Bulan Ramadan, dan Cinta yang Terbengkalai. Oleh : Mukhotib MD //Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

0

nataragunng.id – Jakarta – Rakyat Indonesia tampaknya sedang berada dalam situasi tidak baik-baik saja. Berbagai persoalan menghantam secara terus menerus, mulai dari soal hukum, ekonomi, dan kebijakan nasional lainnya yang dinilai bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat.

Ya, sebenarnya saya juga berada di dalamnya. Meski sebagai penulis, tak pelak pikiran selalu dipenuhi dengan berbagai keluhan rakyat dalam kanal-kanal media sosial. Enggak mau peduli, ya, enggak bisalah.

Sore itu, saat menunggu pelaksanaan sidang isbat, tentu juga untuk mencari ide menulis mengenai perdebatan kapan awal puasa, dan situasi faktual penderitaan rakyat, teman akrab saya sewaktu masih belajar di Yogyakarta datang bertamu.

Saya sebenarnya enggan menerimanya. Sore itu saya sedang bersama keluarga. Tetapi apa boleh buat, Pakde Kliwon sudah berdiri di ambang pintu dengan mengucapkan uluk salam.

Wajahnya kusam, persis saat artikel yang dikirim ke media ditolak redaksi dengan alasan kesulitan tempa untuk memuatnya. Dan setiap bertemu pengalaman itu selalu diceritakan ulang, mungkin sudah jutaan kali.

Baca Juga :  Penguatan Kedaulatan Ekonomi Haji Indonesia, Perlu Koreksi Struktural

Ia memang manusia gila dalam dunia kepenulisan. Semua hal ihwal kehidupan selalu dikaitkan dengan kepenulisan.
Juga sore itu.

Ia saya ajak duduk di gazebo depan rumah, tempat saya menerima para tamu yang masih memiliki kebiasaan merokok. Dengan santainya ia mengatakan kalau hanya memiliki korek api. Menyulut sebatang rokok, ia mulai bercerita.

“Saya merasa memasuki Ramadan ini tak ubahnya nasib naskah opini saya pada masa Orde Baru di meja redaktur: sensor diri, detak jantung meningkat tajam, ada was-was tak lolos seleksi,” ujarnya.

“Lalu?” kataku.

“Dodol. Kamu enggak mengikuti perkembangan di media sosial? Bagaimana rakyat saat ini begitu takutnya kepada begal dan jambret.”

Baca Juga :  Mencegah Terjadinya Femisida, Komnas Perempuan Desak DPR RI Sahkan RUU PPRT

“Apa hubungannya denganku?”

“Kupluk bodol,” ketus.

Namun, Pakde Kliwon mulai bercerita bagaimana terjadi eskalasi luar biasa kenaikan angka kejahatan begal dan jambret. Apalagi menjelang bulan suci Ramdan yang akan diiringi dengan berbagai kenaikan bahan kebutuhan pokok, pasti akan semakin pada nekat.

Konyolnya lagi, katanya, pembegal sekarang berani datang ke kantor polisi untuk melaporkan korbannya yang memukuli mereka.

“Seingatku dulu, penjambret takut kepada polisi,” katanya dengan nada masygul.

“Kopinya belum keluar juga, ya?” tanyanya setelah bercerita panjang kali lebar.

“Selesaikan dulu, enggak enak kalau mendengar cerita terpotong-potong,” ucapku.

Ceritanya berlanjut, dan benar-benar ke mana-mana, nglantur enggak ada ujung pangkalnya. Ia tersenyum sebentar, lalu bilang, “Ini soal enggak nalar di negeri ini. Selama puasa makan bergizi gratis akan diantar ke rumah menjelang sahur.”

Saya merespons dengan santai. Enggak apa-apa, bebaskan saja, sesuka-suka yang memiliki program. Diantar menjelang sahur juga bagus, saat berbuka puasa tidak buruk. Paling pokok tidak mengakibatkan keracunan.

Baca Juga : 

Pasalnya, kalau ada kasus keracunan saat sahur kan repot menanganinya. Apalagi mereka yang tinggal di daerah terpencil. Bagaimana coba?

“Ini hal lain. Dalam bulan suci Ramadan tahun ini apa yang diharapkan?” tanyaku.

“Saya ingin bisa menghapus residu cinta masa lalu kepada Yuk Nah yang selama ini tak pernah naik cetak,” ujarnya disusul gelak tawa tak henti-henti.

Saya lihat ada air mata yang mengandung rindu begitu pekat. Kerinduan masa muda yang tak pernah bisa disalahkan. Meski ketika itu saya tahu persis, Pakde Kliwon benar-benar salah arah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini