In Memoriam: H. Zaenal Arifin, Lc – Dari Guru Menjadi Teman. Oleh: Mukhotib MD

0

nataragung.id – Yogyakarta – Semalam saya mendapatkan foto Ustaz Zaenal Arifin, Lc melalui grup alumni Pesantren Daarul Maarif, Lampung Selatan.

Tentu bukan foto bahagia, melainkan foto duka: posisi berbaring tak berdaya, mata terpejam dan selang bantuan oksigen terpasang di hidungnya. Matanya terpejam, dan wajah itu menunjukkan ketenangan.

Pagi ini, masih di grup yang sama, kabar semakin duka, mendung menyelimuti hati semua anggota grup: Ustaz H. Zaenal Arifin meninggal dunia.


Sungguh saya tetap merasa terkejut. Doa-doa mengalir, dan Allah sungguh menyayanginya. Memanggilnya lebih cepat untuk bertemu dengan-Nya.

Saya mengenal Pak Arifin, begitu para santri di Pesantren Daarul Ma’arif memanggilnya. Setahu saya, ia lulusan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), dan berhasil mendapatkan gelar Lc.

Baca Juga :  Bullying Di Balik Seragam Sekolah: Luka Yang Tidak Terlihat. Oleh: Rizky Amaliya Putri *)

Ia memang ahli dalam Bahasa Inggris dengan baik, meski tidak sefasih penguasaannya terhadap Bahasa Arab. Dari dia saya belajar nahwu menggunakan Kitab Nahwu Wadhih (Al-Nahwu Al-Wadhih fi Qawaid al-Lughah al-Arabiyah) karya pakar bahasa Mesir, Ali al-Jarim dan Mustafa Amin.

Masih berkaitan dengan Bahasa Arab, ketika saya masih duduk di bangku MTs, saya melihat ia membuka kitab yang sangat tebal. Dari sinilah saya mengenal Kamus Al-Munjid kamus bahasa Arab klasik karya Pastor Louis Ma’luf. Penulis ini adalah orientalis dan rohaniawan Lebanon.

Setelah semakin besar saya tahu, Kamus itu ternyata dikenal banyak kalangan, termasuk di pesantren. Isinya selain kosa kata dan tata bahasa, juga dilengkapi dengan ensiklopedia sejarah, tokoh, dan geografi yang keseluruhannya dalan bahasa Arab.

Baca Juga :  Membangun Indonesia Melalui Perlindungan Pekerja yang Inklusif dan Berkelanjutan

Maka tak heran, ketika Pak Arifin mengajar Bahasa Arab ia tak pernah menggunakan Bahasa Indonesia, melainkan menggunakan muradifuhu (persamaannya) atau Dhiduhu (lawan katanya) untuk menjelaskan arti sebuah kata baru.

Gaya ini, persis sama dengan KH. Abu Abdillah, sang pendiri Pesantren Daarul Ma’arif. Ketika mengajak para santri membaca buku Qiroaturrosyidah, ia selalu menggunakan persamaan dan kata untuk mengartikan sebuah kata. Saya ingat bener sampai sekarang ketika melafalkan “murodifuhu aiy dhiduhu.” Lalu disusul dengan kata tanya, “fahimtum?” Kita semua menjawab dengan kompak, “fahimna.”

Pak Arifin selalu tampil sederhana, dengan pakaian yang sangat ringkas, dan hampir semuanya kaos lengan pendek berkerah. Lalu, pandangan yang paling khas adalah di pundaknya di balik kaosnya, bentuk kotak. Itulah rokok kesukaannya, yang tak pernah disimpan dalam saku celana dan bajunya.

Baca Juga :  Latihan Berkurban di Sekolah: Kajian Psikologi Pendidikan dan Relevansinya terhadap Instrumen Akreditasi BAN PDM 2026 Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA *)

Bertahun-tahun bersama, sang guru itu kemudian menjadi seperti teman. Meski saya selalu saja menaruh hormat saat berinteraksi dengannya. Keakraban itu selain selalu bercerita, juga mulai berbagi rokok antar kamar. Caranya, dinding triplek yang memisahkan kamarku dengan kamarnya, kita lubangi. Dari sinilah rokok bisa dibagikan, setelah ada kode pukulan lembut dari seberang kamar.

Selamat jalan guru dan sekaligus teman baikku. (*)

Penulis adalah alumni PP Daarul Ma’arif Lampung Selatan, kini tinggal di Magelang – Jawa Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini