nataragung.id – Bandar Lampung – Hari itu, hujan gerimis turun di kampung. Radin Perkasa duduk di kursi bambu di beranda rumahnya. Di pangkuannya, Al-Qur’an dan naskah Kuntara Raja Niti tua itu bersanding. Cucu-cucunya berkumpul, tahu bahwa malam ini kakek mereka akan bercerita untuk terakhir kalinya.
“Anak-anakku,” suaranya bergetar namun penuh wibawa. “Aku sudah tua. Rombongku sudah di ujung. Tapi kalian masih muda. Kalianlah yang akan meneruskan cerita ini. Kalian yang akan menjaga Piil tetap tegak di tanah Lampung tercinta.”
Angin malam berembus lembut, seolah ikut mendengarkan amanah terakhir dari seorang tetua yang bijaksana.
Piil bukan milik para punyimbang saja, tapi setiap jurai (garis keturunan) Lampung.
Seringkali, kita mendengar kata Piil Pesenggiri dan langsung membayangkan para Punyimbang dan Penyimbang, pemangku adat yang duduk di sesat dengan pakaian adat lengkap. Bukan. Itu keliru.
Piil Pesenggiri adalah milik setiap Ulun Lampung. Milik petani yang bangun pagi menggarap sawah. Milik nelayan yang melawan ombak di pesisir. Milik guru yang mengajar di ruang kelas. Milik pedagang yang jujur di pasar. Milik pemuda dan pemudi yang menuntut ilmu di kota perantauan.
Menurut adat, Piil Pesenggiri adalah way of life, panduan hidup bagi setiap insan Lampung tanpa terkecuali. Ia adalah nafas yang membuat seseorang tetap tegak meski badai menerpa. Ia adalah cahaya yang menerangi saat kegelapan menyelimuti.
Kitab Kuntara Raja Niti mengajarkan bahwa hukum adat (termasuk Piil) harus dijalankan oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya para pemimpin. Setiap orang memiliki kewajiban menjaga kehormatannya masing-masing, sesuai dengan kedudukan dan perannya.
Dalam hal ini, Piil Pesenggiri juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membangun bangsa. Demikian pula Piil, ia tidak membedakan status sosial. Semua orang terikat oleh rasa malu yang terpuji dan kewajiban menjaga harga diri.
Maka, amanah untuk menjaga Piil bukan hanya tugas para tetua. Ini tugas kita semua. Dari generasi ke generasi, dari buyut ke cicit, dari beranda ke ruang publik.
Tidak perlu dipertentangkan.
Adat yang benar tidak bertentangan dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Radin Perkasa terdiam sejenak. Matanya menatap langit malam yang mulai cerah. “Anak-anakku, jangan kau dengarkan mereka yang mengadu domba antara adat dan Islam. Karena keduanya datang dari mata air yang sama: kebaikan.”
Ia melanjutkan, “Islam tidak pernah datang untuk meruntuhkan Piil. Ia datang untuk menyempurnakan. Seperti sungai yang mengalir, adat itu dasarnya, dan Islam adalah airnya. Tanpa air, sungai menjadi kering. Tanpa dasar, air akan meresap ke tanah dan hilang.”
Menurut syarak, prinsip ini sangat jelas. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
wa anzalnâ ilaikal-kitâba bil-ḫaqqi mushaddiqal limâ baina yadaihi minal-kitâbi wa muhaiminan ‘alaihi faḫkum bainahum bimâ anzalallâhu wa lâ tattabi‘ ahwâ’ahum ‘ammâ jâ’aka minal-ḫaqq, likullin ja‘alnâ mingkum syir‘ataw wa min-hâjâ, walau syâ’allâhu laja‘alakum ummataw wâḫidataw wa lâkil liyabluwakum fî mâ âtâkum fastabiqul-khairât, ilallâhi marji‘ukum jamî‘an fa yunabbi’ukum bimâ kuntum fîhi takhtalifûn
“Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan.” Q.S. Al-Maidah (5): 48:
Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun untuk menegaskan bahwa perbedaan syariat antar umat tidak boleh menjadi alasan untuk bermusuhan. Setiap umat memiliki jalannya sendiri, namun tujuan akhirnya sama: kebaikan dan ketakwaan.
Para ulama Lampung di masa lalu paham betul akan hal ini. Mereka tidak memusuhi adat, tetapi justru menjadi Punyimbang itu sendiri. Mereka duduk di sesat, memutuskan perkara adat, namun shalat mereka tidak pernah tertinggal. Mereka adalah bukti hidup bahwa adat dan syariat bisa berjalan beriring.
Bukankah Piil Pesenggiri sendiri mengajarkan nilai-nilai yang sangat Islami? Nemui Nyimah adalah keramahan yang diajarkan Rasulullah. Nengah Nyappur adalah persaudaraan yang diperintahkan Allah. Sakai Sambayan adalah tolong-menolong dalam kebaikan. Semua itu adalah cerminan dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Ini juga sejalan dengan Pancasila sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa) dan sila ke-3 (Persatuan Indonesia), di mana keragaman adat dan budaya justru menjadi kekayaan bangsa, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dan persatuan.
Tuturan penutup: semoga piil tetap tegak, pesenggiri tetap terjaga, dan cahaya Islam meneranginya hingga akhir zaman.
Malam semakin larut. Radin Perkasa mengangkat kedua tangannya. Cucu-cucu dan keluarga yang berkumpul di beranda mengikuti gerakannya. Hening sejenak, hanya suara jangkrik dan angin malam yang terdengar.
“Ya Allah,” bisiknya lirih namun penuh harap. “Jadikanlah Piil Pesenggiri ini cahaya bagi anak cucu kami. Jangan biarkan mereka kehilangan rasa malu yang terpuji. Jangan biarkan mereka merendahkan martabat diri. Jangan biarkan mereka lupa keramahan, lupa bergaul, dan lupa tolong-menolong.”
Tetesan air mata mulai mengalir di pipi keriputnya.
“Ya Allah, bimbinglah generasi muda Lampung. Di tengah derasnya arus zaman, di tengah gempuran budaya asing, jadikanlah mereka tetap tegak pada jati diri. Jadikanlah mereka orang-orang yang berpegang pada Piil, namun tetap bersinar dengan iman. Satukanlah mereka dalam bingkai Piil Pesenggiri dan cahaya Islam, serta kobarkan semangat kebangsaan dalam bingkai Pancasila.”
Ia menunduk lama. Kemudian mengangkat kepala.
“Aamiin ya rabbal ‘alamin.”
Semua yang hadir mengaminkan. Suasana hening, namun hangat. Ada getar kebersamaan, ada ikatan batin yang tak terucapkan.
Radin Perkasa kemudian berdiri, berbalik menghadap mereka semua.
“Cerita ini belum selesai, anak-anakku. Karena kalianlah yang akan melanjutkannya. Setiap langkah kalian, setiap kata yang kalian ucapkan, setiap keputusan yang kalian ambil, itulah babak baru dari cerita Piil Pesenggiri. Maka, tulislah dengan sebaik-baiknya. Tulislah dengan tinta kejujuran, dengan semangat gotong royong, dan dengan cahaya Islam.”
Ia tersenyum.
“Pergilah. Dunia menanti. Namun jangan pernah lupa dari mana kalian berasal. Karena Piil Pesenggiri bukanlah beban yang menghambat langkah. Ia adalah sayap yang membuat kalian terbang tinggi, sekaligus akar yang membuat kalian tetap tegak meski badai menerpa.”
Demikianlah perjalanan kita bersama Radin Perkasa, dari asal muasal Piil Pesenggiri di tanah Ulun Lampung, hingga pesan terakhirnya di beranda rumah. Buku ini bukanlah karya sempurna. Ia hanyalah percikan kecil dari samudra kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Lampung.
Namun, jika melalui buku ini, satu orang saja, mungkin Anda, menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga Piil Pesenggiri, maka upaya ini tidaklah sia-sia.
Semoga Piil Pesenggiri tetap tegak di tanah Lampung. Semoga masyarakat Lampung tetap menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, ramah, terbuka, dan gotong royong. Dan semoga cahaya Islam terus menerangi jalan kita semua, hingga akhir zaman.
Tabik pun.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. (2019). Jakarta: Kementerian Agama RI.
2. Arifin, M. (2020). Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Kehidupan Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Pusat Studi Budaya Lampung.
3. Hadid, A. (2018). Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Hukum Adat Lampung. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
4. Hadis Shahih Bukhari & Muslim. (Berbagai penerbit).
5. Hasan, Z. (2021). Akulturasi Islam dalam Budaya Lampung. Yogyakarta: Deepublish.
6. Kurniawan, D. (2019). Piil Pesenggiri di Era Revolusi Industri 5.0. Prosiding Seminar Nasional Budaya Daerah, Universitas Lampung.
7. Pemerintah Provinsi Lampung. (2022). Profil Budaya Lampung: Menggali Kearifan Lokal untuk Pembangunan Karakter. Bandar Lampung: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.
8. Setyawan, B. (2017). Falsafah Hidup Masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri dalam Bingkai Adat dan Agama. Bandar Lampung: Lembaga Adat Lampung (LAL).
9. Zulkarnain, dkk. (2007). Sejarah Peradaban Lampung: Dari Masa Kuno hingga Kolonial. Jakarta: Balai Pustaka.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

