nataragung.id – Pemanggilan – Organisasi adalah wasilah, bukan ghayah. Ia hanyalah kendaraan, bukan tujuan akhir. Dengannya dakwah bergerak, suara kebenaran tersusun, langkah kebaikan menjadi terarah.
Namun ketika hati mulai terikat bukan pada kebenaran, melainkan pada nama dan kelompok, di situlah bahaya perlahan menyelinap.
Allah Subḥanahu wata’ala telah mengingatkan:
{ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ }
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 32)
Ayat ini bukan sekadar kabar, tetapi peringatan, bahwa manusia mudah terjebak dalam fanatisme, merasa paling benar, paling lurus, dan paling berjasa.
Padahal kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut, bukan pula dari besarnya nama organisasi, tetapi dari sejauh mana ia selaras dengan wahyu dan tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Berorganisasi adalah kebaikan, selama ia mendekatkan kepada Allah. Namun fanatik buta adalah keburukan, ketika ia menjauhkan dari keikhlasan.
Jangan sampai kita membela kelompok lebih dari membela kebenaran. Jangan sampai kita mencintai nama lebih dari mencintai agama.
Sebab kelak di hadapan Allah, yang ditanya bukan “engkau dari golongan mana?”, tetapi “apa yang engkau lakukan untuk agama ini?”
Maka jadilah pribadi yang lapang:
Menghargai perbedaan, Mendahulukan persatuan, Dan menjadikan dakwah sebagai tujuan utama, bukan kemenangan kelompok.
Karena sejatinya, semua kita berjalan menuju satu arah yang sama: ridha Allah Subḥanahu wata’ala. (KIS/211)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

