Cermin Retak: Tentang Ibu yang Dimuliakan dan Diabaikan. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Minggu kedua bulan Mei setiap tahunnya akan dipenuhi dengan berbagai ucapan indah untuk Ibu. Sebagiannya memproduksi puisi, entah mereka dikenal sebagai penyair atau tak kenal sebagai penyair dalam dunia sastra.

“Dunia sedang merayakan Hari Ibu Internasional (Mother”s Day),” ujar Pakde No sambil telunjuk tangan kirinya asyik mencukil-cukil lubang hidungnya, dan telapak kanannya memutar-mutar cangkir kopinya. Masih terisi setengah, dan asap terlihat berlarian dari cangkir itu

Hari ini, wajah dunia berbinar dengan pengagungan terhadap seorang ibu. Bahkan seorang suami yang selalu melakukan kekerasan pun, mungkin menyempatkan diri untuk mengucapkan kata sayang kepada istrinya.

Seindah itukah realitasnya? Tidak, tentu tidak,menurut Pakde No. Sebab, di balik riuhnya sanjungan dan mungkin juga ciuman, membelit kepahitan hidup yang mewarnai setiap langkah perempuan.

“Menuntut keadilan terhadap perempuan, itukah yang mesti diteriakkan di tengah kalimat mendayu bernada pujian, dan mungkin karangan bunga, serta cokelat berharga mahal,” kata Pakde No.

Sebagai mantan aktivis, Pakde No memang selalu memiliki peran vital yang tak pernah kering sejak menjadi mahasiswa. Gagasannya selalu baru, dan kadang berada di luar nalar standar. Out of the Box.

Baca Juga :  Cermin Retak: Tak Hanya Tanah yang Retak, Kepercayaan pun Retak. Oleh : Mukhotib MD *)

Yuk Nah menyambut dengan tepukan semangat berapi-api dari sahabatnya itu. Dan ia menghadiahinya dengan sepotong pisang goreng. “Kali ini saya yang traktir,” ujar Yuk Nah.

Yuk Nah bilang banyak yang lupa hari ibu sekadar untuk mengelu-elukan ibu sebagai pahlawan, bukan membanjiri tangan ibu dengan bunga dan gemerlap hadiah kainnya. Namun, lupa subtansinya, lupa maknanya.

“Anna Jarvis bilang mendedikasikan satu hari dalam setahun untuk menghormati pengorbanan ibu,” kata Yuk Nah.

Kalau Yuk Nah sudah bicara begitu, tiga laki-laki di depannya langsung tunduk patuh. Bahkan Pakde Kliwon yang paling sering memiliki argumentasi dalam perdebatan, langsung mewujud umpama judul lagu, ‘Layu Sebelum Berkembang.’

Perempuan Indonesia, kata Yuk Nah, sangat maju dan revolusioner. Puluhan tahun lalu, sudah membincang soal peran domestik dan publik, memperjuangkan hak pendidikan, menolak perkawinan anak, membangun jaringan Internasional’, dan menuntut kemerdekaan bangsa.

“Ingat, perempuan juga melawan praktik poligami. Kalian mau poligami?”

Tanpa jeda tiga laki-laki itu menjawab serentak, “tidak, tidak, tidak.”

Sayangnya, lanjut Yuk Nah, diskusi-diskusi mengenai gagasan internasional dan nasional, isu-isu perlindungan perempuan, direduksi menjadi upaya domestikasi perempuan. Ibu ditempatkan sebagai pengurus rumah tangga yang harus selalu ikhlas berkorban.

Baca Juga :  Cermin Retak: BBM untuk Orang Kaya. Oleh : Mukhotib MD *)

Akibatnya perempuan Indonesia harus memikul beban ganda: dituntut bekerja memperkuat perekonomian keluarga, ketika di rumah harus sendirian melakukan pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang mutlak dilabelkan sebagai kewajibannya.

Lantas, muncullah berbagai narasi yang menyudutkan perempuan. Misalnya, ibu yang baik tidak pernah mengeluh, di belakang suami sukses ada istri yang patuh.

“Sistem politik dan sistem budaya terus meminggirkan perempuan,” ujar Yuk Nah.

“Saya membaca Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan di Indonesia masih tinggi, ya?” kata Pakde Kliwon.

“Saya juga mendengarnya begitu,” kataku ketimbang tidak ikut ngomong, dan berdampak akses masuk ke warung Yuk Nah dibekukan.

Yuk Nah membenarkan. Wajah Kliwon tampak sumringah, dan saya pun begitu. Tidak banyak waktu ketika Yuk Nah langsung membenarkan pandangan kami tentang isi perempuan.

Tingginya AKI, kata Yuk Nah, bukan sekadar urusan teknis medis. Ada kegagalan sistemik. Sebut misalnya, kemiskinan ekstrem yang katanya sudah tidak ada lagi, infrastruktur kesehatan minimnya edukasi kesetaraan reproduksi, dan tentu saja masalah tingginya angka perkawinan anak.

Baca Juga :  Asal Usul Kata BAJINGAN, Yang Kini Mengalami Pergeseran Makna

“Setiap angka dalam statistik kematian ibu, mestinya dianggap sebagai tamparan keras bagi jaminan kesehatan negara,” ungkap Yuk Nah

Sekali lagi, setelah berkali-kali, tiga laki-laki itu mengangguk dalam-dalam.

Pada akhirnya, pemuliaan puncak kepada ibu adalah membongkar ideologi dan struktur patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi rentan. Bentuknya, memberlakukan kebijakan cuti melahirkan yang adil bagi ibu dan ayah, menyediakan akses layanan kesehatan reproduksi, penghapusan perkawinan anak, dan jaminan perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, dan seksual.

“Bukan MBG?” celetuk Pakde No.

Yuk Nah hanya melirik dan tersenyum sambil melangkah ke arah kompor gas yang belum dimatikan padahal nasinya sudah matang.

Tiga laki-laki itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka berusaha menafsirkan makna lirikan dan senyum Yuk Nah.

Senja makin merendah, tiga laki-laki itu belum berhasil menemukan maknanya. (*/38)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini