Bulan: Februari 2026

  • KKGO Kecamatan Natar Asah Kompetensi Guru PJOK Lewat In House Training

    KKGO Kecamatan Natar Asah Kompetensi Guru PJOK Lewat In House Training

    nataragung.id, Natar Komitmen meningkatkan kualitas pendidikan jasmani terus ditunjukkan Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Kecamatan Natar. Sebanyak 70 Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) se-Kecamatan Natar mengikuti kegiatan In House Training yang digelar pada Jumat, 31 Januari 2026, di Taman Wisata Banyu Langit, Kabupaten Pesawaran.

    Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para guru olahraga untuk memperdalam kompetensi profesional, khususnya dalam penanganan dini cedera olahraga—sebuah kemampuan krusial yang kerap dibutuhkan dalam aktivitas pembelajaran di lapangan.

    Untuk memastikan materi yang diberikan relevan dan aplikatif, KKGO Kecamatan Natar menghadirkan narasumber dari MCO Lampung, yang menyampaikan pembekalan berbasis praktik sesuai kondisi riil yang sering dihadapi guru PJOK di sekolah.

    Acara dibuka secara resmi oleh Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Natar, Marliyah, S.IP. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif KKGO Kecamatan Natar yang dinilai konsisten mendorong peningkatan kualitas dan profesionalisme guru olahraga.

    “Kegiatan seperti ini sangat penting, karena guru PJOK memiliki peran strategis dalam menjaga keselamatan dan kesehatan peserta didik saat berolahraga,” ujar Marliyah.

    In House Training ini diketuai oleh Fauzan, S.Pd selaku Ketua Pelaksana, dengan May Hendriyani, S.Pd sebagai Ketua KKGO Kecamatan Natar. Selain fokus pada peningkatan kompetensi teknis, kegiatan juga diperkaya dengan sesi Character Building yang dipandu oleh Adam Abdullah dan tim.

    Sesi tersebut dirancang untuk menumbuhkan kekompakan, kebersamaan, serta kerja sama tim, sehingga para guru tidak hanya unggul secara individu, tetapi juga solid dalam kolaborasi.

    Melalui kegiatan ini, KKGO Kecamatan Natar berharap para guru PJOK semakin profesional, responsif, dan memiliki semangat kolektif yang kuat dalam mendukung kemajuan pendidikan jasmani dan olahraga di Kecamatan Natar. (SN)

  • Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 5 – GENERASI MUDA DAN BUDAYA, ANTARA TRADISI DAN MODERNITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 5 – GENERASI MUDA DAN BUDAYA, ANTARA TRADISI DAN MODERNITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kafe di Bandar Lampung, tiga sahabat sedang berkumpul. Raya, mahasiswa arsitektur, asyik memperlihatkan desain rumah modernnya di tablet. Galih, yang baru pulang dari Jakarta, bercerita tentang ritme kerja di perusahaan multinasional. Sementara Dira, yang baru saja membantu orang tuanya di kampung menggelar begawi, terdiam memandang gelasnya.
    “Aku merasa seperti terbelah,” ujar Dira tiba-tiba. “Di kampus, aku harus bicara tentang algoritma dan tren global. Tapi di kampung, tanganku masih ingat cara menyematkan tapis, dan telingaku masih paham jika nenek melantunkan hadis munjung. Kadang, dua dunia itu terasa begitu jauh.”
    “Lalu, dunia mana yang harus kita pilih?” tanya Raya.
    “Atau, bisakah dua dunia itu bertemu?” tambah Galih.

    Percakapan mereka adalah percerminan dari kebingungan ribuan pemuda Lampung. Di satu sisi, ada tarikan kuat modernitas yang menjanjikan kemajuan. Di sisi lain, ada desakan halus tradisi yang menuntut pelestarian. Di tengah tarik-ulik ini, di manakah peran negara?

    Generasi muda bukanlah ruang kosong yang pasif. Mereka adalah medan pertempuran ide, nilai, dan identitas. Dalam konteks budaya Lampung, mereka adalah penerima warisan sekaligus pembentuk masa depan budaya itu sendiri.
    Namun, ada jurang yang menganga. Warisan budaya yang diterima seringkali terasa sebagai beban kewajiban, bukan aset yang menginspirasi. Upacara adat dirasakan kaku, bahasa dianggap kurang gaul, dan filosofi hidup dipandang ketinggalan zaman. Ini terjadi karena adanya kesenjangan makna.

    Sebuah pepatah Lampung kuno dari naskah Kuntara Raja Niti mengatakan: “Anak udeh jama kakah, kakah ngakuk pekekuk anak.” Artinya: “Anak menjaga orang tua, orang tua menjaga pegangan anak.” Makna mendalam dari pepatah ini adalah tentang siklus tanggung jawab timbal balik dan transmisi pengetahuan.
    “Pegangan” (pekekuk) di sini bukan hanya harta benda, tetapi nilai, keterampilan, dan pedoman hidup (adat). Orang tua (generasi tua/penjaga adat) bertugas memberikan “pegangan” yang kokoh dan relevan. Anak (generasi muda) bertugas menjaga pemberian itu dengan cara mereka, mungkin dengan memperbarui “cara memegangnya”, bukan menelantarkannya. Krisis terjadi ketika “pegangan” yang diberikan terasa tidak sesuai dengan medan kehidupan yang dihadapi anak, sementara anak tak diberi ruang untuk menafsir ulang “pegangan” tersebut.
    Dua kekuatan ini adalah pendorong utama pergeseran sikap generasi muda.
    1. Urbanisasi, Terputusnya Akar Konkret
    Banyak pemuda Lampung merantau ke kota atau ibukota provinsi. Di sana, mereka hidup sebagai individu, bukan lagi sebagai bagian dari jurai (marga) dan bebai (keluarga besar). Ikatan sosial berubah dari komunal menjadi kontraktual. Nilai seperti sakai sambayan (gotong royong) sulit dipraktikkan di apartemen yang individualis. Mereka menjadi “orang Lampung” yang abstrak, kehilangan konteks desa dan komunitas dimana adat itu hidup dan bernafas.

    2. Globalisasi, Banjir Pilihan Identitas
    Melalui internet, pemuda Lampung hari ini adalah warga dunia. Mereka bisa mengadopsi gaya hidup K-Pop, selera film Hollywood, atau pemikiran filsuf Barat. Identitas budaya menjadi pilihan, bukan takdir. Di tengah lautan pilihan yang menarik ini, identitas Lampung harus bersaing. Jika ia hanya ditawarkan dalam bentuk ritual yang mahal, bahasa yang rumit, dan aturan yang ketat tanpa penjelasan makna, ia akan kalah. Generasi muda akan memilih identitas yang memberi mereka kebanggaan, kegunaan, dan kecocokan dengan aspirasi masa depan mereka.
    Inilah tantangan sekaligus peluang terbesar. Tradisi bukanlah benda museum yang beku. Filosofi hidup Lampung, Piil Pesenggiri, sebenarnya sangat lentur dan relevan.
    * Nemui Nyimah (Keramahan): Bisa diterjemahkan menjadi etika jejaring (networking) yang tulus di dunia kerja dan media sosial, bukan sekadar menyambut tamu.
    * Nengah Nyappur (Keterbukaan): Bisa menjadi modal sosial untuk kolaborasi lintas bidang dan budaya, membuka wawasan tanpa kehilangan jati diri.
    * Sakai Sambayan (Gotong Royong): Bisa dimaknai sebagai semangat komunitas kreatif, membangun startup, atau gerakan sosial bersama.
    * Juluk Adok (Harga Diri dan Tata Krama): Bisa menjadi personal branding yang berintegritas, di mana prestasi diraih dengan cara terhormat.
    * Piil Pesenggiri Inti: Adalah ketahanan mental (mental toughness) untuk tidak mudah tergerus arus, menjaga prinsip, dan berkontribusi pada masyarakat.

    Legenda Muliq Khani, tokoh penyebar Islam di Lampung, memberikan contoh baik. Beliau tidak menghancurkan tradisi lama, tetapi mengisinya dengan makna baru yang selaras dengan zaman. Ini disebut akulturasi kreatif. Inilah yang perlu dilakukan generasi muda: menjadi Muliq Khani masa kini.
    Judul serial ini kembali menohok. Pemerintah sering dianggap gagal menjadi jembatan. Kebijakan kebudayaan kerap:
    1. Bersifat Seremonial: Fokus pada festival dan lomba yang bersifat insidental, bukan pada pembangunan ekosistem budaya yang berkelanjutan.
    2. Melupakan Medium Generasi Muda: Sangat sedikit konten kreatif (game, komik web, series, musik pop) yang didanai atau difasilitasi pemerintah yang mengangkat nilai-nilai Lampung dengan bahasa kekinian.
    3. Tidak Melibatkan Pemuda sebagai Subjek: Pemuda hanya jadi peserta atau penonton, bukan perancang. Ruang dialog antargenerasi tentang masa depan adat hampir tidak ada.
    4. Abai terhadap Konteks Perkotaan: Tidak ada program yang dirancang khusus untuk memfasilitasi komunitas pemuda perantau Lampung di kota-kota besar agar bisa tetap terhubung dan berkontribusi pada budayanya.

    Akibatnya, generasi muda merasa tradisi adalah urusan “dinas kebudayaan” dan “tetua adat”, bukan urusan mereka. Mereka ditinggalkan berenang sendiri di antara dua dunia.
    Masa depan budaya Lampung tidak ditentukan oleh seberapa banyak anak muda yang bisa menari cangget, tetapi oleh seberapa banyak anak muda yang memahami filosofi di balik gerakan tari itu dan mampu menerjemahkannya dalam bidang mereka masing-masing: sebagai programmer yang berintegritas (Piil Pesenggiri), desainer yang kolaboratif (Sakai Sambayan), atau entrepreneur yang menjunjung tinggi etika (Juluk Adek).
    Pemerintah harus membuka mata dan berubah peran: dari pengawas budaya menjadi fasilitator inovasi budaya. Memberi ruang, dana, dan kepercayaan pada anak-anak muda kreatif untuk menafsir ulang warisan leluhur.
    Generasi muda Lampung tidak perlu memilih antara tradisi atau modernitas. Tugas mereka adalah menciptakan tradisi yang modern dan modernitas yang berakar. Dengan begitu, mereka tidak akan menjadi generasi yang kehilangan arah, tetapi menjadi generasi yang memberi arah baru bagi “Sai Bumi Ruwai Jurai” di pentas global. Ini adalah wujud nyata dari Pancasila: memajukan peradaban dengan berakar pada kebudayaan bangsa sendiri.

    Sumber Referensi Terverifikasi:
    1. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transkripsi koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung. (Dokumen digital/fisik).
    2. Amalia, D. (2020). Identitas Budaya Generasi Muda Lampung di Era Digital. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2). (Artikel ilmiah digital terverifikasi).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung

  • MUTIARA PAGI : Keragaman Metode Dakwah adalah Jalan Para Nabi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Keragaman Metode Dakwah adalah Jalan Para Nabi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Keragaman cara dalam berdakwah kepada kebenaran merupakan manhaj yang ditempuh oleh para nabi dan rasul. Mereka tidak terpaku pada satu metode, tetapi menyesuaikan pendekatan dengan kondisi, waktu, dan keadaan umat yang dihadapi. Hal ini tampak jelas dalam kisah dakwah Nabi Nuh alaihis salam.

    Nabi Nuh mengadu kepada Allah tentang kesungguhannya dalam menyampaikan risalah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

    قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

    “Dia (Nuh) berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.’” (QS. Nūḥ: 5)

    Ayat ini menunjukkan keistiqamahan Nabi Nuh dalam berdakwah. Beliau tidak membatasi dakwah pada waktu tertentu, tetapi terus mengajak kaumnya kepada kebenaran, baik di waktu siang maupun malam, tanpa lelah dan tanpa putus asa.

    Lebih lanjut, Nabi Nuh menjelaskan variasi metode dakwah yang beliau gunakan:

    ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا ۝ ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

    “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan, kemudian aku menyampaikan kepada mereka secara terbuka dan juga secara sembunyi-sembunyi.” (QS. Nūḥ: 8–9)

    Dalam ayat ini terlihat jelas bahwa Nabi Nuh menggunakan berbagai pendekatan: dakwah secara terbuka di hadapan orang banyak, dan dakwah secara personal dengan penuh kelembutan. Semua cara itu beliau tempuh agar kebenaran dapat diterima dan tidak ada alasan bagi kaumnya untuk menolak ajakan kepada tauhid.

    Narasi ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang hikmah dalam memilih cara. Keragaman metode dakwah adalah sunnah para nabi, dan menjadi pelajaran penting bagi setiap pendakwah agar bijak, sabar, dan tidak mudah berputus asa dalam mengajak manusia menuju jalan Allah.(KIS/163).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.