Mutiara Pagi : Ridha dengan Takdir, Kunci Ketenangan Hati. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Dalam perjalanan hidup, tidak semua yang kita rencanakan akan terjadi, dan tidak semua yang kita inginkan akan kita miliki.

Ada saat di mana harapan tidak tercapai, dan ada pula waktu ketika sesuatu yang tidak kita sukai justru menimpa kita.

Di sinilah letak ujian keimanan: apakah kita mampu menerima takdir Allah dengan lapang dada, ataukah kita tenggelam dalam penyesalan yang tak berujung.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah memberikan bimbingan yang agung dalam menghadapi hal ini. Beliau bersabda:

(( المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللَّهِ منَ المؤمنِ الضَّعيفِ ، وفي كلٍّ خيرٌ ، احرِص على ما ينفعُكَ ، واستِعِن باللَّهِ ولا تعجِزْ ، وإن أصابَكَ شيءٌ ، فلا تقُل : لو أنِّي فعلتُ كان كذا وَكَذا ، ولَكِن قل : قدَّرَ اللَّهُ ، وما شاءَ فعلَ ، فإنَّ لو تَفتحُ عملَ الشَّيطانِ ))

Baca Juga :  MUTIARA - PAGI : Hari yang Tenang dalam Ridha Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Telah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” HR. Muslim no. 2664

Hadits ini mengajarkan keseimbangan dalam hidup: berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap berserah diri kepada Allah atas hasilnya.

Kita diperintahkan untuk berikhtiar, tetapi tidak diperbolehkan larut dalam penyesalan yang melemahkan hati.

Seringkali, manusia terjebak dalam kata “seandainya”. Seandainya dulu aku melakukan ini… seandainya aku memilih itu…

Padahal ucapan tersebut tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Bahkan, ia justru membuka pintu bagi syaitan untuk menanamkan kesedihan, penyesalan, dan keputusasaan dalam hati.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Menari dengan Ritme Pilihanmu Sendiri. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena itu, Islam mengajarkan kalimat yang penuh kekuatan iman: “Qaddarallāhu wa mā syā’a fa‘al” (Telah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi)

Kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi pengakuan dalam hati bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan hikmah Allah.

Di balik setiap kejadian, ada kebaikan yang mungkin belum kita pahami.

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan: “Jika sesuatu yang engkau anggap baik untuk dirimu terlewatkan, maka katakanlah: ‘Telah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’

Demikian pula jika sesuatu yang tidak engkau sukai menimpamu, maka katakanlah: ‘Telah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’” Tafsir Ali ‘Imran (2/325)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kita dan Perbaikan Diri. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Betapa indah ajaran ini. Saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, hati tidak hancur oleh kesedihan. Saat kita tertimpa musibah, jiwa tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Sebab kita yakin, semua telah ditetapkan oleh Allah dengan penuh hikmah dan kasih sayang.

Maka, jadikanlah kalimat ini sebagai penopang hati dalam setiap keadaan. Saat gagal, ucapkanlah dengan ikhlas. Saat diuji, ucapkanlah dengan sabar.

Karena di balik keridhaan terhadap takdir, terdapat ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini. (230)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

#KIS
#Shobahul_khair
#Mutiara_pagi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini