Buku Seri: Piil Pesenggiri, Falsafah Kehormatan Orang Lampung dalam Cahaya Islam. Seri 3: Piil dalam Sendi Adat Saibatin dan Pepadun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Matahari sore itu mulai merunduk di ufuk barat. Di sebuah sesat (balai adat) di daerah Krui, para tetua dari Saibatin berkumpul. Sementara itu, di kampung pedalaman Way Kanan, kaum Pepadun juga duduk bersila di bawah pohon rindang. Dua tempat berbeda, dua tata cara yang tak sama, namun satu falsafah yang mereka genggam erat.
Radin Perkasa tersenyum melihat kebingungan di wajah cucunya. “Kau dengar, Nak. Ada dua rumah besar dalam adat kita: Saibatin dan Pepadun. Tapi ingatlah, kedua rumah ini beratapkan Piil yang sama.”
Saibatin berasal dari kata sei (satu) dan batin (pemimpin), bermakna “satu pemimpin”. Masyarakat Saibatin mendiami wilayah pesisir pantai, Kalianda, Krui, Kota Agung, dan sekitarnya. Sementara Pepadun hidup di pedalaman, seperti Abung, Tulang Bawang, dan Pubian.
Menurut cerita lisan yang tertuang dalam kitab Kuntara Raja Niti, kedua jurai (garis keturunan) ini berasal dari muara yang sama: Sekala Brak, tempat empat putra raja menyebarkan Islam di tanah Lampung. Namun, jalannya berbeda. Saibatin memegang teguh garis keturunan, martabat seseorang ditentukan oleh darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. Sementara Pepadun mengenal cakak Pepadun (upacara naik ke singgasana adat), di mana gelar bisa diperoleh melalui prestasi dan musyawarah.
Beda tata cara, sama memuliakan Pesenggiri.

Dalam sebuah naskah kuno disebutkan: “Piil laki-laki adalah perempuan, piil perempuan adalah uang, makanan dan perhiasan, piil anak laki-laki adalah perkataan, piil anak perempuan adalah kelakuan.”
Meski redaksinya terasa jadul, maknanya tetap hidup: setiap orang, di mana pun ia berdiri, memiliki piil (rasa harga diri) yang harus dijaga. Saibatin menjaganya dengan memurnikan garis keturunan. Pepadun menjaganya dengan memberi ruang pada prestasi. Dua cara, satu tujuan.
Menurut adat, pepatah Saibatin berbunyi, “Ghepot delom mufakat, tetengah tetanggah” (bersatu dalam musyawarah, setara dalam pergaulan). Sementara Pepadun mengajarkan, “Khopkham delom bekekhja” (keberhasilan dalam bekerja). Dua rumusan, nafas yang sama.
Menurut syarak, Islam tidak mempersoalkan perbedaan tata cara selama tidak bertentangan dengan tauhid. Yang membedakan derajat manusia di sisi Allah hanyalah takwa, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Hujurat (49): 13 yang telah kita singgung di bab sebelumnya. Maka, Saibatin dan Pepadun hanyalah dua jalan menuju satu mata air: kemuliaan akhlak.

Baca Juga :  Gulai Balak, Bukan Sekadar Sajian Hajatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Malam itu, di tengah dinginnya angin pesisir, seorang Punyimbang Saibatin bernama Raden Intan bercerita kepada anak-anak mudanya. Ia duduk di kursi kayu sederhana, sementara yang lain duduk di tikar pandan.
“Kita menjaga adat karena adat menjaga kita,” katanya lirih.
Menurut falsafah Piil, seorang Punyimbang (pemegang adat) tidak boleh hanya pandai berbicara. Ia harus lebih dulu mengamalkan Piil sebelum mengajarkannya. Dalam kitab Kuntara Raja Niti disebutkan bahwa pemimpin adat adalah “pelita di tengah kampung”, ia harus bisa menerangi, bukan menghanguskan.
Mengapa penghulu adat harus paham piil lebih dulu?
Kisah ini sering diceritakan dari generasi ke generasi. Di sebuah pekon (desa adat) di daerah Pubian, ada seorang Punyimbang muda yang angkuh. Ia merasa hebat karena gelarnya tinggi. Namun, ia sering memarahi warganya di depan umum. Suatu hari, Punyimbang tua berkata padanya, “Jika kau tak punya nemui nyimah (keramahan), gelarmu hanya sampah.”
Sejak itu, ia belajar. Kini, setiap kali menyelesaikan sengketa, ia duduk bersama kedua belah pihak. Ia mendengar. Ia memberi. Itulah Punyimbang sejati.

Menurut adat, Punyimbang berperan sebagai penengah konflik, penanam nilai Piil, dan pendorong pembangunan. Ia harus hadir di masjid, ikut sakai sambayan, dan menjadi teladan. Tidak heran, dalam naskah Kuntara Raja Niti pasal tentang kepemimpinan adat, ditekankan bahwa seorang pemimpin harus “berilmu, beriman, dan berakhlak.”
Cerita dari sesat yang masih diingat.
Hingga kini, di setiap sesat (balai adat), para Punyimbang masih mengajarkan Piil kepada generasi muda. Mereka sadar, tanpa pemahaman yang benar, Piil bisa berubah menjadi gengsi kosong. Maka, mereka mengingatkan: Piil adalah keberanian yang lahir dari kejujuran, bukan dari kesombongan.
Di era ponsel pintar ini, Radin Perkasa sering menghela napas. Cucu-cucunya kini lebih akrab dengan gawai daripada dengan tetangga. Rasa malu, yang dulu menjadi inti Piil, kini mulai luntur. Malu tidak lagi karena berbuat curang, tapi malu karena ponselnya ketinggalan zaman.
Telepon genggam, uang, dan rasa malu yang mulai luntur.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 6: Adat dalam Siklus Kehidupan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dulu, seorang pemuda akan malu jika tidak ikut sakai sambayan (gotong royong). Kini, ada yang lebih asyik dengan status WhatsApp-nya. Dulu, seorang gadis akan malu jika tidak ramah (nemui nyimah) kepada tamu. Kini, tamu kadang diabaikan demi layar ponsel.
Inilah tantangan zaman, sebagaimana diakui dalam banyak kajian budaya Lampung. Pengaruh budaya asing masuk deras lewat media sosial, menggeser nilai-nilai lokal.
Strategi halus para tetua mengingatkan generasi muda.
Namun, para tetua tidak diam. Mereka sadar, Piil tidak bisa dipertahankan dengan kemarahan. Maka, mereka memilih strategi halus. Pertama, mereka memanfaatkan festival budaya, seperti Festival Putri Nuban, untuk memperkenalkan Piil dengan cara yang menarik bagi anak muda. Melalui tarian Sigeh Penguten dan musik gamolan pekhing, nilai-nilai luhur dikenalkan tanpa menggurui.
Kedua, mereka masuk ke sekolah-sekolah. Bahasa Lampung dijadikan muatan lokal. Cerita-cerita tentang Punyimbang yang bijak diceritakan ulang dalam bentuk yang lebih segar.
Ketiga, mereka memanfaatkan teknologi itu sendiri. Para tetua kini belajar membuat konten digital, video pendek, podcast, bahkan meme, yang berisi pesan moral tentang Piil. Ibarat kata pepatah, “Jika anak muda suka ponsel, maka Piil harus masuk ke ponsel.”

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 9 – Bahasa Lampung dan Identitas Diri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Menurut Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan harus dilakukan dengan hikmah (kebijaksanaan) dan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik). Dalam Q.S. An-Nahl (16): 125, Allah berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
ud‘u ilâ sabîli rabbika bil-ḫikmati wal-mau‘idhatil-ḫasanati wa jâdil-hum billatî hiya aḫsan, inna rabbaka huwa a‘lamu biman dlalla ‘an sabîlihî wa huwa a‘lamu bil-muhtadîn
” Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”
Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun sebagai pedoman dakwah bagi Rasulullah, agar tidak memaksa, tapi mengajak dengan penuh kasih. Para tetua Lampung mengamalkan ini: mereka tidak memarahi generasi muda yang kecanduan gawai. Mereka justru merangkul, lalu mengisi ruang digital itu dengan nilai-nilai Piil.
Di penghujung cerita, Radin Perkasa menatap wajah cucu-cucunya. “Dua rumah besar, Saibatin dan Pepadun, tetaplah satu dalam Piil. Para Punyimbang menjaganya dengan teladan. Dan kalian, generasi baru, jangan biarkan ponsel memakan rasa malumu. Karena Piil adalah cahaya yang tak pernah padam, asalkan kita bersedia terus menyalakannya.” (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini