Terperangkap dalam Notifikasi: Ketakutan yang Tak Pernah Tidur. Oleh: Zahratun Nur Azizah

0

nataragung.id – Kota Metro – ​Banyak orang bilang, “Ah, cuma komentar di medsos doang, tinggal tutup aplikasi aja beres.” Tapi jujur, buat aku yang merasakan sendiri rasanya jadi sasaran cyberbullying, kenyataannya nggak sesimpel itu.

Sebagai mahasiswa yang belajar tentang jiwa manusia, aku baru sadar kalau luka yang nggak berdarah itu justru yang paling susah buat sembuh.
​Ketakutan itu muncul pertama kali lewat denting notifikasi. Awalnya satu, lalu jadi puluhan, sampai akhirnya aku merasa ponsel yang aku pegang berubah jadi benda yang paling menakutkan di dunia. Ada perasaan sesak yang luar biasa setiap kali melihat layar menyala. Aku merasa cemas, gemetar, dan tiba-tiba dunia rasanya menyempit.

Baca Juga :  Suami Paling Menyedihkan di Dunia. 0leh : Mukhotib MD *)

Ketakutan terbesarku bukan cuma soal kata-kata kasar yang mereka tulis, tapi perasaan bahwa aku “dilihat” dan “dihakimi” oleh ribuan mata yang bahkan nggak aku kenal.
​Yang paling berat adalah rasa tidak aman yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Kalau dulu orang bilang rumah adalah tempat paling aman buat bersembunyi dari dunia luar, bagi korban cyberbullying, batasan itu hilang.
Teror itu masuk lewat celah pintu, lewat bawah bantal, bahkan sampai ke dalam mimpi. Aku merasa nggak punya tempat untuk lari. Di dunia nyata aku merasa diawasi, di dunia maya aku merasa ditelanjangi.

​Secara psikologis, aku mulai mengalami apa yang disebut sebagai internalisasi. Kata-kata jahat yang mereka lempar—yang awalnya aku tahu itu nggak benar—lama-lama mulai berbisik di telingaku tiap malam. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri: “Apa benar aku seburuk itu?”, “Apa benar ini salahku?”. Rasanya seperti kehilangan pegangan pada diri sendiri karena suara orang asing lebih nyaring terdengar daripada suaraku sendiri.

Baca Juga :  Tekad Kuat Sang Pengusaha (Biografi Singkat Radityo Egi Pratama)

​Ketakutan ini juga bikin aku jadi menarik diri. Aku takut ketemu orang, takut buka suara, bahkan takut buat sekadar jadi diri sendiri. Aku merasa setiap orang yang aku temui di jalan mungkin saja adalah salah satu dari mereka yang mencaci aku di internet. Rasa percaya itu hilang, digantikan dengan rasa curiga dan lelah mental yang luar biasa.

​Penutup

Lewat tulisan ini, aku cuma ingin bilang kalau di balik sebuah akun, ada manusia yang punya batas lelah. Kita sering lupa kalau jempol kita punya kekuatan untuk menghancurkan hidup seseorang dalam hitungan detik. Aku berharap, ruang digital kita nggak lagi jadi tempat yang mencekam buat mereka yang berbeda. Karena pada akhirnya, kesehatan mental dan ketenangan jiwa seseorang jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat untuk menghujat di kolom komentar.
Tolong, jangan tunggu ada nyawa yang menyerah hanya karena sebuah ketikan yang kalian anggap “iseng”.

Baca Juga :  Awas, Jangan Terlalu Dekat dengan Si Impulsif! Ini Bahaya yang Mengintai - MAJALAH NATAR AGUNG

*) Penulis adalah : Mahasiswa Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini