Tonjokan Menjadi Beban Sosial: Kajian Psikologi Tradisi Rantangan dan Punjungan di Era Modern

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

nataragung.id – Metro – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan tradisi gotong royong. Salah satu tradisi yang masih bertahan di berbagai daerah, khususnya masyarakat Jawa dan Betawi, adalah “tonjokan” atau “punjungan” dan “rantangan”. Kedua tradisi ini pada hakikatnya merupakan bentuk berbagi makanan sebagai ungkapan syukur sekaligus mempererat hubungan sosial. Dalam tradisi tonjokan, tuan rumah mengirimkan nasi beserta lauk-pauk beberapa hari sebelum hajatan kepada kerabat atau tetangga sebagai bentuk penghormatan sekaligus undangan. Sementara itu, tradisi rantangan dilakukan dengan mengirim makanan menggunakan rantang bertingkat, terutama kepada orang tua, guru, atau keluarga dekat. Tidak jarang penerima kemudian mengembalikan rantang tersebut dengan makanan lain sebagai simbol saling berbagi. Namun, dalam praktik masyarakat saat ini, muncul fenomena yang cukup menarik. Tidak sedikit penerima tonjokan atau rantangan justru merasa tidak mengenal dekat pihak yang mengundang. Bahkan ada yang hanya pernah bertemu satu atau dua kali, tetapi tetap menerima kiriman makanan dan merasa “berkewajiban” datang ke pesta atau memberikan sumbangan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna budaya yang layak dikaji melalui perspektif psikologi sosial.

Dari Tradisi Silaturahmi Menjadi Tekanan Sosial.

Pada awalnya, tonjokan merupakan simbol penghormatan dan doa. Namun, dalam kehidupan modern, sebagian masyarakat mulai memaknainya sebagai “undangan yang mengikat”. Penerima sering berpikir bahwa “Kalau saya diberi makanan, berarti saya harus datang.”; “Kalau tidak datang nanti dianggap tidak menghargai.” dan “Kalau datang, saya juga harus membawa amplop.” Padahal hubungan dengan pemilik hajatan belum tentu akrab. Dalam psikologi sosial, kondisi ini disebut “norm of reciprocity” atau norma timbal balik.

Baca Juga :  Jauhilah Narkoba Dalam Perspektif Psikologi. Oleh : Maulana Komarudin *)

Teori Reciprocity: Mengapa Kita Sulit Menolak?

Alvin Gouldner (1960) menjelaskan bahwa hampir semua budaya memiliki “Norm of Reciprocity”, yaitu dorongan moral untuk membalas kebaikan yang diterima. Ketika seseorang memperoleh pemberian, muncul rasa tidak nyaman apabila tidak membalasnya. Perasaan tersebut bukan sekadar soal uang, tetapi menyangkut harga diri dan citra sosial. Dalam konteks tonjokan, nasi dan lauk yang diterima secara psikologis berubah menjadi “utang sosial” yang mendorong penerima untuk hadir atau memberikan sumbangan, meskipun hubungan mereka sebenarnya tidak dekat. Dengan demikian, yang bekerja bukan lagi rasa syukur semata, melainkan mekanisme timbal balik yang hidup dalam budaya.

Mengapa Orang Mengirim kepada Orang yang Hampir Tidak Dikenal?

Fenomena lain yang kini sering terjadi adalah pengiriman tonjokan kepada orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki kedekatan emosional. Dari sudut pandang psikologi, terdapat beberapa kemungkinan motivasi. Pertama, memperluas jaringan sosial (social networking). Dalam teori “Social Capital”, Robert Putnam (2000) menjelaskan bahwa hubungan sosial dipandang sebagai modal yang dapat memberikan manfaat di masa depan. Mengundang lebih banyak orang dapat dipersepsikan sebagai upaya memperkuat jejaring sosial. Kedua, adanya motif memperoleh legitimasi sosial. Semakin banyak tamu yang hadir, semakin tinggi pula persepsi masyarakat terhadap keberhasilan sebuah hajatan. Ketiga, adanya harapan timbal balik dalam bentuk kehadiran atau pemberian amplop. Walaupun tidak selalu menjadi tujuan utama, ekspektasi ini dapat muncul sebagai konsekuensi budaya.

Tekanan Konformitas dalam Masyarakat

Leon Festinger (1954) melalui “Social Comparison Theory” menjelaskan bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Apabila seluruh tetangga menghadiri hajatan, seseorang akan merasa tidak enak bila tidak ikut datang. Tekanan ini diperkuat oleh teori “Conformity” dari Solomon Asch (1951) yang menunjukkan bahwa individu sering mengikuti norma kelompok demi menghindari penolakan sosial. Akibatnya, keputusan menghadiri pesta sering kali bukan didasarkan pada kedekatan emosional, melainkan karena tekanan norma masyarakat.

Baca Juga :  Luka, Sumpah, dan Kebangkitan Seorang Istri

Ketika Tradisi Berubah Menjadi Transaksi Psikologis

Psikolog Marcel Mauss dalam karya klasik “The Gift” (1925) menjelaskan bahwa pemberian dalam masyarakat tradisional hampir tidak pernah benar-benar bebas dari hubungan timbal balik. Setiap hadiah membawa tiga unsur yaitu kewajiban memberi, kewajiban menerima, dan kewajiban membalas. Dalam konteks tonjokan modern, sebagian masyarakat mulai memaknainya bukan lagi sebagai sedekah, melainkan sebagai investasi sosial. Akibatnya muncul ungkapan seperti: “Dulu dia datang ke rumah saya.”, “Saya pernah memberi amplop sekian.” Dan “Sekarang giliran dia membalas.” Ketika hitung-hitungan seperti ini mendominasi, nilai luhur budaya perlahan bergeser menjadi hubungan transaksional.

Perspektif Psikologi Islam

Dalam Islam, silaturahmi merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Namun, niat menjadi penentu utama nilai suatu amal. Allah SWT berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan interaksi sosial adalah ta’aruf (saling mengenal), bukan sekadar memperluas daftar tamu atau mengejar pengakuan sosial. Allah SWT juga berfirman: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, seraya berkata: Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap ridha Allah.” (QS. Al-Insan: 8–9). Ayat tersebut menunjukkan bahwa memberi semestinya tidak disertai harapan balasan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dua hadis tersebut mengajarkan bahwa silaturahmi harus dilandasi keikhlasan, bukan tekanan sosial ataupun kepentingan transaksional.

Baca Juga :  Inilah Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Yang Telah Diusulkan ke Kementerian Dalam Negeri. MAJALAH NATAR AGUNG

Mengembalikan Esensi Tradisi

Tradisi tonjokan dan rantangan adalah warisan budaya yang sangat indah. Ia mengajarkan berbagi, menghormati tetangga, serta memperkuat rasa kebersamaan. Namun, agar tetap relevan di era modern, tradisi ini perlu dikembalikan kepada ruhnya. Pemberian makanan hendaknya dipandang sebagai sedekah dan ungkapan syukur, bukan alat untuk menciptakan rasa sungkan atau mengukur besarnya balasan. Sebaliknya, penerima juga tidak perlu merasa terbebani apabila memang memiliki keterbatasan untuk hadir atau memberi sumbangan. Hubungan sosial yang sehat lahir dari ketulusan, bukan dari rasa terpaksa.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa psikologi mengajarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan membalas kebaikan, menjaga reputasi, dan menyesuaikan diri dengan norma kelompok. Itulah sebabnya tradisi tonjokan dan rantangan mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, tradisi akan tetap bernilai apabila dijalankan dengan keikhlasan. Ketika pemberian berubah menjadi alat untuk menagih balasan atau menghadirkan tekanan sosial kepada orang yang bahkan belum memiliki kedekatan emosional, maka makna budaya mulai bergeser dari silaturahmi menuju transaksi. Di tengah masyarakat yang semakin majemuk dan dinamis, tantangan kita bukanlah menghapus tradisi, melainkan menjaga agar nilai-nilai luhur di baliknya seperti gotong royong, kasih sayang, dan ukhuwah, tetap hidup tanpa membebani siapa pun. Dengan demikian, tonjokan dan rantangan tetap menjadi simbol cinta kepada sesama, bukan simbol kewajiban yang dipikul dengan rasa sungkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini