Bulan: Februari 2026

  • Bunuh Media Lewat Amerika, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI): Desak DPR Berpihak Kepada Rakyat

    Bunuh Media Lewat Amerika, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI): Desak DPR Berpihak Kepada Rakyat

    nataragung.id – Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI diminta bisa berpihak pada rakyat dengan menolak memberi persetujuan pada perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika.

    Hal itu disampaikan Ketua Umum AJI, Nany Afrida dalam pernyataan sikap yang diedarkan kepada awak media, Jumat (27/02/2026).

    Menurut Nany, perjanjian ART yang disepakati Prabowo dan Donald Trump pertengahan Februari lalu merupakan lonceng kematian bagi pers Indonesia. Indikatornya, terdapat pada poin yang sangat merugikan bagi ekosistem media.

    “Ada 2 artikel (poin) penting di ART yang sangat berpengaruh bagi pers Indonesia,” ungkap Nany.

    Ia menyebutkan perjanjian ini memperbolehkan investor asing (Amerika Serikat) untuk dapat memiliki modal 100 persen pada Televisi, Radio maupun bentuk media lainnya.

    Terbukanya kepemilikan asing 100 persen pada media, menurut Nany sebenarnya melawan UU Pers no 40/1999 dan UU Penyiaran no 32/2002.

    Pada UU Pers pasal 11 menyebutkan: penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal. “Pada penjelasannya ditekankan agar modal asing tidak menguasai mayoritas,” ujar Nany.

    Sementara di UU Penyiaran pasal 17 ayat 2 menyebutkan Lembaga Penyiaran Swasta dapat melakukan penambahan dan pengembangan dalam rangka pemenuhan modal yang berasal dari modal asing. Jumlahnya tidak lebih dari 20% (dua puluh per seratus) dari seluruh modal dan minimum dimiliki oleh 2 (dua) pemegang saham.

    Dengan dibukanya modal asing bisa mencapai 100 persen untuk media, TV dan Radio, media-media Indonesia akan berkompetisi bebas dengan media yang mendapatkan modal asing (mayoritas).

    “Dengan kondisi media yang ‘tidak baik-baik’ saja, tentu ini lonceng kematian,” ujar Nany.

    Sementara itu, pada pasal yang lain, menyatakan larangan bagi Indonesia membuat aturan kewajiban platform digital untuk mendukung media.

    Nany mengatakan manakala dua pasal ART diberlakukan kematian pers Indonesia tinggal tunggu waktu. Dampak langsung akan dialami para pekerja media, termasuk jurnalis. Perampingan, PHK massal akan terus terjadi.

    “Pemberlakuan ART ini akan memperbanyak jurnalis maupun pekerja media yang alami PHK,” katanya

    Pada sisi lain, independensi media pun terancam. Jika perusahaan media tidak mendapatkan pendapatan iklan digital yang adil, kecenderungan banyak media kemudian mengandalkan kerja sama dengan lembaga pemerintah yang memiliki APBN/APBD.

    Praktik selama ini, kata Nany, jika media sangat tergantung pada kerja sama APBN/APBD maka ruang redaksi sulit independen.

    Menurut Nany, AJI Indonesia menilai perjanjian ATR merupakan upaya membunuh pers Indonesia. Dengan begitu, secara langsung mengancam kebebasan pers.

    Setelah perjanjian ini, ancaman kebebasan pers Indonesia, tidak hanya muncul dari intimidasi atau serangan kekerasan pada jurnalis dan media. Namun, membunuh ruang bisnis media sebagai modus menghilangkan kebebasan pers.

    “Media mungkin tetap ada, tetapi yang hidup adalah media-media partisan,” ungkap Nany.

    AJI Indonesia mendesak Prabowo membatalkan seluruh Agreement on Reciprocal Trade dengan Amerika Serikat. “Penolakan terhadap perjanjian ini tidak hanya dari kalangan pers, tetapi juga banyak sektor lain,” ujar Nany. (MMD).

    Keterangan foto : Nany Afrida, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia./Foto: Dokumen AJI Indonesia

  • Ketukan Malaikat Maut di Pintu Solo, Antara Satir Politik Setan dan Batas Kemanusiaan. Oleh : Pepih Nugraha *)

    Ketukan Malaikat Maut di Pintu Solo, Antara Satir Politik Setan dan Batas Kemanusiaan. Oleh : Pepih Nugraha *)

    nataragung.id – Jakarta – Paradigma lama mencatat bahwa politik seringkali dimaknakan sebagai seni mengolah kata. Namun, di era layar sentuh hari ini, ia bergeser menjadi seni mengolah gambar menggunakan kecerdasan buatan. Gambar apapun bisa diminta siapapun, oleh mereka yang ketakutan termasuk orang kerasukan setan.

    Ketika Mohamad Guntur Romli, seorang politikus PDIP, mengunggah siluet “Malaikat Maut” yang berdiri di depan sebuah pintu kayu dengan takarir (caption) “Tembok Ratapan Solo,” kita sebenarnya sedang diajak menyaksikan sebuah drama komunikasi yang lebih dari sekadar sindiran, melainkan kutukan.

    Politikus banteng ini seolah-olah meminjam hak prerogatif Tuhan untuk segera mencabut nyawa pemilik rumah yang memang sakit-sakitan. Lewat gambar malaikat maut itu sang politikus hendak mengabarkan bahwa nyawa mantan petugas partainya itu hanya tersisa dalam hitungan detik saja.

    Secara visual, gambar itu lugas. Sesosok tengkorak berjubah hitam, memegang sabit besar, sedang mengetuk pintu. Dia bukan gambaran malaikat pencabut nyawa yang tak pantas mencabut nyawa orang Solo yang satu ini, melainkan sosok lain yang lebih menyeramkan.

    Dalam semesta metafora, pintu di “Solo” itu adalah simbol yang sangat spesifik merujuk pada kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Pesannya gelap, suram, dan —jika kita jujur pada nurani— terasa begitu dingin. Malaikat pun tidak digambarkan sebagai tengkorak sadis semacam itu, tetap hanya sebangsa setan sajalah yang pantas mencabut nyawa Jokowi. Demikian pesan yang ingin disampaikannya. Luar biasa nista!

    Inilah etika yang terkikis ambisi dan dendam yang termanifestasikan dalam segala tindakan, konyol dan hina sekalipun.

    Dalam tradisi ketimuran yang kita agungkan, mendoakan kesembuhan bagi yang sakit adalah kewajiban moral, melampaui sekat ideologi. Bahkan terhadap lawan politik yang paling sengit sekalipun, kematian dan kesakitan bukanlah komoditas untuk dijadikan bahan olok-olok atau perayaan visual.

    Ketika seorang politikus menggunakan simbol maut untuk menyerang lawan, ia sebenarnya sedang menelanjangi kualitas empati di dalam dirinya, terlebih lagi dalam partainya. Rakyat, yang sering dianggap “tidak mengerti politik,” sebenarnya memiliki sensor yang sangat peka terhadap kesantunan. Mereka bisa memaafkan perbedaan kebijakan, tapi mereka sulit melupakan hilangnya adab.

    Apakah ini etis? Secara religius maupun humanis, jawabannya jelas: Kita tidak pernah diajarkan untuk merayakan jemputan maut bagi sesama!

    Tanpa harus menunggu bisik tetangga, secara personal saya berkata lirih, “Politik tanpa kemanusiaan hanyalah bangkai yang diperebutkan oleh mereka yang lupa bahwa kekuasaan itu fana, sementara jejak kebencian bersifat abadi.”

    PDIP, sebagai partai dengan sejarah panjang perjuangan wong cilik, tentu mempertaruhkan banyak hal melalui narasi-narasi seperti ini. Jika tujuannya adalah untuk mendiskreditkan lawan, yang terjadi justru seringkali sebaliknya. Simpati seringkali mengalir kepada mereka yang “dizalimi” secara verbal maupun simbolis.

    Kalau itu yang terjadi, tak diragukan lagi PDIP tunasejarah. Ia lupa pada peristiwa menyakitkan di mana SBY mempecundangi seorang Megawati Soekarnoputri dua kali hanya karena ucapan suaminya yang terkesan menzalimi. Kini dalam skala berbeda diteruskan oleh Guntur Romli.

    Alih-alih membuat rakyat setuju, konten seperti ini justru bisa memicu rasa muak. Rakyat hari ini merindukan perdebatan gagasan tentang harga beras atau lapangan kerja, bukan visualisasi tentang kapan nyawa seseorang akan dicabut.

    Jika terus dibiarkan, narasi “kematian” ini bisa menjadi bumerang yang menghantam balik elektabilitas partai, mengubah amunisi menjadi lubang kubur bagi simpati publik itu sendiri.

    Mungkin sebagian publik sibuk berdebat apakah foto itu pantas atau tidak. Sibuk menganalisis apakah itu doa buruk atau sekadar satir pedas. Atau menghakimi si pengunggah gambar dan membela si pemilik pintu.

    Namun, ada satu hal yang luput dari kesadaran kita semua saat menatap gambar tersebut: Malaikat maut itu tidak pernah salah alamat, dan ia tidak pernah butuh navigasi politik untuk menentukan pintu mana yang akan diketuknya lebih dulu.

    Hari ini mungkin pintu di Solo yang digambarkan, tapi esok lusa, sabit yang sama bisa jadi sedang bersiap mengetuk pintu rumah sang politikus itu sendiri di kandang Banteng —atau pintu rumah kita— tanpa perlu menunggu jadwal pemilu atau persetujuan partai.

    Di hadapan maut, kita semua hanyalah barisan antrean yang tidak punya hak untuk saling mendahului dalam doa keburukan atau dengan kata lain kutukan, terlebih lagi dalam hasrat politik yang dipaksakan. (*)

    *) ✍️ Owner and Founder Pepnews

  • CERMIN RETAK : Puasa Kenapa Pusing. Oleh : Mukhotib MD *)

    CERMIN RETAK : Puasa Kenapa Pusing. Oleh : Mukhotib MD *)

    nataragung.id – Yogyakarta – Saya sebenarnya sudah berniat sejak awal, memasuki bulan suci Ramadan akan menyepi otak dan jari. Saya ingin tak ikut-ikutan dalam berbagai persoalan di negeri ini. “Biarlah mereka-mereka saja yang ikutan ribut,” bisikku meyakinkan diri sendiri.

    Niatku batal. Saat saya berbuka puasa di warung Yuk Nah, Pakde Kliwon menyodorkan banyak persiapan di tanah airku Indonesia. Yealah, kaya lagu patriotik yang kunyanyikan ketika masih menjadi anggota Pramuka.

    “Bagaimana coba, masa sabu-sabu atau apapun namanya di gudang penyitaan bisa lenyap. Bahkan ada yang bilang karena tikus, dan cuaca ekstrem sehingga berubah jadi debu,” kata Kliwon bibirnya ndremimil, sampai tahu susurnya tumpah ruang dari mulutnya.

    “Persoalan lainnya?” tanya Pakde No seperti sedang meniup bata di tungku sebelum teknologi kompor minyak, kompor gas, dan kompor listrik di temukan.

    “Bacalah media sosial, di sana banjir persoalan,” kata Pakde Kliwon merasa dikerjain.

    “Ah, seperti bulan saja kau, bantulah kau bacakan itu media sosial,” sahut Pakde No sambil beringsut dari duduknya. Rupanya ia punya kepentingan mendekati pisang goreng. Sebagai santri tentu selalu ingat ajaran, jika hendak makan ambillah yang terdekat dari tempat dudukmu.

    “Saya merasa rakyat benar-benar dibodohi. Puluhan tahun saya hidup, baru kali ini ada ribuan ton barang terlarang bisa lenyap begitu saja,” ujar Pakde Kliwon dengan nada protes sampai menggunakan dirin untuk bahan narasinya.

    “Ya, kita tunggu saja, nanti kan akan ada klarifikasi untuk meminta maaf,” ujar Yuk Nah dengan nada lembut, dan penuh bijak memahami situasi.

    Pakde Kliwon benar-benar sensi. Pembodohan rakyat enggak bisa dibenarkan. Semua seenak udelnya sendiri berbicara. Bahkan, apapun yang terjadi rakyat yang salah.

    “Ingat kan guru honorer yang juga menjadi pendamping desa diperkarakan dan akan didenda ratusan juta itu?” Sebuah pertanyaan retoris yang sama sekali enggak perlu direspons dengan jawaban. Igauan sang aktivis tua yang kadang nglantur ke mana-mana.

    “Sudahlah, saya sedang ingin menenangkan tubuh dan pikiran. Sana kalau kau mau diskusi buka debat publik. Kaya, saling tantang sang akademisi dan menteri,” kataku. Rasa lapar tiba-tiba minggat dari lambungku.

    Yuk Nah kulihat enggak peduli dengan ucapanku. Ia selalu ada alasan untuk lepas dari jebakan diskusi dengan serius melayani pelanggannya. Padahal kalau dia sedang mau bicara, sambil mengaduk es teh juga nyerocos. Bahkan pernah ada, seorang pembeli minta ganti es teh yang baru. Pasalnya ia melihat dengan jelas semburan naga air yang masuk ke dalam gelas.

    Pakde Kliwon dan Pakde No menunduk, seakan sedang menghitung jari kakinya yang terasa tidak genap sepuluh jumlahnya.

    Saya menyesal telah melepaskan dengan tanpa pengereman semua kata-kataku itu. Mereka semua sahabat baikku. Anak sekarang menyebutnya besty. (*)

    *) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

  • Dorong Peningkatan Infrastruktur Jalan, Bupati Pesawaran Dampingi Gubernur  Tinjau Ruas Jalan Provinsi

    Dorong Peningkatan Infrastruktur Jalan, Bupati Pesawaran Dampingi Gubernur  Tinjau Ruas Jalan Provinsi

    nataragung.id – Pesawaran — Bupati Pesawaran, Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M., mendampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam agenda peninjauan sejumlah ruas jalan provinsi di wilayah Kabupaten Pesawaran, Sabtu (28/2/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan kondisi infrastruktur jalan tetap terjaga serta mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

    Peninjauan difokuskan pada sejumlah titik strategis, di antaranya ruas Jalan Gedong Tataan–Kedondong (sebelum Komplek Pemkab Pesawaran), ruas jalan  Kecamatan Kedondong, Way Khilau, hingga jalur penghubung Branti – Gedong Tataan.

    Dalam kesempatan itu, Bupati Nanda menyampaikan terima kasih atas perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap kondisi infrastruktur di Pesawaran. Bupati menilai bahwa semua ruas jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan mobilitas masyarakat lintas kabupaten, yakni Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus.

    “Kami berharap kemantapan jalan ini dapat terus ditingkatkan, sehingga akses distribusi barang dan mobilitas warga semakin lancar. Jalan ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat,” ujar Bupati.

     

    Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyebut bahwa Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen dalam mendukung peningkatan infrastruktur di Pesawaran. Sebab, kondisi jalan yang mantap tidak hanya berdampak pada kelancaran arus barang dan jasa, tetapi juga berpengaruh terhadap keselamatan pengguna jalan serta efisiensi waktu tempuh masyarakat.

    Selain peningkatan badan jalan, Gubernur juga menekankan pentingnya pembangunan drainase di sepanjang ruas yang diperbaiki agar konstruksi lebih tahan lama dan tidak mudah rusak akibat genangan air.

    “Untuk itu saya turut mengimbau kepada masyarakat untuk turut menjaga kebersihan saluran drainase demi keberlanjutan fungsi infrastruktur,” kata Gubernur.

    Adapun rincian penanganan meliputi perbaikan ruas Gedong Tataan–Kedondong dengan rincian 100 meter rigid beton dan 800 meter hotmix. Kemudian ruas Simpang Kedondong–Pardasuka, Desa Kubu Batu–Kota Jawa Kecamatan Way Khilau, dengan penanganan 80 meter rigid beton dan 1,1 kilometer hotmix. Selain itu, perbaikan juga dilakukan pada ruas Branti–Gedong Tataan sepanjang 1,2 kilometer hotmix.

    Seluruh pengerjaan dijadwalkan dilaksanakan pasca Hari Raya Idul Fitri, termasuk pembangunan drainase pada titik-titik prioritas. Sementara itu, jalan berlubang lainnya akan ditangani melalui alokasi dana pemeliharaan Pemerintah Provinsi Lampung sebelum musim mudik lebaran mendatang.

    Melalui sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten, peningkatan kualitas infrastruktur jalan di Pesawaran diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi konektivitas wilayah serta kesejahteraan masyarakat. (*/Diah)

  • Ruang Penyaluran Kredit Terbuka, Destry Damayanti: Dorong Pertumbuhan Ekonomi

    Ruang Penyaluran Kredit Terbuka, Destry Damayanti: Dorong Pertumbuhan Ekonomi

    nataragung.id – Jakarta – Saat ini sedang berada dalam ketidakpastian global yang tinggi, dan fragmentasi ekonomi dunia semakin kompleks.

    Namun, sistem keuangan Indonesia tetap dalam kondisi kuat dan stabil. Ketahanan perbankan dan industri keuangan terjaga, likuiditas memadai, dan ruang penyaluran kredit terbuka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

    Demikian disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam peluncuran buku Kajian Stabilitias Keuangan No. 46 edisi Februari 2026 (KSK 26) di Bank Indonesia, Jakarta Jumat, (27/2).

    Hadir dalam peluncuran, antara lain Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan para pimpinan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan, industri keuangan nonbank, dan akademisi.

    Pertumbuhan kredit sebesar 9,69% (yoy) pada Desember 2025, terutama mengalir ke sektor prioritas Pemerintah, ikut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% (yoy) sepanjang 2025. Peluang ekonomi untuk tumbuh lebih tinggi terbuka. Terlebih didukung ketersediaan likuiditas perbankan cukup memadai.

    “Pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari plafon kredit yang tersedia dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi,” kata Destry.

    Ia mengatakan Bank Indonesia mengimbau perbankan terus menyesuaikan special rate guna mendorong penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat, sehingga intermediasi berjalan semakin kuat.

    Intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12% (yoy). Ini sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96% (yoy).
    Lebih lanjut, Destry menyampaikan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Bank Indonesia telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking) guna memastikan kecukupan likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas Pemerintah. Sampai minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif sebesar Rp427,5 triliun.

    Ia juga menekankan perlunya sinergi antarlembaga dalam mendorong pertumbuhan kredit dan mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan, sehingga transmisi kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan roda perekonomian bergerak lebih cepat.

    Bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk penguatan KLM berorientasi ke depan, diarahkan untuk menyediakan kecukupan likuiditas serta mengakselerasi penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.

    “Sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam kerangka KSSK menjadi kunci dalam membangun optimisme dan keyakinan, ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan,” ungkapnya.

    Dalam Buku KSK No.46 dengan tajuk Mengakselerasi Intermediasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, sedang menggambarkan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap kuat meski dalam ketidakpastian global.

    Kondisi ini karena adanya topangan ketahanan perbankan, industri keuangan nonbank, dan kinerja korporasi dan rumah tangga yang terjaga.
    Buku ini bisa menjadi referensi strategis bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat luas.

    Selain itu, menjadi momentum membangun ekspektasi positif, khususnya bagi dunia usaha dalam kondisi sistem keuangan yang berdaya tahan dan tumbuh tinggi. (MMD)

    Keterangan foto : Suasana peluncuran buku Kajian Stabilitias Keuangan No. 46 edisi Februari 2026 (KSK 26) di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, (27/02/2026)

  • Why Lucky Hills Casino is Perfect for Casual Gamblers?

    Lucky Hills Casino is an excellent option for casual gamblers seeking a straightforward and enjoyable online gaming experience. This platform has effectively carved out a niche for itself in the online gambling landscape, focusing on accessibility and user-friendly features. With an array of games catering to various preferences, players can explore their favorites effortlessly at https://luckyhillscasino1.com/.

    Diverse Gaming Catalog

    One of the standout features of Lucky Hills Casino is its extensive gaming catalog. The platform offers a balanced mix of slots, table games, and live dealer options, ensuring that every player finds something to enjoy. With titles from reputable software providers, the quality of games is consistently high.

    • Slots: Ranging from classic fruit machines to the latest video slots.
    • Table Games: Includes variations of blackjack, roulette, and baccarat.
    • Live Casino: Experience an immersive gaming atmosphere with live dealers.

    Bonuses and Promotions

    Lucky Hills Casino has structured an appealing bonus system designed specifically for casual players. New users are welcomed with attractive sign-up bonuses, while existing players benefit from ongoing promotions that enhance their gaming experience. The terms for these bonuses are straightforward, making it easier for players to understand how to make the most of their rewards.

    Bonus Type Details Wagering Requirements
    Welcome Bonus 100% match on first deposit up to $200 30x
    Weekly Reload 50% bonus up to $100 on re-deposits 25x

    User-Friendly Experience

    The design of Lucky Hills Casino prioritizes user experience, making navigation uncomplicated for both new and returning players. The website is mobile-optimized, allowing for seamless gameplay from various devices. Players can easily locate their favorite games and manage their accounts without hassle.

    Additionally, the site offers multiple customer support channels, ensuring that help is readily available. Players can reach out via live chat or email for prompt assistance, which adds an extra layer of convenience.

    FAQ

    Is Lucky Hills Casino safe to play at?

    Yes, Lucky Hills Casino operates under a valid license and utilizes advanced security measures to protect player data.

    What games can I find at Lucky Hills Casino?

    The casino features a wide variety of slots, table games, and live dealer options, catering to diverse gaming preferences.

    Are there any bonuses for new players?

    New players can take advantage of a generous welcome bonus that includes a 100% match on their first deposit.

  • Akhirnya Mulus! Jalan Babatan-Simpang Bayur yang Bertahun-tahun Rusak Kini Resmi Dibuka

    Akhirnya Mulus! Jalan Babatan-Simpang Bayur yang Bertahun-tahun Rusak Kini Resmi Dibuka

    nataragung.id – Katibung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan meresmikan peningkatan ruas Jalan Babatan-Umbul Bayur (R127) hingga Jalan Tanjungan-Neglasari (R136) di Kecamatan Katibung, Jumat (27/2/2026) sore.

    Ruas Babatan-Simpang Bayur sepanjang kurang lebih 850 meter yang sebelumnya rusak dan berlubang, kini resmi dibuka dan dapat digunakan masyarakat.

    Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, sekitar pukul 17.32 WIB. Dengan mengucap basmalah, ia menandai beroperasinya akses jalan tersebut sebagai bagian dari upaya peningkatan infrastruktur dasar di wilayah itu.

    “Alhamdulillah pada hari ini, tepat di hari Jumat pukul 17.32, ruas jalan Babatan-Simpang Bayur kurang lebih sepanjang 850 meter sudah selesai dikerjakan. Bismillah ini bisa memberikan dampak baik untuk masyarakat dan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Egi.

    Sebelum diperbaiki, kondisi jalan tersebut dikeluhkan warga karena berlubang dan bergelombang. Kerusakan bahkan disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin parah dalam tiga hingga empat bulan terakhir. Kondisi itu kerap menyulitkan aktivitas harian, baik bagi pengendara roda dua maupun roda empat.

    Desi (40), salah satu warga yang hadir dalam peresmian, mengaku bersyukur atas pembangunan tersebut.

    “Terima kasih Pak Bupati Egi, jalannya sudah diperbaiki, sekarang sudah bagus sekali. Dulu rusak berlubang bertahun-tahun, sekarang lewat jadi enak,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan warga lainnya yang merasakan langsung perubahan kondisi akses transportasi di wilayah tersebut. Dengan jalan yang lebih mulus, mobilitas warga menjadi lebih nyaman dan aman.

    Meski demikian, sejumlah warga juga menyampaikan harapan agar pemerintah daerah turut memperhatikan persoalan drainase di sekitar jalan.

    Mereka mengeluhkan saluran air dan talud yang dinilai kurang memadai, sehingga saat hujan deras kerap terjadi genangan bahkan banjir.

    “Ada satu keluhan, kalau hujan deras banjir. Got-got ini tolong diperbaiki biar airnya lancar. Kayaknya kurang tinggi atau bahkan tidak ada salurannya. Kami minta solusi untuk masyarakat Tanjung Ratu,” kata warga lainnya.

    Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Egi meminta masyarakat bersama-sama menjaga infrastruktur yang telah dibangun serta menyampaikan bahwa masukan warga akan menjadi perhatian pemerintah daerah.

    “Dengan bismillahirrahmanirrahim, jalannya saya resmikan. Terima kasih, tolong dijaga aksesnya, mohon dijaga bersama-sama supaya apa yang sudah dibangun oleh pemerintah bisa awet dan panjang umurnya. Titip aset ini,” pesannya.

    Peningkatan ruas jalan di Kecamatan Katibung ini diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Peresmian tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemkab Lampung Selatan dalam memperbaiki infrastruktur dasar yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. (mara)

  • Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Malam Sunyi dan Muhasabah Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Malam Sunyi dan Muhasabah Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Buku ini ditulis sebagai rangkaian kisah fiksi tradisional yang berkelindan dengan sejarah, adat, dan nilai spiritual masyarakat adat Lampung. Ramadhan dipahami bukan semata sebagai bulan ibadah ritual, melainkan sebagai ruang muhasabah kolektif yang telah lama hidup dalam kesadaran adat. Malam sunyi di bulan Ramadhan menjadi waktu paling sakral untuk menimbang diri, mengingat asal-usul, serta menautkan manusia Lampung dengan leluhur dan Sang Pencipta.
    Naskah ini disusun dengan pendekatan cerita rakyat sejarah, memadukan legenda, silsilah marga, kutipan naskah adat, serta analisis filosofis yang bertumpu pada kehidupan nyata masyarakat Lampung.

    Di sebuah pekon tua yang terletak di kaki gunung dan menghadap laut, hiduplah seorang anak lelaki bernama Pangeran Laga. Setiap malam Ramadhan, ketika suara alam mulai mereda dan hanya desir angin yang terdengar, ia duduk di balai bambu sambil menatap siger tua yang tergantung di rumah penyimbang.
    Orang-orang telah usai berbuka dan tarawih. Lampu minyak menyala redup. Kampung tenggelam dalam kesunyian yang bukan sepi, melainkan penuh makna. Kakeknya, seorang penyimbang adat Saibatin, sering berkata bahwa malam Ramadhan adalah waktu leluhur paling dekat dengan anak cucunya.
    “Di malam sunyi, orang Lampung belajar mendengar suara hatinya sendiri,” ucap sang kakek.

    Suatu malam, Pangeran Laga diminta membuka gulungan kulit kayu bertuliskan aksara Lampung kuno. Naskah itu berisi petuah adat tentang laku hidup, puasa, dan harga diri. Dari sinilah kisah muhasabah adat dan Ramadhan bermula.
    Dalam tradisi lisan Lampung, asal-usul masyarakat adat ditautkan dengan wilayah Sekala Brak. Dari wilayah inilah leluhur Lampung diyakini menyebar dan membentuk marga-marga. Setiap marga memiliki silsilah yang dijaga dengan ketat melalui cerita, upacara adat, dan dokumen tertulis.

    Struktur marga menjadi penopang utama kehidupan sosial. Dalam masyarakat Saibatin maupun Pepadun, marga bukan hanya garis keturunan, melainkan wadah nilai dan tanggung jawab moral.
    Salah satu naskah adat penting adalah Kuntara Raja Niti. Dalam salah satu baitnya tertulis: “Siapa mak buak adat, mak budi, maka rusak negeri.”
    Dalam bahasa Lampung kuno: “Siapa mak buak adat, mak budi, rusaklah lebu.”
    Kutipan ini menegaskan bahwa adat dan budi pekerti adalah fondasi keberlangsungan masyarakat.

    Ramadhan dipandang sebagai waktu untuk memastikan bahwa adat tidak sekadar diwarisi, tetapi dihidupi dengan kesadaran.
    Islam masuk ke Lampung secara bertahap melalui jalur perdagangan dan dakwah damai. Ajaran puasa Ramadhan diterima bukan sebagai sesuatu yang asing, melainkan selaras dengan laku prihatin yang telah dikenal dalam adat.

    Masyarakat Lampung mengenal konsep menahan diri, diam, dan merenung jauh sebelum istilah puasa dikenal. Ramadhan kemudian memberi kerangka teologis atas laku tersebut.
    Dalam adat dikenal petuah: “Batin ditimbang, laku ditata.”
    Ramadhan menjadi bulan menimbang batin dan menata laku. Malam hari diisi dengan muhasabah, membaca kisah leluhur, dan mendengarkan petuah penyimbang.
    Berbeda dengan siang yang menuntut pengendalian fisik, malam Ramadhan dalam adat Lampung adalah ruang dialog batin. Kesunyian malam dipelihara. Percakapan dijaga, tawa tidak berlebihan, dan hati diarahkan pada perenungan.

    Dalam naskah adat Pepadun disebutkan: “Diam ni tanda eling.”
    Diam bukan ketidakpedulian, melainkan tanda kesadaran. Analisis atas petuah ini menunjukkan bahwa adat Lampung menempatkan refleksi sebagai inti kedewasaan sosial.
    Muhasabah malam Ramadhan juga menjadi waktu mengingat silsilah. Anak-anak diajarkan nama leluhur, asal marga, dan kesalahan yang tidak boleh diulang.
    Tidak ada ritual adat Lampung yang secara formal dinamai ritual Ramadhan. Namun nilai Ramadhan meresap dalam kebiasaan adat. Begawi dan cangget yang dilakukan di bulan ini dijaga agar tidak melanggar adab puasa.
    Gerak tari menjadi lebih tertata, suara musik tidak berlebihan, dan niat kegiatan ditekankan sebagai syukur, bukan pamer.
    Dalam konteks ini, Ramadhan mengajarkan bahwa kegembiraan harus berjalan seiring dengan kesadaran diri.

    Setiap marga memiliki kisah leluhur yang menjalani laku sunyi. Dalam legenda Marga Abung, diceritakan seorang leluhur yang berdiam diri selama empat puluh malam sebelum menetapkan hukum adat.
    Legenda ini mengandung pesan bahwa keputusan adat lahir dari perenungan panjang. Ramadhan dipandang sebagai miniatur laku leluhur tersebut.
    Dokumen silsilah sering dibacakan pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan sebagai pengingat bahwa manusia hidup dalam mata rantai sejarah.

    Puasa dalam adat Lampung bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan diri dari merusak harmoni. Malam sunyi menjadi ruang memperbaiki hubungan, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.
    Adat Lampung memandang manusia bermartabat jika mampu mengendalikan dirinya. Ramadhan memperdalam martabat itu dengan dimensi spiritual.

    Dalam dunia modern yang bising, nilai ini menjadi penawar kegaduhan.
    “Malam Sunyi dan Muhasabah Orang Lampung” adalah kisah tentang cara masyarakat adat menjaga jati diri melalui Ramadhan. Dalam kesunyian malam, adat dan iman bertemu. Dalam muhasabah, manusia Lampung menemukan kembali makna hidupnya.

    Daftar Pustaka
    1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni.
    2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kuntara Raja Niti: Hukum Adat Lampung. Jakarta: Depdikbud.
    3. Radin Intan II. Sejarah dan Silsilah Marga Lampung. Arsip Budaya Lampung.
    4. Balai Pelestarian Nilai Budaya Lampung. Manuskrip dan Tradisi Lisan Lampung. Bandar Lampung.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • RAMADHAN MUBARAK (10) : Istighfar: Kunci Ampunan dan Lapangnya Rezeki. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    RAMADHAN MUBARAK (10) : Istighfar: Kunci Ampunan dan Lapangnya Rezeki. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subḥanahu wata’ala yang membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-hamba-Nya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yang lisannya tak pernah lepas dari istighfar.

    Jamaah yang dirahmati Allah..

    Kita telah melewati sepuluh hari pertama Ramadhan, sepuluh hari rahmat. Kini kita menuju fase ampunan. Dan kunci untuk meraih ampunan itu adalah istighfar. Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

    “Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10–12)

    Istighfar bukan hanya menghapus dosa. Ia juga membuka pintu rezeki, keberkahan, dan kemudahan hidup.

    Jamaah sekalian..

    Rasulullah yang maksum saja, yang telah diampuni dosa-dosanya, tetap memperbanyak istighfar. Beliau bersabda:

    وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

    “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

    Dalam riwayat lain disebutkan seratus kali. Jika Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam saja memperbanyak istighfar, lalu bagaimana dengan kita yang penuh kekhilafan?

    Jamaah yang dimuliakan Allah…

    Sering kali hati terasa sempit, hidup terasa berat, doa terasa lambat dikabulkan. Bisa jadi karena dosa-dosa yang belum kita bersihkan. Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

    وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

    “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka beristighfar.” (QS. Al-Anfal: 33)

    Istighfar adalah perisai dari azab. Ia adalah penenang hati. Ia adalah penghapus noda jiwa.

    Jamaah sekalian…

    Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak istighfar:
    – Saat sahur, karena itu waktu mustajab.
    – Saat berbuka, karena doa tidak tertolak.
    – Saat sujud, karena kita paling dekat dengan Allah.

    Jangan remehkan ucapan “Astaghfirullah”. Bisa jadi satu istighfar yang tulus menghapus dosa bertahun-tahun.

    Mari kita hidupkan hari-hari Ramadhan dengan lisan yang basah oleh istighfar.

    Semoga Allah Subḥanahu wata’ala mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita hamba yang bersih hatinya.

    أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

    Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.

    اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلها دقها وجلها سرها وعلانيتها

    Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami, yang kecil maupun besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
    Amin ya Rabbal ‘alamin. (KIS/187).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • 52 Tahun Menanti, Jalan Kota Dalam-Budidaya Akhirnya Mulus di Era Egi-Syaiful

    52 Tahun Menanti, Jalan Kota Dalam-Budidaya Akhirnya Mulus di Era Egi-Syaiful

    nataragung.id – Sidomulyo – Penantian panjang warga Kecamatan Sidomulyo selama lebih dari setengah abad akhirnya berakhir.

    Ruas Jalan Kota Dalam-Budidaya (R.092) resmi diresmikan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, Jumat (27/2/2026), di Desa Budidaya.

    Jalan yang disebut warga telah rusak sejak 1973 atau sekitar 52 tahun lalu itu kini berubah menjadi akses yang lebih layak dan aman. Peresmian tersebut disambut antusias masyarakat yang memadati lokasi acara.

    Secara teknis, ruas jalan Kota Dalam-Budidaya memiliki panjang 2.420 meter dengan lebar 3 meter. Pada tahun 2025, penanganan dilakukan menggunakan konstruksi rabat beton sepanjang 1.350 meter dengan lebar 3,5 meter. Secara total, panjang jalan yang telah ditangani mencapai 2.150 meter dengan konstruksi rabat beton.

    Bagi warga, pembangunan jalan tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan jawaban atas penantian panjang.

    Ratnasih, warga Dusun 4 Desa Budidaya, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia menyebut jalan tersebut terakhir kali tersentuh pembangunan pada 1973.

    “Jalan ini dari tahun 1973, jadi sudah 52 tahun baru diperbaiki sekarang ini. Perasaan saya senang sekali. Terima kasih Pak Bupati Radityo Egi Pratama sudah memperbaiki jalan yang sekian lama tidak pernah diperbaiki ini,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan Lili Salamah. Ia mengaku bersyukur karena jalan yang selama puluhan tahun rusak akhirnya dibangun.

    “Ini jalannya sudah rusak sekitar 52 tahun. Alhamdulillah sekarang sudah dibangun. Dulu waktu kampanye ada janji untuk membangun jalan ini, dan sekarang ditepati. Senang sekali akhirnya diresmikan,” katanya.

    Dalam sambutannya, Bupati Egi menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur jalan hingga akhir masa jabatan.

    Ia menyampaikan bahwa pada awal 2025 tingkat kemantapan jalan di Kabupaten Lampung Selatan berada di kisaran 54 persen.

    “Dengan berbagai upaya peningkatan kualitas konstruksi jalan sepanjang 2025, alhamdulillah angka kemantapan jalan meningkat menjadi hampir 62 persen,” jelasnya.

    Ia memastikan, program pembangunan dan peningkatan kualitas jalan akan terus dilanjutkan pada 2026 hingga 2027 sebagai bagian dari prioritas pemerintah daerah.

    Peresmian jalan ruas Kota Dalam-Budidaya menjadi simbol terpenuhinya janji pembangunan sekaligus penanda perubahan nyata bagi masyarakat Sidomulyo.

    Setelah lebih dari lima dekade, akses yang dulu rusak dan sulit dilalui kini berubah menjadi jalan yang lebih representatif, membuka harapan baru bagi mobilitas dan pertumbuhan ekonomi warga setempat. (mara)