nataragung.id – Magelang – Al-Assi, laki-laki warga Gaza, bersama keluarganya tinggal di tenda dari kain dan terpal dekat reruntuhan rumahnya, di lingkungan Al-Zarqa pusat Kota Gaza. Mereka dulu tinggal dengan bahagia, makan enak, termasuk menikmati manisan khusus Ramadan, seperti qatayef (kue manis yang diisi dengan krim atau kacang sebagai hidangan penutup yang disajikan pada bulan Ramadan). “Segalanya telah berubah sekarang,” katanya kepada UN News, Selasa (17/02/2026).
Al-Assi menceritakan kepada UN News, suasana kehidupan suramnya, dan apa yang tersisa setelah dua tahun serangan Israel. Ia mengatakan telah kehilangan semuanya. Ketika melihat barang-barang di toko, langsung menjauh karena tidak memiliki uang untuk membeli. “Saya menderita tekanan darah tinggi dan diabetes, dan saya tidak bisa berjalan,” ungkapnya.
Di tenda pengungsian lain, Amal Al-Samri dan suaminya menciptakan suasana secara simbolis untuk menyambut bulan Ramadan. Misalnya, menata tenda dengan senyum tak pernah lepas dari wajah lelahnya. Al-Samri, dan ketiga anaknya mengenakan pakaian yang tampak baru untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadan. “Sebelum perang, hidup kami indah,” kenangnya.
Al-Samri bercerita akan mengunjungi kerabatnya, berbelanja kebutuhan rumah di pasar, dan mendekorasi tenda seperti suasana Ramadan sebelum perang, lengkap dengan lampu gantung dan hiasan lainnya. “Hari ini, tidak ada apa-apa,” katanya.
Ia mengatakan saat ini hidup dalam tragedi. Tidak ada listrik dan air. Ia dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, dan pernah mengalami ombak laut besar menghanyutkan tenda.
Meski warga Gaza berada dalam kondisi sangat sulit, penderitaan tiada akhir, kekurangan pasokan, dan kehancuran menerpa mereka, suasana bulan suci Ramadan terasa gairahnya, dan berbagai barang khas bulan suci itu tetap memenuh di pasar bersejarah Zawiya di Kota Gaza.
Toko dan kios terlihat menampilkan lentera Ramdan berbagai ukuran, dan papan-papan yang menawarkan jualan mereka untuk menyambut bulan suci Ramadan.
Sebagian keluarga bisa membeli lentera itu untuk anak-anaknya dengan harga yang tinggi. Namun, tidak sedikit orang yang berkunjung ke pasar tanpa membeli apa pun. “Mereka tidak cukup uang untuk membeli kebutuhnya dengan harga tinggi, selain juga ada kelangkaan barang,” jelas Luay Al-Jamasi, pemilik toko penjual dekorasi Ramadan.
“Orang juga tak bisa memasang dekorasi Ramadan karena mereka tidak ada listrik,” tambahnya.
Namun, banyak warga tetap merayakan bulan Ramadan dengan berbagai bentuk, dan sebagian orang menunjukkan solidaritas sosialnya. Misalnya, Maher Tarzi, warga Palestina beragama Kristen yang sedang berjalan-jalan di pasar Zawiya. Ia mendendangkan lagu terkait dengan bulan suci dengan suara merdunya.
“Orang-orang ingin bahagia. Kami melalui masa-masa sulit, tetapi tetap bahagia karena masih hidup,” kata Tarzi.
Pada malam hari, beberapa tempat di Kota Gaza diterangi lentera untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadan.
Kondisi berat memang masih membelit penduduk Gaza. Tetapi kehidupan harus tetap berputar. (*)
Editor : Mukhotib Magelang
Keterangan foto : Anak-anak di Gaza senang membawa dan menyalakan lentera Ramadan sepanjang bulan puasa/Foto: UN News

