Mutiara Pagi: Ketika Rasa Aman Hilang Dalam Sebuah Hubungan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Tidak semua perpisahan bermula dari kebencian. Ada yang berawal dari hilangnya rasa aman. Ketika hati terus diliputi kecurigaan, ucapan berubah menjadi luka, dan kepercayaan berganti dengan ketakutan, maka hubungan itu perlahan kehilangan ruhnya.

Dalam Islam, hubungan yang baik dibangun di atas sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً﴾

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan (sakinah) kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Hati yang Mekar Seperti Mawar. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Perhatikanlah, Allah menyebutkan ketenangan sebelum cinta dan kasih sayang. Sebab, cinta tanpa rasa aman akan mudah berubah menjadi kegelisahan. Kasih sayang tanpa kepercayaan akan berubah menjadi beban.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan agar seorang muslim menjadi pribadi yang memberikan rasa aman kepada orang lain. Beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

“Seorang mukmin adalah orang yang manusia merasa aman terhadap darah dan harta mereka darinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2627, dinyatakan hasan sahih)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Bijak di Kala Lapang. (Renungan dari QS. Yusuf: 47). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu ciri keimanan adalah menjadi sumber rasa aman, bukan sumber ketakutan. Baik dalam keluarga, persahabatan, maupun kehidupan bermasyarakat, seorang mukmin hendaknya menghadirkan ketenangan, bukan kegelisahan.

Karena itu, jika sebuah hubungan terus dipenuhi penghinaan, kebohongan, pengkhianatan, atau kekerasan hingga menghilangkan rasa aman, maka itu bukanlah keadaan yang diridhai Allah. Islam memerintahkan agar hubungan dijaga dengan ihsan, saling menghormati, dan saling menunaikan hak.

Marilah kita menjadi pribadi yang menghadirkan ketenangan bagi orang lain. Sebab, hubungan yang diridhai Allah bukanlah hubungan yang sekadar bertahan lama, tetapi hubungan yang dipenuhi kejujuran, amanah, kasih sayang, dan rasa aman.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Menang Tanpa Membinasakan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

اللهم اجعلنا مفاتيح للخير، ومغاليق للشر، واجعل بيوتنا عامرةً بالسكن والمودة والرحمة.

“Ya Allah, jadikanlah kami pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Jadikanlah rumah-rumah kami dipenuhi ketenangan, cinta, dan kasih sayang.” Aamiin. (*/279).
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini