CERMIN RETAK : Puasa Kenapa Pusing. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Saya sebenarnya sudah berniat sejak awal, memasuki bulan suci Ramadan akan menyepi otak dan jari. Saya ingin tak ikut-ikutan dalam berbagai persoalan di negeri ini. “Biarlah mereka-mereka saja yang ikutan ribut,” bisikku meyakinkan diri sendiri.

Niatku batal. Saat saya berbuka puasa di warung Yuk Nah, Pakde Kliwon menyodorkan banyak persiapan di tanah airku Indonesia. Yealah, kaya lagu patriotik yang kunyanyikan ketika masih menjadi anggota Pramuka.

“Bagaimana coba, masa sabu-sabu atau apapun namanya di gudang penyitaan bisa lenyap. Bahkan ada yang bilang karena tikus, dan cuaca ekstrem sehingga berubah jadi debu,” kata Kliwon bibirnya ndremimil, sampai tahu susurnya tumpah ruang dari mulutnya.

“Persoalan lainnya?” tanya Pakde No seperti sedang meniup bata di tungku sebelum teknologi kompor minyak, kompor gas, dan kompor listrik di temukan.

Baca Juga :  Suami Paling Menyedihkan di Dunia. 0leh : Mukhotib MD *)

“Bacalah media sosial, di sana banjir persoalan,” kata Pakde Kliwon merasa dikerjain.

“Ah, seperti bulan saja kau, bantulah kau bacakan itu media sosial,” sahut Pakde No sambil beringsut dari duduknya. Rupanya ia punya kepentingan mendekati pisang goreng. Sebagai santri tentu selalu ingat ajaran, jika hendak makan ambillah yang terdekat dari tempat dudukmu.

“Saya merasa rakyat benar-benar dibodohi. Puluhan tahun saya hidup, baru kali ini ada ribuan ton barang terlarang bisa lenyap begitu saja,” ujar Pakde Kliwon dengan nada protes sampai menggunakan dirin untuk bahan narasinya.

“Ya, kita tunggu saja, nanti kan akan ada klarifikasi untuk meminta maaf,” ujar Yuk Nah dengan nada lembut, dan penuh bijak memahami situasi.

Baca Juga :  Tips Anti Sinusitis dan Penyembuhan Tanpa Obat

Pakde Kliwon benar-benar sensi. Pembodohan rakyat enggak bisa dibenarkan. Semua seenak udelnya sendiri berbicara. Bahkan, apapun yang terjadi rakyat yang salah.

“Ingat kan guru honorer yang juga menjadi pendamping desa diperkarakan dan akan didenda ratusan juta itu?” Sebuah pertanyaan retoris yang sama sekali enggak perlu direspons dengan jawaban. Igauan sang aktivis tua yang kadang nglantur ke mana-mana.

“Sudahlah, saya sedang ingin menenangkan tubuh dan pikiran. Sana kalau kau mau diskusi buka debat publik. Kaya, saling tantang sang akademisi dan menteri,” kataku. Rasa lapar tiba-tiba minggat dari lambungku.

Yuk Nah kulihat enggak peduli dengan ucapanku. Ia selalu ada alasan untuk lepas dari jebakan diskusi dengan serius melayani pelanggannya. Padahal kalau dia sedang mau bicara, sambil mengaduk es teh juga nyerocos. Bahkan pernah ada, seorang pembeli minta ganti es teh yang baru. Pasalnya ia melihat dengan jelas semburan naga air yang masuk ke dalam gelas.

Baca Juga :  100 Hari Lampung Selatan Maju bersama Egi-Syaiful

Pakde Kliwon dan Pakde No menunduk, seakan sedang menghitung jari kakinya yang terasa tidak genap sepuluh jumlahnya.

Saya menyesal telah melepaskan dengan tanpa pengereman semua kata-kataku itu. Mereka semua sahabat baikku. Anak sekarang menyebutnya besty. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini