Seri Buku: Makanan Khas Lampung Lempok Durian dan Pi’il Pesenggiri, Menjaga Martabat dalam Tradisi. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh (kampung adat) di Lampung Timur, hiduplah seorang gadis bernama Rukmini. Ia dikenal sebagai putri seorang Punyimbang, tetua adat yang disegani dalam masyarakat Pepadun (golongan masyarakat adat Lampung pedalaman yang menganut sistem kepemimpinan musyawarah dan pencapaian gelar).
Rukmini memiliki kegemaran yang tak biasa bagi anak seusianya. Setiap musim durian tiba, ia tak sekadar memakan buahnya. Ia mengumpulkan daging durian yang lembek, lalu duduk berjam-jam di dapur adat keluarganya, mengaduk kuali besar di atas tungku kayu bakar.
“Nak Rukmini, mengapa kau bersusah payah membuat lempok?” tetangganya sering bertanya. “Bukankah lebih nikmat memakan durian langsung dari pohonnya?”
Rukmini hanya tersenyum. Tangannya tak berhenti mengaduk. Keringat bercucuran. Bau durian yang pekat memenuhi seluruh dapur.

Suatu hari, seorang saudagar kaya dari negeri seberang datang ke kampungnya. Ia terkenal sombong dan suka meremehkan orang-orang kampung. Saudagar itu membawa kabar bahwa ia akan membeli seluruh hasil bumi dengan harga murah, atau tidak jadi membeli sama sekali.
Semua warga gelisah. Mereka takut tidak bisa menjual hasil kebun mereka.
Rukmini, yang saat itu sedang menyelesaikan lempok buatannya yang ke-100, menghadap saudagar itu. Dengan santun namun tegas, ia berkata:
“Wahai saudagar, kau boleh menawar harga. Tapi ingatlah: lempok ini dibuat bukan dengan mudah. Butuh tiga hingga empat jam pengadukan tanpa henti. Butuh kesabaran yang tak semua orang punya. Jika kau tak menghargai kerja keras kami, kau tak pantas membawa pulang secuil pun dari kampung kami.”
Saudagar itu terdiam. Ia tak menyangka seorang gadis kampung berani berbicara seperti itu.
Akhirnya, saudagar itu membeli hasil bumi warga dengan harga wajar. Sebelum pulang, ia meminta satu toples lempok buatan Rukmini.
“Aku belajar sesuatu hari ini,” katanya. “Harga diri tak bisa dibeli dengan uang.”

Lempok durian adalah salah satu kuliner tradisional yang sangat populer di Lampung. Bagi masyarakat Lampung Timur khususnya, lempok bukan sekadar camilan manis. Ia adalah cerminan ketekunan dan kesabaran.
Sekilas, lempok mirip dengan dodol durian. Namun ada perbedaan mendasar: lempok dibuat dengan proporsi daging durian yang lebih banyak. Bahan dasarnya sederhana: daging durian segar berkualitas, gula pasir atau gula aren, dan sedikit garam. Tapi jangan tertipu oleh kesederhanaan bahan. Proses pembuatannya menguji kesabaran.
Dalam pembuatan tradisional, daging durian dicampur dengan gula lalu dimasak di atas tungku kayu bakar selama berjam-jam. Si pembuat lempok harus terus mengaduk adonan tanpa henti. Jika berhenti walau sejenak, adonan akan gosong di dasar kuali. Jika terburu-buru menaikkan api, teksturnya tak akan kenyal sempurna.
Setelah matang, lempok dibungkus menggunakan daun opeh, pelepah pisang kering, lalu dibakar sebentar agar tahan lebih lama. Semua ini dilakukan dengan cara tradisional oleh para perajin lokal yang berpengalaman.
Bukankah ini gambaran sempurna tentang kesabaran?
Di era serba instan seperti sekarang, masyarakat Lampung tetap mempertahankan proses panjang pembuatan lempok. Mereka mengajarkan bahwa sesuatu yang manis dan berharga tak bisa dihasilkan dengan tergesa-gesa.

Baca Juga :  Gelar Pusaka, Antara Kewajiban dan Kebanggaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Cerita tentang lempok dan keberanian Rukmini menghadapi saudagar sombong itu tak lepas dari falsafah Pi’il Pesenggiri. Dalam tatanan hidup masyarakat adat Lampung, Pi’il Pesenggiri adalah nilai fundamental yang menjadi landasan berpikir, bertindak, dan berperilaku.

Apa sebenarnya Pi’il Pesenggiri? Secara filosofis, ia dimaknai sebagai “penempatan diri seseorang dalam tatanan kehidupan adat istiadat”. Ia adalah tuntunan hidup yang mengatur hak dan kewajiban seseorang, baik dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, maupun bermasyarakat.
Pi’il Pesenggiri bukanlah konsep tunggal. Ia terwujud dalam lima pilar yang saling terkait:
1. Pesenggiri (harga diri dan kehormatan)
2. Juluk-Adok (gelar kehormatan)
3. Nemui Nyimah (keramahan dan saling memberi)
4. Nengah Nyappur (keterbukaan dan bersosialisasi)
5. Sakai Sambayan (gotong-royong)

Dalam konteks lempok dan keberanian Rukmini, kita bisa melihat Pesenggiri dalam tindakannya. Ia tidak marah-marah. Ia tidak merendahkan saudagar itu. Namun ia tegas menyatakan bahwa kerja keras dan harga diri tak bisa dihargai dengan harga murah.
Seperti kata pepatah Lampung kuno yang sering diucapkan para Punyimbang: “Malu betul orang Lampung nan mak nga reti jama pesenggiri”, sungguh memalukan orang Lampung yang tak mengerti harga diri.

Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat, pembuatan lempok durian konon dimulai dari wilayah Bengkalis yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Sumatra bagian Selatan, termasuk Lampung. Namun masyarakat Lampung telah mengembangkannya menjadi ciri khas tersendiri.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, kitab adat yang menjadi rujukan para Punyimbang Lampung, terdapat petuah yang relevan dengan filosofi pembuatan lempok: “Hujani dilom mak ulah, panas ghik dilom mak ngelapah. Sai ngelom ghik sai mak sanggup ngebah lempok nihan, dialom nian bejuluk adok.”
Kurang lebih artinya: “Hujan jangan dihindari, panas jangan dibeda-bedakan. Mereka yang sanggup mengaduk lempok hingga matang, di dalamnya terkandung gelar kehormatan.”
Analisis sederhana dari kutipan ini: pembuatan lempok adalah metafora kehidupan. Hujan dan panas, suka dan duka, harus dihadapi dengan sabar. Seseorang yang sanggup bertahan dalam proses yang panjang dan melelahkan akan menuai hasil manis, sekaligus layak menyandang gelar kehormatan (juluk-adok).
Ini sesuai dengan penelitian yang mencatat bahwa dalam masyarakat Pepadun, siapa pun bisa mengambil gelar asalkan mempunyai kemampuan dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Seperti Rukmini dalam cerita, ia tak punya gelar, tetapi tindakannya menunjukkan ia layak dihormati.

Baca Juga :  Peran Pemangku Adat Dalam Menjaga Harmoni Sosial Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Apakah nilai Pi’il Pesenggiri ini sejalan dengan ajaran Islam? Sangat sejalan, dan para tetua adat Lampung selalu menegaskan bahwa adat tidak boleh bertentangan dengan syarak.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 70:

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ
wa laqad karramnâ banî âdama wa ḫamalnâhum fil-barri wal-baḫri wa razaqnâhum minath-thayyibâti wa fadldlalnâhum ‘alâ katsîrim mim man khalaqnâ tafdlîlâ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. Al-Isra [17]: 70)

Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai penegasan bahwa Allah memberikan kemuliaan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Kemuliaan itu melekat pada diri setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan. Dalam falsafah Pi’il Pesenggiri, kemuliaan ini dijaga melalui sikap dan perilaku, tidak merendahkan diri, tidak pula menyombongkan diri di hadapan orang lain.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Muslim: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim No. 91)

Hadis ini mengajarkan bahwa harga diri sejati bukanlah kesombongan. Sebaliknya, orang yang benar-benar memiliki harga diri adalah yang berani mengakui kebenaran dan menghormati orang lain.
Rukmini dalam cerita menunjukkan hal ini. Ia tidak meremehkan saudagar itu, namun juga tidak membiarkan dirinya diremehkan. Ia menolak ketidakadilan dengan santun, inilah Pesenggiri yang hakiki.
Selaras dengan itu, nilai-nilai Pancasila juga hidup dalam Pi’il Pesenggiri. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menekankan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Tidak boleh ada yang dihinakan atau direndahkan. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga menghendaki agar hasil kerja keras setiap orang dihargai secara adil, bukan dieksploitasi oleh pihak yang lebih kuat.

Dalam masyarakat adat Lampung, baik Pepadun maupun Saibatin, gelar (adok) memiliki tingkatan yang beragam. Di masyarakat Pepadun, gelar yang dapat diperoleh melalui upacara Cakak Pepadun antara lain Suttan, Raja, Pangeran, hingga Dalom.
Sementara di masyarakat Saibatin (golongan pesisir yang menganut sistem garis keturunan), gelar diwariskan melalui jalur darah. Namun esensinya sama: gelar adalah amanah untuk melindungi dan mengayomi, bukan untuk menindas.
Menurut naskah Kutipan Khabah yang menjadi pedoman adat Lampung, kelima falsafah Pi’il Pesenggiri adalah jiwa yang menghidupkan raga adat. Seseorang dengan gelar tinggi tapi berperilaku tercela akan kehilangan dua hal sekaligus: baik nama baiknya (juluk-adok) maupun harga dirinya (pesenggiri).

Kembali ke kisah Rukmini. Setelah saudagar itu pergi, para tetua kampung berkumpul. Mereka sepakat bahwa Rukmini layak mendapat penghormatan.
“Nak Rukmini,” kata Punyimbang tertua, “kau telah menjaga pesenggiri kampung ini. Mulai hari ini, kau kuberi gelar Suttan Ratu Muli. Jagalah nama baik ini seperti kau menjaga api di bawah kuali lempok-mu, jangan sampai padam, jangan sampai membakar yang tak semestinya.”
Rukmini menunduk hormat. Di tangannya, masih tergenggam sepotong lempok yang baru selesai ia bungkus.
“Nyai,” katanya pelan, “lempok ini mengajarkanku bahwa yang manis butuh waktu lama. Harga diri juga begitu, ya? Ia tak datang instan. Ia dibangun dari kesabaran, kerja keras, dan keteguhan hati.”
Sang Punyimbang tersenyum. “Kau telah paham, Nak. Itulah Pi’il Pesenggiri.”
Lempok durian mengajarkan bahwa kesabaran adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kemanisan sejati. Dalam proses pembuatannya yang berjam-jam, tersimpan pelajaran tentang ketekunan, ketelitian, dan ketulusan.
Dan di situlah Pi’il Pesenggiri bersemi: bukan sekadar teori, tetapi praktik hidup sehari-hari. Menjaga harga diri bukan berarti sombong. Menghormati orang lain bukan berarti merendahkan diri. Seperti lempok yang manisnya berasal dari proses panjang, demikian pula martabat, ia tak bisa dipaksakan, ia harus ditempa.
Mari kita jaga warisan ini. Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, jangan sampai kita lupa bahwa nilai-nilai luhur Pi’il Pesenggiri, kesabaran, ketekunan, harga diri, dan keberanian moral, tetap relevan untuk diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena pada akhirnya, seperti lempok yang legit di lidah, martabat yang terjaga akan terasa manis sepanjang masa.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Buku 4: "Besan dan Balas Pantun, Adat yang Menyatukan" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Anindyadevi Aurellia. (2025). Selain Keripik Pisang, Ini 7 Oleh-oleh Khas Lampung yang Berkesan. detikSumbagsel.
2. Garuda Kemdikbud. (2019). Piil Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
3. Anggi Rhaisa. (2024). Pas Banget Dikonsumsi saat Buka Puasa, Ini Resep Lempok Durian Camilan Tradisional Lampung Timur Super Legit. Radar Lampung.
4. Lampungpro.co. (2023). Libur Nataru, ini Delapan Oleh-Oleh Khas Lampung yang Wajib Dibawa Pulang.
5. M Taufik. (2024). Delapan Oleh-Oleh Khas Lampung yang Wajib Dibawa Pulang. Lampung Insider.
6. Eka Sofia Agustina. (2015). Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat Adat Lampung Waykanan. Universitas Lampung.
7. Retno Fajarwati, Amien Wahyudi. (2018). Identifikasi Nilai-nilai Bimbingan Pribadi Sosial dalam Falsafah Masyarakat Lampung. Universitas Ahmad Dahlan.
8. Mohammad Medani Bahagianda. (2026). Pepadun dan Saibatin, Dua Saudara, Satu Rumpun. Portal Berita Natar Agung.
9. Wikipedia. (2024). Suku Pubian.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini