nataragung.id – Bandar Lampung + Alkisah, di masa ketika Bukit Barisan masih muda dan Way Tulangbawang mengalir dengan air perak, hiduplah seorang pemuda bernama Rio Panji. Ia keturunan Marga Pemuka, namun terlahir dengan api keraguan yang berkobar dalam dadanya. “Untuk apa semua aturan ini? Untuk apa gelar-gelar yang membebani?” gumamnya suatu sore, memandang tajam ke arah Lembing Pusaka yang berdiri tegak di tengah Nuwo Balak (rumah adat) milik keluarganya.
Lembing itu, bernama Langsing Lantang, bukan sekadar senjata. Ia adalah tiang adat, yang diwariskan turun-temurun sejak nenek moyangnya, Siak Berhias, membuka kampung pertama di tepian sungai. Menurut manuskrip tua Kuntara Raja Niti, leluhurnya itu diutus oleh Ratu Bulan dengan pesan: “Turunkan lembingmu di tanah subur, di sanalah kau tanam adat dan marga. Pelihara ia dengan piil pesenggiri, agar keturunanmu tak tersesat di rimba dunia.”
Suatu malam, Rio bermimpi. Dalam mimpinya, Langsing Lantang berbicara dengan suara gemuruh sungai: “Wahai cucu Siak Berhias, engkau memandangku sebagai beban, karena engkau belum paham sebab aku berdiri. Aku bukan untuk menikam, tetapi untuk menegakkan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyangga. Apakah tiang rumah mengungkung penghuninya, atau justru memberi ruang untuk hidup?”
Rio terbangun dengan jantung berdebar. Esok harinya, ia mendatangi sang Penyimbang (tetua adat), Menak Jaga Diwa, dan menceritakan mimpinya. Sang tua itu tersenyum, matanya berbinar seperti mengenang sesuatu. “Mimpimu itu adalah Turun Lembing pertama dalam hidupmu, nak. Bukan turun dari gantungan, tetapi turun ke dalam hatimu.”
Keseimbangan antara Kehormatan dan Tanggung Jawab.
Menak Jaga Diwa kemudian membuka sebuah kitab kulit kayu yang sudah usang. Di dalamnya, tertulis dengan aksara Lampung kuno:
“Lembing langit tiyuh tiang, lembing bumi sukhu sai. Piil pesenggiri nibaskhan, nemui nyimah nengah nyappur.” (Terjemahan: Lembing langit menopang tiang, lembing bumi menancap kuat. Piil pesenggiri menjadi nafas, nemui nyimah dan nengah nyappur menjadi sikap.)
“Analisis kalimat ini, wahai Rio,” ujar Menak Jaga Diwa. “Lembing langit dan lembing bumi adalah metafora. Yang satu menopang ke atas (cita-cita, spiritualitas, harga diri/piil pesenggiri), yang satu menancap ke bawah (realita, tanggung jawab duniawi, kewajiban kepada masyarakat). Seorang manusia beradat harus memiliki keduanya. Jika hanya menengadah ke langit, ia akan jatuh. Jika hanya menunduk ke bumi, ia akan kehilangan arah.”
Inilah inti dari Ajaran Turun Lembing. Prosesi adat Turun Lembing yang sesungguhnya, dalam upacara pemberian gelar, adalah simbol eksternal dari proses internal yang harus dialami setiap individu: menancapkan komitmen untuk hidup dengan menyeimbangkan kehormatan pribadi (piil pesenggiri) dengan tanggung jawab sosialnya.
* Piil Pesenggiri dianalisis bukan sebagai kesombongan, tetapi sebagai pondasi lembing langit. Ia terdiri dari: sakai sambayan (rasa malu berbuat salah), juluk adok (menjaga nama baik marga), nemui nyimah (terbuka dan ramah pada tamu), nengah nyappur (tenggang rasa dalam pergaulan), dan bejuluk beadek (bermarga dan beradat). Tanpa pondasi ini, seseorang tidak akan memiliki ruh untuk ditegakkan.
* Tanggung Jawab Sosial adalah bentuk lembing bumi. Ia mewujud dalam sikap menyimah (membagi rezeki), sanggup berjasa kepada kampung, dan yang utama: menjaga dan meneruskan warisan adat kepada generasi berikut. Sebuah dokumen silsilah (titel) Marga Pemuka dari abad ke-18 mencatat pesan: “Barang siapa menyandang gelar, ia memikul amanah langit dan beban bumi untuk seluruh keturunannya.”
Legenda Marga dan Penjaga Diri Dalam Pergaulan.
Menak Jaga Diwa lalu bercerita tentang asal-usul Marga Pemuka, yang tertuang dalam tutur adat.
“Konon, leluhur kita, Siak Berhias, adalah seorang pemburu ulung. Saat membuka lahan, ia berhadapan dengan Gaib Penjaga Hutan. Alih-alih berkelahi, ia memberikan sirih penghormatan dan menyampaikan maksud baiknya untuk membangun kehidupan. Sang Gaib terkesan, memberinya sebilah mata lembing dari batu mustika, dan berkata: ‘Kekuatanmu bukan pada tajamnya senjata, tetapi pada tepatnya sikap. Gunakan ini untuk menegakkan, bukan menyerang.'”
“Dari situlah,” lanjut sang Penyimbang, “ajaran utama kita: Cara Menjaga Diri. Bagi orang Lampung, menjaga diri bukan dengan mengucilkan diri atau bersikap kasar, tetapi dengan sikap nengah nyappur dalam setiap tindakan.”
Nengah nyappur (bersikap tengah dan mampu menyelaraskan) adalah senjata paling ampuh. Dalam pergaulan, ia berarti tidak angkuh tetapi juga tidak rendah diri; tegas pada prinsip tetapi lentur dalam cara. Dalam kitab Kuntara Raja Niti pasal tentang pergaulan, disebutkan: “Berjalanlah di tepian, jangan di tengah jalan agar tidak tertabrak, jangan di pinggir jurang agar tidak terjatuh. Begitulah adab pergaulan.”
Analisis mendalam menunjukkan bahwa falsafah ini adalah sebuah sistem pertahanan diri yang canggih. Dengan nengah nyappur, seseorang tidak mudah terprovokasi, tidak mudah tersinggung, dan selalu punya ruang untuk diplomasi. Inilah wujud nyata dari piil pesenggiri yang sejati: kehormatan yang tidak perlu dipertahankan dengan kekerasan, tetapi dengan kewibawaan dan kecerdasan bersikap.
Rio Panji dan Lembing Barunya.
Rio Panji duduk terdiam lama, merenungi semua penjelasan itu. Api keraguannya padam, digantikan oleh api penerangan. Ia akhirnya paham. Lembing itu bukan beban mati, melainkan kompas hidup.
Beberapa tahun kemudian, Rio Panji telah menjadi salah satu pemuda yang dihormati. Saat konflik perbatasan lahan nyaris pecah antara pekonnya dengan pekon tetangga, Rio maju. Dengan sikap nemui nyimah, ia mengundang tetua tetangga untuk berunding. Dengan nengah nyappur, ia mengajukan solusi bagi hasil, bukan pertikaian. Damai pun tercapai.
Dalam upacara adat berikutnya, Menak Jaga Diwa menganugerahkannya gelar “Menak Rio Beradat”. Prosesi Turun Lembing pun dilakukan. Saat Rio memegang teguh Langsing Lantang, ia tidak lagi merasakan beban. Yang ia rasakan adalah kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan tanggung jawab untuk menancapkan kedamaian.
Dari situlah petuah tua itu hidup kembali: Hidup beradat itu seperti memegang lembing. Pegang erat prinsipmu (lembing langit), tancapkan dalam tindakan nyatamu (lembing bumi). Barulah kau akan berdiri tegak, tak mudah goyah diterpa angin perubahan zaman.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Kuntara Raja Niti. Naskah manuskrip adat Lampung kuno. (Akses terjemahan dan alih aksara melalui koleksi digital Perpustakaan Nasional RI dan Universitas Lampung).
2. Hadisundoyo, S. (1986). Adat Istiadat Daerah Lampung. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Depdikbud. (Koleksi fisik Perpustakaan Daerah Lampung).
3. Wawasan, R. (2017). Piil Pesenggiri: Filosofi Hidup Masyarakat Lampung. Dalam Jurnal Ilmiah FISIP Universitas Lampung. (Artikel jurnal akademik daring).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

