Bolehkah Guru Memberikan Tugas Sulit Tanpa Bimbingan? Oleh : Lia Dwi Agustin *)

0

nataragung.id – Kota Metro – Dalam perspektif pendidikan modern, pemberian tugas yang sulit kepada siswa harus disertai dengan pendampingan.

Menurut Lev Vygotsky melalui konsep Zone of Proximal Development (ZPD), siswa memiliki dua kemampuan: yang bisa dilakukan sendiri dan yang bisa dicapai dengan bantuan. Oleh karena itu, tugas yang sulit memang baik untuk perkembangan, tetapi tetap memerlukan bimbingan (scaffolding). Tanpa bantuan tersebut, siswa cenderung kesulitan memahami materi dan tidak dapat berkembang secara optimal.

Menurut Jerome Bruner, dalam proses belajar diperlukan scaffolding, yaitu bantuan sementara dari guru agar siswa dapat memahami materi sampai akhirnya mampu belajar mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi arahan, contoh, atau petunjuk di awal, lalu secara bertahap mengurangi bantuan tersebut. Jika tugas diberikan tanpa bimbingan sama sekali, maka proses discovery learning (belajar menemukan sendiri) tidak akan berjalan efektif, karena siswa bisa kehilangan arah, bingung, dan tidak tahu cara menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, bimbingan tetap diperlukan agar siswa dapat belajar secara aktif tetapi tetap terarah.

Baca Juga :  PC PMII Kota Metro Adakan Puncak Semarak Harlah PMII ke-66

Menurut Jean Piaget, kemampuan berpikir siswa berkembang secara bertahap sesuai usia dan tingkat kematangannya, sehingga tidak semua siswa siap menerima materi yang terlalu sulit sekaligus. Jika guru memberikan tugas yang terlalu sulit tanpa bimbingan, siswa bisa mengalami cognitive overload (beban pikiran berlebih), yaitu kondisi ketika otak tidak mampu memproses informasi dengan baik karena terlalu banyak atau terlalu kompleks. Akibatnya, siswa menjadi bingung, sulit memahami materi, dan akhirnya merasa frustrasi. Hal ini membuat proses belajar tidak efektif karena siswa tidak benar-benar memahami, melainkan justru kehilangan motivasi untuk belajar.

Baca Juga :  Sukses Itu Butuh Waktu: Pelajaran Berharga Dari Film "Tunggu Aku Sukses Nanti" Oleh : Shalfa Zahra Amalia Anggraini // Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung

Dalam teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, belajar dipahami sebagai proses aktif di mana siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman dan pemikiran. Artinya, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi harus mencoba, memahami, dan menyimpulkan sendiri. Namun, proses ini tetap membutuhkan bimbingan, karena tanpa arahan guru, siswa bisa salah memahami konsep atau mengalami kebingungan. Oleh karena itu, peran guru tetap penting sebagai pembimbing agar proses belajar berjalan terarah dan menghasilkan pemahaman yang benar.

Secara etis, guru tidak hanya berperan sebagai pemberi tugas, tetapi juga sebagai pembimbing yang bertanggung jawab membantu siswa memahami materi. Dalam standar profesional pendidikan, guru wajib menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, memberikan arahan, serta umpan balik yang jelas. Oleh karena itu, memberikan tugas yang sulit tanpa pendampingan dapat dianggap tidak sesuai dengan prinsip pedagogis dan etika profesi, karena berpotensi membuat siswa kesulitan dan tidak mendapatkan kesempatan belajar yang optimal.

Baca Juga :  Rayon Tadris Bahasa Inggris PMII Universitas Ma’arif Lampung Gelar RTAR Ke-XI

Berdasarkan pandangan para ahli, pemberian tugas yang sulit kepada siswa pada dasarnya diperbolehkan karena dapat merangsang perkembangan kognitif dan melatih kemampuan berpikir. Namun, tugas tersebut tidak seharusnya diberikan tanpa bimbingan, karena dapat menghambat pemahaman, menurunkan motivasi belajar, serta berpotensi menimbulkan stres akademik. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran diperlukan keseimbangan antara tantangan dan pendampingan, agar siswa tetap berkembang secara optimal tanpa merasa terbebani atau kehilangan arah dalam belajar. <>

*) Penulis adalah : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini