Wakaf yang Enggak Masuk Akal. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Pakde No, dari sejak muda memang orangnya selalu nyleneh. Istilah bahasa dunia kreatifnya out of the box, di luar kebiasaan-kebiasaaan yang normatif.

Bayangkan saja, orang-orang melakukan aksi masa dan menghadapi pagar betis, mereka semua teriak-teriak melawan sampai diam sendiri. Suaranya habis. Pakde No, tiba-tiba mengumpulkan kayu kering, daun dan rumput basah rumput.

“Mengenang masa Pramuka,” katanya.

Setelah tumpukan selesai, ia memintaku untuk mengambil bensin dari motor yang terparkir. Entah motor siapa. Namun, perintah di tengah aksi tak memerlukan diskusi. Saya seperti kerbau dicocok hidungnya berjalan ke arah motor itu. Lalu melepas slank BBM, dan mengucurlaj dengan tanpa rintangan ke dalam botol yang sudah kusiapkan.

Baca Juga :  Kemacetan di Pasar Jati Mulyo - MAJALAH NATAR AGUNG

Dan …, wow! Tumpukan kayu kering itu terbakar hebat. Daun dan rumput kering mulai menebar asap putih tebal yang sangat menyakitkan mata. Keamanan yang memblokir jalan masa aksi pun, mulai panik. Asap itu enggak hanya membuat mata perih, tetapi juga sesak nafas. Mirip dengan gas air mata.

Pada masa tuanya, Pakde No membuat keputusan yang di luar nurul. Saat berbuka di warung Yuk Nah, ia menceritakan niat yang jarang dimiliki orang. “Saya mau mewakafkan jenazah saya ketika meninggal dunia nanti,’ katanya dengan nada penuh bangga.

“Apa?” tanya Pakde Kliwon. Saya dan Pakde Kliwon Kami memandang ke arah Pakde No dengan decak tak percaya bersamaan. Tidak bagi Yuk Nah, Perempuan itu tampak asyik menyiapkan es teh untuk pelanggannya.

Baca Juga :  Rahasia di Balik Puasa Senin Kamis, Simak Lafadz Niatnya - MAJALAH NATAR AGUNG

“Sudah dirembug dengan keluarga?” tanyaku seolah hendak mencegah keputusannya itu.

“Tidak perlu rembugan,” suara Yuk Nah lantang menyalip bibir Pakde No yang sudah bergerak untuk mengeja kata-kata filosofisnya.

Yuk Nah menjelaskan, keputusan Pakde No sangat mulia. Dalam ilmu kedokteran wakaf jenazah itu disebut kadaver, mayat atau jenazah yang diperuntukkan untuk penelitian para guru besar dan juga para mahasiswa kedokteran. Sehingga mereka bisa melihat secara langsung tubuh manusia.

“Saya mendukung keputusan Pakde No. Saya akan membantu menjelaskan kepada keluarganya,” lanjut Yuk Nah berapi-api, sampai kompor yang kehabisan gas itu langsung menyala kembali.

Baca Juga :  Rihlah Bukan Sekadar Ganti Nama dari Wisata. Catatan kecil Gunawan Handoko *)

“Ya, ya, ya,” hanya itu yang keluar dari mulut Pakde No. Sebab wilayah penjelasannya sudah dihabisi sama Yuk Nah.

“Bagaimana nanti di alam barzah?” tanya Pakde Kliwon dengan sedikit ragu, khawatir diserang Yuk Nah.

“Memangnya nanti yang bangkit di akhirat tubuh fana ini?”

Meski kata-katanya bernada tanya, tetapi tiga laki-laki di warung itu memilih diam ketimbang gelas kopi dan pisang goreng kepok kuning ditarik dari meja warung. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini