nataragung.id – Pemanggilan – Hidup tidak pernah lepas dari ujian. Ada kalanya seseorang diuji dengan kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan orang yang dicintai, fitnah, kegagalan, atau berbagai persoalan lainnya. Dalam menghadapi semua itu, Allah Subḥanahu wata’ala tidak membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa petunjuk. Allah mengajarkan sebuah jalan yang agung untuk menghadapi segala masalah, yaitu dengan kesabaran dan shalat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa sabar dan shalat adalah dua senjata utama seorang mukmin. Sabar menjaga hati agar tetap teguh menghadapi takdir Allah, sedangkan shalat menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya, tempat ia mengadu, memohon pertolongan, dan menyerahkan segala urusannya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga memberikan teladan yang indah. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Apabila Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadapi suatu perkara yang berat, beliau segera melaksanakan shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319)
Namun Allah menjelaskan bahwa tidak semua orang mampu menjadikan shalat sebagai penolong. Shalat terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Lalu siapakah mereka?
Allah melanjutkan firman-Nya:
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa kepada-Nyalah mereka akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 46)
Khusyuk lahir dari keyakinan tentang akhirat. Seseorang akan mudah bersabar dan ringan menunaikan shalat apabila hatinya selalu terhubung dengan hari ketika ia berdiri di hadapan Allah. Ia menyadari bahwa dunia hanyalah tempat singgah yang sementara, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal.
Karena itu, salah satu cara meraih kekhusyukan adalah dengan selalu mengaitkan setiap amal dengan kehidupan akhirat. Mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, meskipun terasa berat bagi hawa nafsu. Dan meninggalkan segala sesuatu yang membawa kesengsaraan di akhirat, meskipun tampak nikmat dan menyenangkan di dunia.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2459)
Maka ketika masalah datang, jangan hanya sibuk mencari jalan keluar dengan kekuatan diri sendiri. Datangilah Allah dengan kesabaran dan shalat. Perkuat keyakinan bahwa setiap kesulitan akan berakhir, setiap air mata akan diperhitungkan, dan setiap amal akan dibalas dengan sempurna di akhirat.
Barang siapa yang hatinya dipenuhi keyakinan akan perjumpaan dengan Allah, maka shalat tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Sabar tidak lagi terasa sebagai penderitaan, melainkan jalan menuju kemuliaan. Dan segala urusan dunia akan tampak kecil dibandingkan kebahagiaan abadi yang menantinya di sisi Allah Subḥanahu wata’ala.
Semoga kita jadikan Allah termasuk hamba-hamba-Nya yang khusyuk, yang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam setiap urusan, serta yang selalu mengingat perjumpaan dengan-Nya dan kehidupan akhirat. Aamiin. (*/269).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

