Kurban dan Ujian Kepribadian Sosial: Kajian Psikologi di Balik Kericuhan dan Penyimpangan Pembagian Daging Kurban di Indonesia. Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

0

nataragung.id – Metro – Ibadah kurban sejatinya merupakan simbol ketakwaan, kepedulian sosial, dan pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun dalam praktiknya, pembagian daging kurban di Indonesia tidak jarang diwarnai berbagai persoalan, mulai dari pungutan liar, kericuhan massa, antrean berdesakan, konflik sosial, hingga masalah lingkungan akibat sampah plastik. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kurban bukan sekadar masalah teknis distribusi, melainkan juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis masyarakat, pengendalian diri, moralitas sosial, budaya kolektif, dan kualitas keikhlasan dalam beribadah.

Pungutan Liar dan Krisis Moral Sosial

Kasus pungutan liar dalam pembagian daging kurban di Bantargebang, Kota Bekasi menjadi contoh bagaimana nilai ibadah dapat tercampur dengan kepentingan pribadi. Warga yang telah memegang kupon masih dimintai uang tebusan oleh oknum tertentu.
Dalam kajian psikologi moral, Lawrence Kohlberg (1958) menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia bergerak dari orientasi kepentingan pribadi menuju prinsip etika universal. Praktik pungli menunjukkan perilaku yang masih berada pada tahap moralitas rendah, yaitu mendahulukan keuntungan pribadi dibanding nilai kemanusiaan dan ajaran agama. Fenomena ini juga berkaitan dengan teori social learning dari Albert Bandura (1977). Ketika penyimpangan kecil terus dibiarkan, masyarakat dapat menganggapnya sebagai hal wajar sehingga perilaku tersebut terus diwariskan dalam kehidupan sosial.

Kericuhan Massa dan Psikologi Kerumunan

Kericuhan pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal yang menyebabkan warga pingsan hingga meninggal dunia menunjukkan kuatnya pengaruh psikologi massa. Dalam situasi antrean padat, individu sering kehilangan kontrol diri dan ikut terbawa perilaku kolektif. Teori “crowd psychology” dari Gustave Le Bon (1895) menjelaskan bahwa seseorang dalam kerumunan cenderung kehilangan identitas pribadi dan lebih mudah bertindak impulsif. Dorongan emosional seperti takut kehabisan, panik, dan ikut-ikutan dapat memicu tindakan saling dorong yang membahayakan. Selain itu, teori “frustration-aggression” dari John Dollard (1939) menjelaskan bahwa rasa frustrasi karena takut tidak mendapatkan bagian dapat berubah menjadi perilaku agresif. Hal inilah yang sering terlihat ketika warga mulai menyerobot antrean atau memaksa masuk ke lokasi pembagian. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan kesabaran, disiplin antre, dan pengendalian emosi dalam kegiatan sosial keagamaan.

Baca Juga :  Apakah Anda Termasuk Penerima Dana PIP...? Cek disini...!!! MAJALAH NATAR AGUNG

Membengkaknya Panitia dan Hilangnya Nilai Keikhlasan

Fenomena lain yang sering terjadi adalah membengkaknya jumlah panitia, baik panitia resmi maupun “panitia tidak resmi” yang ikut membantu secara informal. Tidak sedikit pihak yang sekadar ikut nimbrung saat penyembelihan dan pembagian, lalu berharap memperoleh bagian daging sebagai imbalan kerja. Padahal dalam syariat Islam, daging dan kulit hewan kurban tidak boleh dijadikan upah bagi jagal maupun panitia karena hakikatnya merupakan sedekah bagi masyarakat yang berhak menerima. Dalam teori “social exchange”, George Homans (1958) menjelaskan bahwa manusia cenderung terlibat dalam aktivitas sosial apabila ada keuntungan atau imbalan yang diharapkan. Akibatnya, semangat gotong royong yang seharusnya dilandasi keikhlasan dapat berubah menjadi orientasi mencari “jatah daging”. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran makna ibadah dari pengabdian spiritual menuju kepentingan material.

Ketidakadilan Distribusi dan Luka Psikologis Sosial

Budaya “azas pemerataan” yang tidak tepat sasaran juga sering menyebabkan distribusi daging menjadi kurang maksimal. Karena terlalu banyak panitia dan orang sekitar yang memperoleh bagian, masyarakat umum, terutama fakir miskin justru menerima porsi sangat sedikit, bahkan terkadang hanya beberapa ons. Situasi ini dapat memunculkan rasa kecewa, kecemburuan sosial, dan persepsi ketidakadilan. Dalam teori “equity” dari John Stacey Adams (1963), manusia akan merasa puas apabila memperoleh perlakuan yang dianggap adil dan proporsional. Ketika masyarakat melihat panitia menerima bagian lebih besar dibanding warga yang membutuhkan, maka kepercayaan sosial (social trust) terhadap panitia maupun lembaga keagamaan dapat menurun. Padahal hikmah kurban sejatinya adalah memperkuat ukhuwah, empati, dan solidaritas sosial. Karena itu, pengelolaan kurban membutuhkan transparansi, profesionalisme, dan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

Baca Juga :  DUNIA WANITA - 9 Tips Hilangkan Stres Pada Wanita, Nomor 6 Paling Ampuh

Larangan Upah Daging dan Makna Spiritual Kurban

Praktik menjadikan daging atau kulit kurban sebagai upah kerja menunjukkan bergesernya orientasi ibadah dari ketulusan menuju transaksi material. Viktor Frankl melalui teori “logotherapy” (1946) menjelaskan bahwa manusia yang kehilangan makna spiritual akan lebih mudah terjebak pada orientasi materialistik. Padahal inti ibadah kurban adalah keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Karena itu, menjaga niat dan etika distribusi menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan spiritual masyarakat.

Sampah Plastik dan Psikologi Lingkungan

Masalah lain yang mulai mendapat perhatian adalah meningkatnya sampah plastik saat pembagian daging kurban. Imbauan pemerintah daerah seperti di Ambon agar warga membawa wadah sendiri menunjukkan pentingnya kesadaran ekologis dalam pelaksanaan ibadah. Dalam kajian environmental psychology, perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan sosial dan lingkungan sekitar. Ketika masyarakat dibiasakan menggunakan wadah ramah lingkungan, kesadaran kolektif menjaga bumi akan tumbuh secara perlahan. Hal ini juga selaras dengan konsep khalifah fil ardh dalam Islam, bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Manfaat Ajaib Bawang Putih untuk Kesehatan, Nomor 5 Paling Banyak Dicari - MAJALAH NATAR AGUNG

Solusi Psikologis dan Sosial

Untuk mencegah kericuhan dan penyimpangan, banyak panitia kini menggunakan sistem kupon terstruktur maupun pembagian door-to-door. Metode ini lebih manusiawi karena mengurangi penumpukan massa dan menjaga martabat penerima kurban.
Dari sisi psikologi sosial, pendekatan ini membantu menciptakan rasa aman, mengurangi kecemasan, dan meminimalkan perilaku agresif dalam kerumunan. Selain itu, edukasi tentang empati, kesabaran, disiplin sosial, dan keikhlasan perlu terus diperkuat melalui khutbah, pengajian, serta pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Panitia kurban juga idealnya dibatasi sesuai kebutuhan dan bekerja dengan semangat ibadah, bukan orientasi memperoleh keuntungan pribadi.

Penutup
Kasus pembagian daging kurban di Indonesia menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya membutuhkan kesalehan ritual, tetapi juga kedewasaan psikologis dan sosial. Pungli, kericuhan massa, membengkaknya panitia, ketidakadilan distribusi, hingga masalah lingkungan menjadi cermin bahwa manusia masih perlu belajar mengendalikan ego, emosi, dan kepentingan pribadi. Kurban sejatinya bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan juga menyembelih sifat serakah, egoisme, dan ketidakpedulian sosial. Ketika nilai-nilai keikhlasan, keadilan, dan empati benar-benar diwujudkan, maka ibadah kurban akan menjadi sarana membangun masyarakat yang lebih beradab, manusiawi, dan penuh kepedulian sosial. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini