Cermin Retak: Kabar Tak Sedap dari Dunia Kreatif. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Dunia kebudayaan kita kembali muram. Kabar menyakitkan menyeruak dari bilik kreatif: tindak kekerasan. Pakde No. meyakini bau tak sedap ini pasti bukan yang pertama kali terjadi, dan ia yakin pula bukanlah menjadi yang terakhir.

Berbagai kekerasan terhadap perempuan dan anak, tidaklah hadir karena semata hasrat binatangiyah yang menjijikkan. Melainkan merupakan produk dari relasi kuasa yang timpang, penyalahgunaan kepercayaan dari yang lebih lemah posisinya, dan ruang interaksi positif yang seharusnya aman berubah menjadi tempat luka.

Kekerasan dalam ranah pekerja kreatif ini sering kali bekerja dengan korban dibungkam dan dipersalahkan, memiliki layer yang sulit dibongkar, berlapis-lapis, dan terjadi pembiaran dari berbagai kalangan.

Pakde No mengatakan inilah wujud dari ironi kebudayaan. Dunia menulis, sastra, dan pendidikan kreatif sebagai ruang pembebasan, ternodai, dan menyimpan sisi gelap yang memalukan dan mencoreng muka. Padahal, kata Pakde No seharusnya nilai-nilai, etika, kelembutan, dan rasa kemanusiaan mendapatkan perawatan.

Seseorang yang dianggap tokoh, menjadi sumber pengetahuan di berbagai peristiwa kebudayaan, dan tentu saja sebagai figur publik dalam dunia literasi memiliki pengakuan sosial. Di bawah pengaruhnya banyak orang-orang mengharapkan inspirasi, menemukan ide-ide, dan keterampilan, termasuk perempuan.

Baca Juga :  Layar di Tangan, Masa Depan di Taruhan: Dampak Gadget pada Otak Anak. Oleh: Zahra Shafira

Mereka datang, bertemu dan berdiskusi dengan harapan ngangsu kaweruh, berkembang kemampuan menulisnya, dan mendapatkan legitimasi ssebagai murid sang tokoh. Hanya saja ketika relasi diselewengkan, kekerasan tidak lagi sekadar persoalan personal, melainkan kegagalan secara sistem.

“Kenapa kasus seperti ini selalu berulang?” tanya Pakde No.

“Karena yang dilindungi sering kali reputasi seseorang, bukan luka sang korban,” jawab Yuk Nah.

Pernyataan Yuk Nah sungguh terdengar ngilu dan pahit. Namun, itulah kenyataannya. Dunia kebudayaan kita masih selalu saja silau dengan posisi, rikuh dengan pertemanan. Kemegahan nama yang dijaga dan diutamakan, bahkan panggung sering kali tetap tersedia, dan korban dihimbau bersabar, diam, dan bahkan disalahkan.

“Kekerasan terus terjadi di ruang yang sama, pola yang nyaris serupa, dan respons publik yang tak berbeda,” ujar Yuk Nah.

Kecaman dari berbagai institusi kebudayaan tentu sangat bermakna. Sebuah penanda adanya kesadaran, sikap moral, dan masih bermaknanya etika. Namun, kecaman saja tidak cukup, meski diikuti dengan tindakan pembenahan mendasar. Perlu adanya mekanisme perlindungan korban, protokol penanganan yang standar, dan keberanian mencabut legitimasi pelaku. Tanpa itu semua, kecaman hanya akan terpeleset menjadi sekadar pernyataan normatif, dan gagah-gagahan sebagai pernyataan sikap dan siaran pers.

Baca Juga :  Kinerja APBN April 2026: Menjaga Optimisme Fiskal di Tengah Tantangan Ekonomi. Oleh : Abi Khoiri // Warga Kelahiran Desa Mandah (Natar) - Kepala Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan KPPN Kuala Tungkal - Jambi

Yuk Nah mengingatkan, kekerasan seksual bukan hanya soal siapa melakukan apa kepada siapa. Ia adalah cermin retak dari sebuah sistem sosial. Ketika lingkungan memungkinkan penyalahgunaan kekuasaan, ketika aduan diabaikan, dan ketika korban berjuang sendirian, sistem itulah yang gagal. Negara telah ompong, dan buta terhadap perempuan sebagai korban berbagai tindak kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Saya membayangkan para perempuan yang datang untuk belajar dalam dunia kreatif, menulis novel, berita pendek, prosa dan puisi dengan membawa ide dan cerita, luka, dan mimi-mimpi, mereka kembali dengan rasa sakit, dan trauma baru sepanjang hidupnya. Sementara dunia sastra terus sibuk memuja estetika, berbagai sayembara dan penghargaan, dan reputasi. Tindak kekerasan itu seakan hanyalah urusan personal, dan sekuel dalam karya-karya adiluhung.

Baca Juga :  Tak Henti Melangkah untuk Rakyat (Sebuah Biografi Singkat Antoni Imam)

Bagi saya, tidak ada yang semata personal dalam kekerasan seksual. Ia selalu politis, selalu berkaitan dengan struktur kuasa, dan selalu meninggalkan dampak sosial berkepanjangan, masa depan yang runtuh, dan hancurnya sebuah peradaban.

Pakde No bilang dengan wajah menunduk berbaur duka, dan terasa getir, “kebudayaan yang tidak mau membersihkan diri, akan mereproduksi kekerasan secara berulang. Karya yang lahir dari para pelaku kekerasan tak lagi ada maknanya.”

Sebab, kekerasan seksual merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan dan kemanusian. Merobek-robek etika, mencederai martabat kemanusiaan, dan menghancurkan masa depan.

Jika dunia kreatif ingin tetap relevan dan bermartabat, keberpihakan kepada korban bukan lagi soal kepedulian dan moralitas. Ini sebuah keharusan atas kemanusiaan.** (31)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini