisisnya jelas, adat Lampung membaca teks suci dengan kacamata sosial, menjadikannya pedoman hidup bersama.
Siger, mahkota perempuan Lampung, bukan sekadar hiasan. Dalam Ramadhan, ia dimaknai sebagai simbol pengendalian diri. Emasnya melambangkan cahaya iman, jumlah lekuknya dihubungkan dengan nilai kesabaran.
Busana adat Saibatin dan Pepadun yang dikenakan saat Ramadhan biasanya lebih tertutup dan sederhana. Hal ini bukan aturan tertulis, melainkan etika adat yang sejalan dengan spirit puasa.

Pakaian menjadi pesan diam: bahwa kehormatan lahir dari kesadaran batin.
Dalam adat Lampung, hati disebut sebagai “pusat timbang rasa”. Puasa melatih pusat ini agar tidak dikuasai nafsu.

Hadis Nabi yang sering dikutip para penyimbang adat berbunyi: “Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai, dalam tafsir adat, bukan hanya dari dosa, tetapi dari sikap merusak tatanan sosial: dengki, sombong, dan kata-kata kasar.
Ramadhan menjadi waktu memperbaiki relasi: antara anak dan orang tua, antara marga, bahkan antara manusia dan alam. Oleh karena itu, merusak hutan atau laut pada bulan puasa dianggap melanggar adat, meski tidak selalu disebutkan dalam hukum formal.

Baca Juga :  Seri Buku: Makanan Khas Lampung Tempoyak dalam Sakay Sambayan, Rasa Asam, Rasa Kebersamaan Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ramadhan di Lampung bukan hanya milik masjid, tetapi juga milik balai adat, ladang, pantai, dan gunung. Ia hidup dalam tutur orang tua, dalam cara menyambut tamu, dalam kesediaan memaafkan sebelum takbir berkumandang.
Tradisi ini diwariskan bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat teladan.

Anak-anak belajar puasa bukan karena takut, tetapi karena ingin menjadi “orang Lampung seutuhnya”.
Ramadhan akan selalu datang dan pergi, tetapi jejaknya tinggal dalam adat. Selama masyarakat Lampung menjaga adat sebagai jalan, puasa akan tetap menjadi latihan hati, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Di tanah siger, Ramadhan adalah pertemuan antara langit dan bumi, antara wahyu dan kearifan lokal, antara lapar jasmani dan kenyang rohani.

Referensi Terverifikasi (Fisik/Digital)
* Kitab Kuntara Raja Niti (naskah adat Lampung, koleksi museum dan keluarga adat).
* Al-Qur’an dan Hadis Shahih (Bukhari–Muslim).
* Hilman Hadikusuma, Adat Istiadat Lampung.
* Pemerintah Provinsi Lampung, Dokumen Kebudayaan Daerah Lampung.
* Arsip Lisan Marga Saibatin dan Pepadun (wawancara tetua adat).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini