nataragung.id – Natar – Kelak, ketika semua urusan telah selesai, ketika penduduk surga telah dipersilakan memasuki taman-taman kenikmatan, dan penduduk neraka digiring menuju lembah-lembah kegelapan, di saat itu, ada sekelompok manusia yang belum juga bergerak.
Mereka berdiri di sebuah tempat yang tinggi, sebuah bukit pemisah antara surga dan neraka.
Allah menyebutnya Al-A‘rāf.
> “Dan di antara keduanya ada A‘rāf, dan di atas A‘rāf itu ada orang-orang yang mengenali masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tandanya….” (QS. Al-A‘rāf: 46)
Mereka bukan penghuni surga.
Namun bukan pula penghuni neraka. Mereka adalah manusia yang timbangan kebaikannya sama dengan keburukannya, seimbang seperti dua daun timbangan yang tidak bergerak.
Mereka melihat penduduk surga dari kejauhan, wajah-wajah berseri disambut dengan “Salāmun ‘alaikum”.
Lalu mereka mendengarkan gemuruh neraka di sisi lain, dan tubuh mereka gemetar ketakutan.
> “Dan ketika pandangan mereka dialihkan ke arah penduduk neraka, mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim itu.’” (QS. Al-A‘rāf: 47)
Mereka berharap…
Berdoa…
Menangis dalam diam. Sampai akhirnya datang keputusan dari Tuhan Yang Maha Adil, Maha Penyayang.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang keadaan manusia di Hari Kiamat:
> “Siapa yang kebaikannya lebih berat, ia masuk surga. Siapa yang keburukannya lebih berat, ia masuk neraka. Dan siapa yang dua timbangannya seimbang, maka ia berada di tempat antara surga dan neraka.” (HR. Hakim, dishahihkan oleh Adz-Dzahabi)
Merekalah penghuni A‘rāf.
Mereka berdiri menantikan rahmat. Tidak disiksa, tetapi juga tidak merasakan kenikmatan. Mereka menatap surga dengan kerinduan yang membakar jiwa.
Namun betapa lembutnya Allah.
Dia tidak akan menyia-nyiakan satu pun amal kebaikan hamba-Nya.
Hingga suatu saat, setelah penghukuman selesai dan rahmat Allah dipancarkan, datanglah keputusan yang selama ini mereka nantikan:
> “Masukkanlah mereka ke dalam surga. Mereka belum pernah merasakan kebaikan sedikit pun (di dunia), maka hari ini mereka akan merasakannya.”
(Tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-A‘rāf: 49)
Maka mereka pun melangkah, akhirnya memasuki surga, setelah lama menunggu dengan dada bergetar, dan Allah menyambut mereka dengan rahmat-Nya, rahmat yang lebih luas dari seluruh langit dan bumi.
Mereka belajar bahwa setetes kebaikan yang kurang di dunia membuat mereka tertahan, dan setetes rahmat Allah membuat mereka diselamatkan. (KIS/125).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

