nataragung.id – Yogyakarta – Level spiritualitas Pakde Kliwon tampaknya meningkat drastis setelah memasuki 10 hari terakhir bulan suci Ramadan. Ia mulai bisa bertahan duduk i’tikaf di masjid. Padahal, biasanya menggunakan amalan salam klepat. Begitu salam langsung kabur enggak jelas arahnya.
Obrolannya juga berbeda jauh. Ia tidak lagi diskusi beraroma kritik sosial, melainkan masuk ke dalam rahim kasih dan cinta. Relasi kasih dan mesra sesama manusia dan jagat raya tempat manusia mengembara menemukan tujuan akhir hidupnya.
“Substansi kehidupan manusia dan alam semesta itu cinta,” katanya saat kami kumpul menunggu saat azan Magrib. Saya, Yuk Nah dan Pakde No saling pandang lalu diam.
Kami sekarang sedang menunggu fatwa lanjutan dari mantan aktivis 1988 yang tidak mau tunduk pada sistem kekuasaan. Apalagi menjilat untuk sekadar dapat keuntungan duniawi blaka.
Apa yang kami harapkan tak keluar juga dari sela bibirnya yang berhias kumis serba putih di atasnya. Istrinya sudah menyarankan mencukur kumis itu sebagai lagi sunnah, tetapi ia tak juga mau melakukannya. Alasannya, kalau dicukur jadi tampak culun. Tak lebih dan tak kurang.
Bibirnya terus bergerak, mungkin mengeja doa yang baru dia dapatkan tadi pagi dalam kuliah subuh di masjid. Atau bisa juga sedang merasakan gigi bagian depannya yang goyang sejak seminggu yang lalu.
“Cinta semesta mewujud pada kesadaran, sikap, dan perilaku merawat bumi, langsung dan seluruh yang ada di antaranya,” ujarnya nyaris tak terdengar, volumenya sekeras desis angin yang membawa aroma kopi racikan Yuk Nah.
Kidung cinta, katanya, harus terus dilantunkan dalam setiap gerak dan ritme nafas sepanjang hidup. Cinta Rumi, cinta Rabiah, keduanya hanya amsal dalam kehidupan manusia keseharian. Tariannya menjadi gerak utuh dari rasa cinta seorang manusia.
“Apakah cinta juga tumbuh kepada sesama sebagai bagian dari cinta semesta?” tanya Yuk Nah. Pandangan matanya lurus ke wajah Pakde Kliwon. Laki-laki yang katanya pernah mengejar cintanya, tetapi tak pernah terungkap sampai usia menia renta.
“Tentu, cinta kepada manusia bagian yang tehindarkan dalam diri manusia. Cinta yang kemudian melahirkan hasrat terhadap manusia lainnya,’ ujar Pakde Kliwon.
Ia mengatakan dalam dirinya tumbuh juga rasa cinta kepada manusia lain. Bahkan sejak di pesantren dulu. Ada sosok perempuan yang sampai kini tak pernah terlupakan. Senyumnya terus ia simpan dalam hatinya, meski istri setia mendampinginya.
“Cinta tak bisa dilupakan, ia hanya bisa disimpan rapat-rapat di sudut daging pipih merah saga,” katanya.
Yuk Nah wajahnya tampak memerah. Sempat terbersit meski lirih dalam sunyi, dirinyakah yang masih tersimpan dalam hati Pakde Kliwon.
“Andai engkau ungkapkan dahulu, saya enggak akan pernah menikah dengan Jarot, laki-laki pencinta jengkol yang trauma sikat gigi,” bisik Yuk Nah dalam hati.
Ketika saya memandang Yuk Nah, ia sedang memandang ke arah Pakde Kliwon dengan tatapan berbeda dari hari-hari biasanya. Benarlah kata orang cinta memang tak bisa diusahakan, ia lahir kehendak Gusti sumber segala cinta manusia. (*/26)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

