Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Adat Menyambut Malam Lailatulqadar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah Lampung yang dibingkai oleh pegunungan hijau, teluk yang luas, dan hamparan pantai yang menghadap Selat Sunda, adat dan agama tidak pernah berjalan sendiri. Keduanya menyatu dalam ritme kehidupan masyarakat adat. Sejak masa para leluhur yang dikenal sebagai punyimbang hingga generasi modern, nilai-nilai adat Lampung selalu disandingkan dengan ajaran Islam.
Di antara momen yang paling sakral dalam perjalanan Ramadhan adalah Malam Lailatulqadar. Bagi masyarakat Lampung, malam tersebut bukan hanya dimaknai sebagai peristiwa spiritual dalam ajaran Islam, tetapi juga sebagai momentum memperkuat hubungan sosial dan adat.
Tradisi menyambut malam itu hidup dalam berbagai bentuk ritual: doa bersama, kenduri kecil keluarga, menyalakan pelita, hingga berkumpulnya masyarakat dalam suasana khidmat namun penuh kegembiraan.
Buku ini mencoba menelusuri jejak tradisi tersebut melalui kisah rakyat, sejarah marga, serta analisis filosofis dari setiap praktik adat yang berkembang di masyarakat Lampung.

Konon, pada abad ke-17 di wilayah pesisir Lampung Saibatin, hiduplah seorang tetua adat bernama Punyimbang Ratu Marga Way Handak. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, pemegang adat, sekaligus ulama yang disegani.
Pada suatu Ramadhan, ketika bulan hampir mencapai malam kedua puluh tujuh, ia mengumpulkan warga di halaman luas di tepi pantai.
Langit malam itu tenang. Ombak bergulung perlahan. Di kejauhan tampak Gunung Rajabasa berdiri seperti penjaga tua.
“Anak cucuku,” kata sang punyimbang, “malam yang akan datang adalah malam yang lebih mulia daripada seribu bulan.”
Ia kemudian membaca ayat dari Al-Qur’an: Innā anzalnāhu fī laylatil-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.)

Penduduk desa tidak seluruhnya memahami bahasa Arab, tetapi mereka merasakan getaran kesakralan dari ayat tersebut.
Maka sang punyimbang memberi petunjuk: “Jika kalian ingin menyambut malam itu, nyalakanlah pelita di rumah masing-masing. Bukan untuk menerangi jalan saja, tetapi untuk mengingatkan bahwa hati manusia harus lebih terang daripada cahaya.”
Sejak malam itu, masyarakat menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka setiap menjelang malam dua puluh tujuh Ramadhan.

Tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Orang Lampung kemudian menyebutnya sebagai malam pelita Lailatulqadar.
Anak-anak bermain di halaman dengan cahaya pelita. Orang dewasa berkumpul membaca doa. Para tetua adat memimpin zikir hingga larut malam. Begitulah kisah yang terus diceritakan dari mulut ke mulut di berbagai kampung Lampung.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 2: Nemui Nyimah – Keramahan yang Menjunjung Tinggi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam struktur masyarakat Lampung, kehidupan adat diatur melalui sistem marga. Marga merupakan kesatuan genealogis yang memiliki wilayah, pemimpin adat, serta aturan sosial yang diwariskan turun-temurun.
Beberapa marga tua yang sering disebut dalam manuskrip adat antara lain: Marga Buay Pernong, Marga Buay Belunguh, Marga Buay Nyerupa, Marga Sekala Brak.
Salah satu dokumen yang sering dijadikan rujukan adalah naskah adat yang dikenal sebagai Kuntara Raja Niti. Dalam salah satu bagian disebutkan: “Adat ni sai dijaga, agama ni sai dipakai, supaya ulun Lampung tegak martabatnya.” Kalimat ini dapat diterjemahkan: Adat harus dijaga, agama harus dijalankan, agar orang Lampung tetap tegak martabatnya.
Ungkapan tersebut mencerminkan prinsip dasar kehidupan masyarakat Lampung: adat dan agama tidak boleh dipisahkan. Dalam konteks Ramadhan, prinsip itu terlihat jelas dalam berbagai tradisi yang dilakukan menjelang malam-malam terakhir bulan suci.

Di beberapa wilayah marga Pepadun, misalnya, keluarga besar biasanya mengadakan kumpul kerabat pada malam ganjil terakhir Ramadhan. Mereka membaca doa bersama yang dipimpin oleh tetua keluarga. Sementara dalam komunitas Saibatin di pesisir, masyarakat sering mengadakan kenduri kecil dengan makanan sederhana seperti seruit, ketan, dan buah kelapa muda.
Tujuan utamanya bukan pesta, melainkan mempererat silaturahmi sebelum memasuki malam Lailatulqadar.

Tradisi adat Lampung memiliki kedalaman filosofi yang sering kali tersembunyi di balik praktik sederhana.
1. Menyalakan Pelita. Pelita yang dinyalakan di depan rumah memiliki makna simbolik yang kuat. Dalam filosofi Lampung, cahaya sering dihubungkan dengan konsep piil pesenggiri, yaitu harga diri yang bersumber dari kebaikan moral. Pelita menjadi lambang bahwa manusia harus menjaga cahaya hati.
Seorang tokoh adat Lampung pernah menulis dalam catatan budaya: “Pelita bukan sekadar lampu minyak, tetapi tanda bahwa rumah itu terbuka bagi doa dan kebaikan.” Dalam perspektif Islam, simbol cahaya juga sangat kuat.

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35)
Kutipan ini memperkuat makna spiritual dari tradisi pelita dalam masyarakat Lampung. Pelita menjadi pengingat bahwa cahaya sejati berasal dari Tuhan.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Berkumpulnya Keluarga Besar. Dalam adat Lampung dikenal konsep nemui nyimah, yaitu sikap ramah terhadap tamu dan kerabat. Pada malam menjelang Lailatulqadar, keluarga besar biasanya berkumpul untuk makan bersama setelah tarawih. Filosofi dari praktik ini sangat dalam. Berkumpulnya keluarga mencerminkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. Islam sendiri menekankan pentingnya hubungan keluarga.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
Masyarakat Lampung memahami nilai ini sebagai bagian dari adat.

3. Zikir Bersama. Di beberapa kampung tua Lampung, masyarakat melakukan zikir berjamaah hingga larut malam. Tradisi ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau tetua adat. Zikir dilakukan dengan irama yang lembut dan berulang. Dalam perspektif budaya, praktik ini tidak sekadar ibadah ritual. Ia juga menciptakan rasa kebersamaan spiritual. Suara zikir yang bergema di malam hari membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar.
Adat Lampung memiliki nilai dasar yang dikenal sebagai Piil Pesenggiri. Nilai ini terdiri dari beberapa unsur utama: Pi’il Pesenggiri, Juluk Adek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan. Jika dikaitkan dengan tradisi menyambut Lailatulqadar, nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sangat relevan.
Juluk Adek, Juluk adek berkaitan dengan identitas dan kehormatan seseorang. Dalam konteks Ramadhan, masyarakat Lampung percaya bahwa menjaga akhlak selama bulan suci merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri.
Nemui Nyimah. Nilai ini tercermin dalam kebiasaan membuka rumah bagi kerabat dan tetangga. Ketika masyarakat berkumpul pada malam-malam akhir Ramadhan, mereka tidak hanya melakukan ibadah, tetapi juga memperkuat jaringan sosial.
Nengah Nyappur. Konsep ini berarti aktif bergaul di tengah masyarakat. Malam Lailatulqadar sering menjadi momen ketika masyarakat berkumpul di masjid atau surau. Interaksi tersebut memperkuat rasa persaudaraan.
Sakai Sambayan. Ini adalah nilai gotong royong dalam masyarakat Lampung. Menjelang malam-malam terakhir Ramadhan, masyarakat sering membersihkan masjid bersama atau menyiapkan makanan untuk berbuka bersama. Semangat kebersamaan ini mencerminkan filosofi sakai sambayan.
Banyak tetua Lampung yang masih mengingat bagaimana tradisi Ramadhan dijalankan pada masa lampau. Seorang tetua adat dari wilayah Pesisir Barat pernah bercerita: “Dulu kami menunggu malam dua puluh tujuh dengan hati yang bergetar. Anak-anak tidak tidur cepat. Orang tua membaca doa. Pelita dinyalakan di depan rumah.”
Menurutnya, malam itu terasa berbeda dari malam-malam lainnya. Langit tampak lebih tenang. Angin laut berhembus lembut. Masyarakat percaya bahwa malam tersebut adalah malam ketika rahmat Tuhan turun dengan melimpah. Keyakinan itu sejalan dengan ayat Al-Qur’an. Bagi masyarakat Lampung, ayat ini sering dijelaskan oleh para ulama kampung sebagai tanda bahwa malam Lailatulqadar adalah malam penuh keberkahan.
Walaupun Ramadhan adalah tradisi Islam, masyarakat Lampung sering menggabungkannya dengan simbol budaya lokal. Salah satu simbol yang sering muncul adalah Siger. Siger adalah mahkota adat Lampung yang melambangkan kehormatan dan kemuliaan perempuan. Dalam konteks Ramadhan, simbol siger sering digunakan dalam dekorasi acara adat atau festival budaya yang diadakan menjelang Idulfitri.
Maknanya sederhana namun dalam. Siger mengingatkan bahwa kemuliaan sejati bukan hanya berasal dari keturunan atau status sosial, tetapi dari ketakwaan.
Tradisi menyambut malam Lailatulqadar dalam masyarakat Lampung adalah contoh bagaimana agama dan adat dapat berjalan bersama. Dari kisah pelita yang dinyalakan oleh punyimbang tua hingga praktik zikir bersama di masjid desa, semua itu menunjukkan bahwa masyarakat Lampung memiliki cara unik dalam memaknai Ramadhan. Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah warisan budaya yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan filosofis. Dalam cahaya pelita Ramadhan, masyarakat Lampung menemukan jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Jejak adat itu masih hidup hingga hari ini. Dan selama generasi muda masih mendengarkan cerita para tetua, cahaya pelita itu tidak akan pernah padam.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 1 : Sang Penjaga yang Diselipkan di Pinggang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Hadikusuma, Hilman. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Bandung: Mandar Maju.
3. Hanafiah, Djohan. Adat Istiadat Lampung. Bandar Lampung: Pemerintah Provinsi Lampung.
4. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta.
5. Manuskrip Kuntara Raja Niti, Arsip Budaya Lampung.
6. Al-Qur’an Al-Karim.
7. Arsip Budaya Lembaga Adat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini