Seri Buku: Kearifan Lokal Lampung dalam Kehidupan sehari-hari. SERI 2: EMPAT PILAR PENOPANG ADAT (BAGIAN 1) Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang pemuda bernama Cakra. Ia dikenal sebagai anak yang tekun dan berbakti kepada orang tua. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya: ia belum memiliki juluk atau nama adat. Setiap kali ada hajatan besar atau upacara di sesat (balai adat), ia dipanggil hanya dengan nama kecilnya, sementara para tetua dan orang-orang yang sudah menikah disapa dengan nama-nama agung seperti Suttan atau Ratu. Cakra merasa, tanpa juluk, dirinya seperti belum diakui sepenuhnya dalam kehidupan adat.

Suatu malam, sang ayah, seorang punyimbang (pemimpin adat) yang dihormati, memanggil Cakra ke beranda. Di bawah cahaya lampu teplok, sang ayah mulai bercerita tentang makna Bejuluk Beadek, salah satu pilar terpenting dalam falsafah Pi’il Pesenggiri.
“Anakku,” ujar sang ayah dengan suara lirih namun tegas, “setiap orang Lampung memiliki dua nama. Pertama, nama pemberian orang tua. Kedua, juluk adek yang merupakan gelar kehormatan. Bejuluk diberikan saat seseorang masih bujang atau gadis, sebagai tanda bahwa ia mulai menancapkan cita-cita dalam kehidupan. Sedangkan Beadek adalah gelar yang diperoleh setelah menikah, menandakan cita-cita itu telah tercapai dan ia siap memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.”
Cakra pun bertanya, “Mengapa harus ada juluk adek, Ayah? Bukankah nama sudah cukup?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Karena juluk adek bukan sekadar nama panggilan. Itulah martabat, Cakra. Di dalamnya terkandung pengakuan adat atas kedudukanmu dalam masyarakat. Seperti tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, pemberian juluk adek harus melalui prosesi adat yang sah dan disetujui oleh para punyimbang. Juluk adek menggambarkan tanggung jawab yang melekat pada seseorang, dan ia dituntut untuk menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya.”
Sang ayah melanjutkan ceritanya. Menurut adat Pepadun, untuk mendapatkan juluk adek, seseorang harus melalui serangkaian upacara, salah satunya adalah Cakak Pepadun, di mana ia didudukkan di atas singgasana adat.
Di sana, ia akan menyandang gelar seperti Suttan untuk pria tertua dalam keturunan, atau Ratu dan Cempaka untuk wanita. Dalam adat Saibatin, gelar diturunkan berdasarkan silsilah garis keturunan lurus, hanya anak laki-laki tertua dari keturunan paling tua yang bisa menjadi pemimpin. Namun, terlepas dari perbedaan tata caranya, esensinya sama: gelar adat adalah tanggung jawab, bukan sekadar kebanggaan semata.
“Dan yang terpenting, Cakra,” sang ayah mengingatkan, “setelah menyandang juluk adek, kau harus menjaga perilaku dan tutur kata. Sebab, jika kau berbuat tercela, bukan hanya nama baikmu yang jatuh, tetapi juga keluarga, marga, dan adat yang kau junjung. Seperti kata pepatah Lampung, ‘juluk adek adalah cermin harga diri, dan harga diri harus dijaga mati-matian’.”

Baca Juga :  Ngelemang, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak malam itu, Cakra semakin bersemangat untuk mempersiapkan diri. Ia belajar tata krama, memperdalam ilmu agama, dan menabung untuk biaya upacara adat. Ia sadar bahwa Bejuluk Beadek bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu gerbang menuju pengabdian yang lebih besar bagi keluarga dan bangsanya. Dan ketika tiba harinya ia naik pepadun menyandang gelar Suttan di hadapan para tetua adat, Cakra merasa hatinya tenang. Ia tidak lagi hanya seorang pemuda biasa, ia adalah seorang Suttan dengan nama dan martabat yang harus dijunjung tinggi sepanjang hayat.

Setelah Cakra menyandang gelar, sang ayah memanggilnya lagi untuk mengajarkan falsafah berikutnya: Nemui Nyimah. Di dalam Kitab Kuntara Raja Niti disebutkan bahwa Nemui Nyimah berarti kemurahan hati, ramah tamah, dan sikap santun terhadap semua pihak yang berhubungan. Secara harfiah, nemui berarti tamu, dan nyimah berarti santun. Maka, Nemui Nyimah adalah bagaimana kita menjadi tamu yang santun, dan sekaligus tuan rumah yang ramah.
“Nak,” kata sang ayah, “tahukah kau, Cakra, bahwa dalam adat Lampung, tamu adalah anugerah yang diutus oleh Yang Maha Kuasa? Maka dari itu, menjamu tamu bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sebuah kehormatan.”
Sang ayah kemudian bercerita tentang sebuah tradisi di Marga Legun Way Urang. Di sana, masyarakat memiliki kebiasaan memasak nasi lebih banyak dari biasanya setiap hari. Mengapa? Karena mereka takut jika ada tamu datang dan tidak tersedia makanan untuk menghidanginya. Tradisi ini disebut Ngejunjong Mi. Kini, di zaman modern, tradisi itu mungkin bergeser maknanya, namun semangatnya tetap sama: selalu siap menyambut tamu dengan tangan terbuka dan hati lapang.
Lalu, bagaimana menjadi tamu yang baik? Sang ayah menjelaskan, “Seorang tamu tidak boleh bertingkah sewenang-wenang, merecoki, atau membuat repot tuan rumah. Dalam falsafah Nemui Nyimah, tamu juga harus menunjukkan kesantunan: datang pada waktu yang tepat, tidak menuntut hal-hal yang tidak semestinya, dan selalu mengucapkan terima kasih dan berpamitan saat hendak pulang.”
Sang ayah mengutip ajaran dalam Kitab Kuntara Raja Niti yang berbunyi: “Ganjaran bubai punyimbang: … Temui ni mak silip…” Yang artinya, istri pemimpin adat harus baik dan perhatian terhadap tamu. Namun, Cakra, ini bukan hanya untuk istri pemimpin. Ini untuk kita semua. Sebab, sikap santun tidak hanya diukur dari perkataan, tetapi juga dari perbuatan, dan bahkan benda yang kita berikan. Jika kita memberi, berikanlah yang terbaik. Jika kita menerima, terimalah dengan kerendahan hati.
Cakra teringat sebuah pengalaman kecil. Suatu hari, seorang tamu datang ke rumahnya saat ia sedang asyik membaca kitab tua. Meskipun terganggu, Cakra berusaha menyambut tamu itu dengan ramah. Ia menyuguhkan kopi dan kue-kue tradisional yang tersedia. Namun, karena ia masih canggung, ia melayani tamu itu dengan mimik wajah yang kaku. Sang ayah yang melihat kejadian itu kemudian menegurnya lembut setelah tamu pergi.
“Anakku,” ujar sang ayah, “menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menyediakan makanan. Itu tentang bagaimana kau membuat tamu merasa dihargai dan diperhatikan. Sekali lagi, ini tentang Pi’il Pesenggiri. Ini tentang harga diri kita sebagai orang Lampung. Jika kita tidak bisa menjadi tuan rumah yang baik, maka harga diri kita sebagai bangsa yang santun akan tercoreng.”
Cakra mengangguk. Ia mulai memahami bahwa Nemui Nyimah bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk menjaga kehormatan keluarganya. Bahkan, dalam budaya Lampung, dikenal juga Tari Sembah Batin, tarian penyambutan untuk tamu istimewa yang menunjukkan keramahan dan penghargaan setinggi-tingginya.
Malam itu, Cakra bertekad untuk selalu menjadi tamu yang santun dan tuan rumah yang ramah. Ia menyadari bahwa dalam setiap interaksi sosial, baik sebagai pemberi maupun penerima, ada nilai-nilai luhur yang harus dijaga. Dan semua itu adalah bagian dari identitasnya sebagai Ulun Lampung.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 5: Nama sebagai Identitas dan Tanggung Jawab. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Warisan Budaya Tak Benda. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
2. Hadikusuma, Hilman. (1983). Adat Istiadat Lampung. Bandung: Bina Cipta.
3. Irianto, S. (2011). Kearifan Lokal dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya.
4. Nurdin, Bartoven Vivit dan Ratnasari, Yuni. (2018). Ngejunjong Mi: Kearifan Lokal dalam Tradisi Nemui Nyimah Marga Legun Way Urang. Seminar Nasional APSSI, Lombok.
5. Syahrul, M. (2011). Naskah Kuno Lampung: Kitab Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Pustaka Adat Lampung.
6. Wahyu, E. (2013). Pedoman Hidup Masyarakat Lampung dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Skripsi, Universitas Lampung.

Baca Juga :  Buku Seri Musyawarah Mufakat, Cara Lampung Memutuskan Perkara Seri 1: Duduk Bersama di Pelataran Sesat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini