Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 9 – Falsafah Hidup Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami berlayar dari ujung barat Sumatera. Konon, perahu mereka tidak hanya membawa keluarga dan harta, tetapi juga tujuh butir mutiara bernama Piil Pesenggiri, yang lima di antaranya masih kita pegang erat hingga kini.
Alkisah, sekitar abad ke-14, di lereng Gunung Pesagi, tujuh orang pemuda berkumpul di bawah pohon kayu yang rindang. Mereka berasal dari buay (klan) yang berbeda, namun satu penderitaan menyatukan mereka. Negeri mereka porak-poranda karena penghianatan seorang kerabat yang tak memegang janji.
“Kita butuh pegangan,” kata tertua mereka yang bernama Umpu Berayak. “Bukan sekadar aturan yang tertulis di kulit kayu, melainkan falsafah yang hidup di dada.”
Teman-temannya terdiam. Lalu Umpu Berayak melanjutkan, “Mulai hari ini, kita sepakat: harga diri (Pesenggiri) adalah darah kita. Keramahan (Nemui Nyimah) adalah wajah kita. Keterbukaan (Nengah Nyappur) adalah pintu kita. Gotong royong (Sakai Sambayan) adalah tangan kita. Dan gelar kehormatan (Juluk Adok) adalah mahkota yang harus kita pertanggungjawabkan.”
Konon, dari pertemuan itulah lahir falsafah Piil Pesenggiri yang hingga kini menjadi ruh orang Lampung. Bukan sekadar kata-kata indah, melainkan kontrak sosial pertama di tanah ini.

Pesenggiri adalah pilar pertama. Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti yang disimpan turun-temurun oleh para Punyimbang (penyimbang atau pemimpin adat), disebutkan: “Kaghom naghuk ghik pesenggiri, sai peghlom gham ulun Lampung.”
(Dengan harga diri dan kehormatan, kami berdiri sebagai orang Lampung).
Saya ingin bertanya: apa jadinya orang yang tak punya Pesenggiri? Menurut cerita lisan masyarakat Pepadun (sistem adat pedalaman), orang seperti itu disebut jolma jadah, manusia yang tak punang raso malu. Ia tak akan segan mencuri, berbohong, atau mengkhianati saudaranya sendiri.
Pesenggiri inilah yang bersuara lantang saat seseorang merasa terhina. Bukan berarti kita pendendam. Justru sebaliknya: rasa malu yang tinggi membuat orang Lampung lebih memilih mati daripada menanggung aib.

Dalam Islam, ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW: “Al-haya’u minal iman” (Rasa malu itu sebagian dari iman) [HR. Bukhari dan Muslim]. Bahkan dalam QS. Al-Isra ayat 23,
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
wa qadlâ rabbuka allâ ta‘budû illâ iyyâhu wa bil-wâlidaini iḫsânâ, immâ yablughanna ‘indakal-kibara aḫaduhumâ au kilâhumâ fa lâ taqul lahumâ uffiw wa lâ tan-har-humâ wa qul lahumâ qaulang karîmâ
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Lalu apa hubungannya dengan Pancasila? Sila kedua: “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Tak mungkin kita berperilaku adil jika kita tak punya kehormatan diri. Pesenggiri adalah fondasi dari peradaban.
Pilar kedua adalah Juluk Adok. Mungkin ada yang bertanya: “Kenapa orang Lampung senang banget pakai gelar? Apa nggak sombong?”
Jawabannya: gelar di Lampung bukan untuk sombong, tapi untuk disandang sebagai amanah.
Dalam masyarakat Saibatin (sistem adat pesisir), gelar seperti Suttan, Radin, Kimas, atau Dalom diwariskan secara turun-temurun. Di masyarakat Pepadun, gelar seperti Umpu, Khai, atau Punyimbang diberikan berdasarkan kontribusi dan musyawarah.
Ada petuah tua yang mengatakan: “Bejuluk ulah dilom tando, beadok ulah dilom hatinya.” (Bergelar dalam dokumen, bertanggung jawab dalam hati).
Artinya, jangankan memanfaatkan gelar untuk keuntungan pribadi, seseorang yang menyandang gelar justru harus lebih dulu berkorban untuk orang banyak. Jika tidak, Punyimbang dan masyarakat berhak mencabut gelarnya dalam sidang adat. Inilah bentuk kontrol sosial yang luar biasa.

Menurut syarak, gelar tidak pernah membuat seseorang mulia di sisi Allah. Bukankah QS. Al-Hujurat ayat 13 sudah menegaskan:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Namun, gelar Juluk Adok bisa menjadi alat untuk menjaga Pesenggiri jika disandang dengan niat melayani, bukan dilayani.
Pilar ketiga, Nemui Nyimah, berarti keramahan dan sikap saling memberi. Dalam kehidupan orang Lampung, siapapun yang datang ke rumah kita, entah tamu, saudara, atau orang asing, harus disambut dengan wajah berseri dan tidak boleh pulang dengan tangan hampa.
Dulu, kakek saya sering berkata, “Anakku, kalau ada tamu datang padahal persediaan beras tinggal segenggam, masak saja sekaligus. Biar kita yang puasa, asal tamu kenyang.”
Saya sempat berpikir, bukankah ini berlebihan? Namun makin tua, makin saya pahami: Nemui Nyimah adalah refleksi dari QS. An-Nur ayat 27
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tadkhulû buyûtan ghaira buyûtikum ḫattâ tasta’nisû wa tusallimû ‘alâ ahlihâ, dzâlikum khairul lakum la‘allakum tadzakkarûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran.”

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 2: Mupok Mufaham, Makan Bersama sebagai Media Penyelesaian Konflik. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di tingkat masyarakat, Nemui Nyimah membangun modal sosial yang kuat. Sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”, tumbuh subur karena pendatang dari Jawa, Sunda, Bali, Batak Karo, dan Tionghoa diterima dengan hangat oleh masyarakat Lampung.
Pilar keempat adalah Nengah Nyappur, yaitu keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Orang Lampung tidak suka menyendiri. Kita punya pepatah: “Mak ngelappuk dilom sugnyaman” (Jangan mengurung diri dalam kesendirian).
Dalam konteks modern, Nengah Nyappur mendorong kita untuk berbaur tanpa kehilangan identitas. Lihat saja di kota-kota di Lampung: kita bisa menemukan masjid di samping pura, gereja di samping vihara. Semua hidup rukun.
Hal ini sangat selaras dengan prinsip moderasi beragama dan nilai-nilai Islam tentang ukhuwah basyariyah (persaudaraan antarmanusia). Bahkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, Allah menyebut
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Dan tahukah Anda? Nengah Nyappur juga menggemakan sila ketiga sekaligus keempat Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Mustahil berkerakyatan jika kita tidak pandai bergaul dan berembuk.
Pilar kelima, penutup sekaligus pengikat, adalah Sakai Sambayan. Inilah semangat bahu-membahu. Ketika warga membangun masjid, tidak ada istilah “itu urusan orang kampung seberang”. Ketika ada yang meninggal, semua tetangga datang tanpa diundang.
Dulu, dalam sejarah marga Abung Siwo Megou (Sembilan marga Abung yang bersatu), Sakai Sambayan menjadi kunci mereka memenangkan peperangan melawan penjajah Belanda. Jika hanya satu marga yang berperang, pasti kalah. Namun sembilan marga yang bahu-membahu membuat Belanda kewalahan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaff ayat 4:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
innallâha yuḫibbulladzîna yuqâtilûna fî sabîlihî shaffang ka’annahum bun-yânum marshûsh
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.”

Baca Juga :  Gelar Adat Mahal, Ekonomi Rakyat Tertekan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sakai Sambayan adalah pondasi gotong royong yang tercermin dalam sila kelima Pancasila: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Mana mungkin ada keadilan sosial jika kita egois, tidak mau berbagi beban dan kebahagiaan?
Falsafah Piil Pesenggiri bukanlah warisan mati yang tinggal kita kenang. Ia adalah kompas moral yang terus menuntun langkah. Ia mengajarkan bahwa orang Lampung harus tegar (Pesenggiri), rendah hati (Nemui Nyimah), terbuka (Nengah Nyappur), bertanggung jawab (Juluk Adok), dan suka bekerja sama (Sakai Sambayan).
Dalam kitab Kuntara Raja Niti, yang disebut sebagai “kitab rujukan masyarakat Lampung mulai dari adat istiadat, kesenian, hingga sejarah”, ditegaskan bahwa jiwa dari semua falsafah ini adalah “sai bumi ruwa jurai” (satu tanah, dua peradaban). Pepadun dan Saibatin mungkin berbeda caranya, tapi sama ruhnya.
Akhirnya, mari kita rawat falsafah ini. Bukan dengan sekadar menghafalnya, melainkan dengan menghidupkannya dalam kesaharian. Sebab, ketika Piil Pesenggiri mulai luntur dari dada anak-anak muda Lampung, maka luntur pula identitas kita sebagai ulun Lampung.
Seperti kata Umpu Berayak di awal cerita: “Kaghom naghuk ghik pesenggiri, sai peghlom gham ulun Lampung.”
Tanpa falsafah, kita hanya sekadar tubuh yang berjalan tanpa arah. Dengan falsafah, kita adalah peradaban yang terus bersinar.

Daftar Pustaka
1. Kalifah, Diah Rizki Nur & Hidayah, Nurul. (2021). Pendekatan Antropologi pada Piil Pesenggiri Masyarakat Islam Lampung Pepadun. Jurnal Zawiyah, IAIN Kendari.
2. Muzakki, Ahmad. (2018). Introducing Local Genius-Based Harmony Education (Piil Pesenggiri) among the Indigenous People of Lampung. Penamas, Kemenag RI.
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Pepadun dan Saibatin, Dua Saudara, Satu Rumpun. Portal Berita Natar Agung.
4. Syahrul, Ninawati. (2011). Upaya Penyelamatan Naskah Kuno Lampung. Manuskripta, Vol. 1 No. 2.
5. Teraslampung.com. (2020). Balitbangda Lampung Gelar Diskusi Kitab Hukum Adat Kuntara Rajaniti.
6. Media Indonesia. (2026). Surat An-Nur: Makna, Asbabun Nuzul, Kandungan, dan Keutamaannya.
7. Media Indonesia. (2026). Surat Al-Isra: Makna, Asbabun Nuzul, dan Kandungan Pokok.
8. BINUS Library. Siger pada Suku Lampung.
9. ANTARA News. (2025). MPR RI Sosialisasi Empat Pilar melalui Kegiatan Seni Budaya Lampung.
10. Pemprov Lampung. (2025). Gubernur Apresiasi Kontribusi Masyarakat Karo dalam Pembangunan Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini