Seri Buku: Makanan Khas Lampung Kue Cucur dan Pi’il Pesenggiri, Keteguhan dalam Kehidupan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami bertutur tentang seorang gadis bernama Induk Balam. Ia tinggal seorang diri di sebuah surau kecil di pesisir Timur Lampung, dekat muara Way Sekampung. Suaminya, seorang pelaut tangguh, telah lama pergi merantau dan tak kunjung pulang. Setiap senja, Induk Balam akan menyalakan dapur dan menggoreng kue dari tepung beras dan gula aren yang mengental.
Aroma manis kue cucur selalu mengepul ke udara. Para nelayan yang pulang melaut kerap singgah. “Kak Balam, mengapa setiap hari kue ini selalu bundar dan padat?” tanya seorang anak nelayan kecil. Induk Balam tersenyum, “Nak, membuat kue cucur itu seperti menjaga hati. Apinya harus stabil. Jika tergesa-gesa, kue itu akan keras. Jika ragu-ragu, ia tak akan mengembang.”
Dalam tradisi lisan masyarakat Lampung pesisir, kue cucur dipercaya sebagai kue pembuka dalam upacara adat Cakak Pepadun atau Ngesambai. Adonan yang digoreng hingga mengembang melambangkan kebulatan tekad. Lubang di tengahnya bukanlah cacat, melainkan “mata hati”.
Menurut cerita, Induk Balam tak pernah mengubah resepnya meskipun banyak tetangga yang mulai mencampur bahan aneh-aneh. “Pi’il Pesenggiri (harga diri/kehormatan) itu seperti rasa kue ini. Jangan diubah hanya karena lidah orang berubah,” katanya tegas. Ketika musim paceklik tiba, gula sulit didapat, namun Induk Balam tetap bertahan membuat kue cucur meski hanya sedikit. Ia memilih berutang budi pada alam daripada menggadaikan prinsip.
Hingga suatu malam, sekelompok perompak datang. Mereka haus akan harta. Saat semua penduduk bersembunyi, Induk Balam duduk tenang di surau sambil mencetak kue. Perompak itu bertanya, “Wanita tua, apa yang kau lakukan?” Ia menjawab, “Aku sedang mengisi perutku dengan keteguhan. Kalian boleh ambil hartaku, tapi kalian takkan bisa mengambil Sakai Sambayan (gotong-royong) kami. Aroma kue ini sudah memanggil pendekar dari seberang.”
Tiba-tiba, terdengar bunyi gong di kejauhan. Para perompak lari tunggang-langgang. Konon, aroma kue cucur yang terbawa angin memang menjadi kode rahasia bahwa masyarakat sedang dalam bahaya. Ini adalah bentuk Nemui Nyimah (keramahan) yang dibalut strategi.
Dari situlah, Kue Cucur menjadi simbol Konsistensi.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 5 – Ungkapan yang Mengandung Nilai. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Cerita di atas bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia terukir dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti. Kitab ini adalah pedoman hukum adat masyarakat Lampung yang masih bisa dibaca aksaranya hingga kini. Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang asal-usul masyarakat Lampung yang berasal dari Sekala Brak (Puncak Gunung Pesagi).
Konon, cikal bakal masyarakat Lampung berasal dari empat orang Umpu (leluhur) yang datang dari Pagaruyung, Minangkabau. Mereka adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu Pernong, Umpu Nyerupa, dan Umpu Belunguh. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal struktur masyarakat adat yang kita kenal sekarang, termasuk sistem Pepadun (masyarakat adat yang berbasis musyawarah) dan Saibatin (masyarakat adat yang berbasis keturunan/konvensional).
Dalam naskah Kuntara Raja Niti disebutkan: “Sai bumi dipakai wat, sai khatong digawi wat, sai lom dipakai gham wat.”
Kurang lebih artinya: “Apa yang dipijak adalah bumi, apa yang dititih adalah aturan, apa yang tak dipakai (dilanggar) adalah kita (yang merugi).” Ini adalah pengingat bahwa konsistensi pada aturan adat adalah fondasi kehidupan.
Di masyarakat Saibatin (sistem adat yang memegang teguh garis keturunan) dan Pepadun (sistem adat yang mengedepankan peran serta masyarakat dalam musyawarah), kita mengenal gelar adat seperti Suttan, Dalom, Batin, Khaja, Radin, Kimas, atau Punyimbang. Gelar-gelar ini bukan sekadar nama, melainkan “kontrak sosial”. Seorang Punyimbang (pemimpin adat tertinggi) bertanggung jawab atas Pesenggiri anak buahnya.
Seperti adonan kue cucur yang tak berubah, seorang Punyimbang zaman dulu harus memiliki Juluk-Adok (gelar kehormatan) yang didapat melalui proses panjang, bukan karena uang. Dalam tradisi Begawi (upacara adat pemberian gelar pada masyarakat Pepadun), seseorang dinilai dari seberapa kuat ia menjaga Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur (terbuka terhadap pertemanan dan interaksi sosial).

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 8 – Belajar Bahasa Lampung Itu Menyenangkan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, tentu kita bertanya: Apakah ritual adat ini menyimpang? Sama sekali tidak. Justru nilai-nilai Pi’il Pesenggiri sejalan dengan syariat.
Falsafah Pesenggiri (harga diri) dalam Islam dikenal dengan konsep menjaga ‘Irdh (kehormatan). Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) saat peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Mekkah), di mana Rasulullah SAW ingin menghapus sistem kesukuan jahiliyah namun tetap mengakui bahwa perbedaan suku adalah untuk ta’aruf (saling mengenal), bukan untuk sombong. Hal ini sama persis dengan semangat Nengah Nyappur di Lampung. Adat mengajarkan kita untuk terbuka, tapi tetap memegang teguh prinsip.
Nilai Sakai Sambayan (gotong-royong) adalah manifestasi nyata dari sila ke-3 dan ke-5 Pancasila. Dalam sebuah pemanggilan adat (kerja bakti massal), tidak ada beda antara si kaya dan si miskin. Semua turun ke sawah atau membangun rumah. Bahkan, masyarakat adat Pepadun dikenal sangat egaliter. Gelar bisa diraih oleh siapa saja, kapan saja, melalui upacara Begawi, tanpa memandang jenis kelamin atau status perkawinan. Ini bukti bahwa budaya Lampung anti-diskriminasi dan sangat menghargai demokrasi musyawarah.

Kembali ke kue cucur. Bahan bakunya adalah beras (ketan), gula aren (manise), dan minyak. Dalam kacamata spiritual, tiga unsur ini melambangkan Taqwa (ketakwaan sebagai inti), Ikhlas (gula yang meleleh memberi rasa), dan Semangat (panasnya ujian kehidupan). Kue cucur digoreng dalam wajan terbalik (wajan bengkah), yang oleh para ulama dahulu dijadikan simbol “sabar dalam tekanan”.
Saat ini, kita seringkali terpaku pada modernisasi. Banyak anak muda yang malu bertutur bahasa Lampung atau enggan memakai tapis. Mereka pikir Pi’il Pesenggiri itu kuno. Padahal, seorang putra daerah yang kehilangan Pesenggiri akan mudah diombang-ambingkan oleh budaya luar yang tak tentu arah.
Sejarah mencatat, Kesultanan Banten sangat terhubung dengan Lampung karena komoditas lada. Dalam prasasti Dalung Bojong (peninggalan abad ke-17), disebutkan bagaimana para bangsawan Lampung dengan teguh memegang perjanjian dagang tanpa curang, meskipun ditawari imbalan lebih besar oleh bangsa asing. Itulah wujud Pesenggiri: teguh pada komitmen.
Tujuan kita bukanlah mengurung diri dalam formalisme adat yang kaku. Tetapi menanamkan jiwa “Keteguhan”. Seperti kue cucur yang padat di luar, lembut di dalam, masyarakat Lampung harus tegas pada korupsi (karena merusak Pesenggiri), namun lembut pada sesama.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 9 – Nilai Piil Pesenggiri dalam Tata Krama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Akhir kata, marilah kita jaga marwah ini. Biarkan kue cucur tetap dijual di pasar-pasar, biarkan Punyimbang tetap memberi petuah di balairung, dan biarkan nilai-nilai Pancasila tetap hangat dalam setiap sendi Nemui Nyimah kita. Ingatlah pesan leluhur dalam Kuntara Raja Niti: “Konsistensi adalah perisai dari kehinaan.”
Sebagaimana Kue Cucur takkan mengembang jika apinya naik turun, begitu pula hidupmu takkan mulia jika prinsipmu plin-plan.

Daftar Pustaka ( Ringkasan ):
* Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno/Lontar).
* Al-Qur’an Surat Al-Hujurat: 13 dan kitab tafsir Asbābun Nuzūl.
* Barusman, R.M. (1984). Cerita Rakyat Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini