Euforia Nobar Piala Dunia 2026 di Indonesia Perspektif Psikologi Terapan

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id – Metro – Minggu malam hingga dini hari Senin, 20 Juli 2026 WIB, masyarakat Indonesia kembali menunjukkan kecintaannya terhadap sepak bola. Meskipun Tim Nasional Indonesia tidak tampil sebagai finalis Piala Dunia 2026, ribuan bahkan jutaan masyarakat tetap memadati berbagai lokasi nonton bareng (nobar) di alun-alun kota, kafe, kampus, masjid, pusat perbelanjaan, balai desa, hingga ruang publik lainnya. Pertandingan final yang mempertemukan Spanyol dan Argentina menjadi pesta olahraga dunia yang juga dirayakan masyarakat Indonesia dengan penuh antusiasme. Fenomena ini menarik dikaji dari perspektif psikologi terapan. Secara logika, masyarakat seharusnya memiliki keterikatan emosional yang lebih kuat apabila negaranya sendiri menjadi finalis. Namun realitas menunjukkan bahwa kegembiraan tetap muncul meskipun Indonesia hanya menjadi penonton.

Di sisi lain, perjalanan Timnas Indonesia pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 tetap menjadi sumber kebanggaan nasional karena menunjukkan perkembangan yang signifikan dibandingkan periode-periode sebelumnya, meskipun belum berhasil mencapai partai final. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sepak bola telah berkembang menjadi media pembentukan identitas sosial, kebersamaan, dan kesejahteraan psikologis masyarakat. Allah SWT berfirman: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2). Ayat tersebut mengajarkan bahwa kebersamaan dalam aktivitas positif merupakan bagian dari nilai-nilai Islam selama tidak mengandung kemaksiatan maupun permusuhan. Rasulullah SAW juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Walaupun nobar bukan ibadah mahdhah, kebersamaan yang melahirkan persaudaraan, saling menghormati, dan kegembiraan bersama merupakan bentuk interaksi sosial yang bernilai positif.

Baca Juga :  Rahasia Tetap Bugar Selama Ramadan yang Jarang Diketahui!

Euforia Nobar: Masyarakat Tetap Bergembira Meski Indonesia Bukan Finalis.
Kajian psikologi terapan bidang sosial menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang secara alamiah mencari pengalaman emosional bersama. Pertama. Teori Identitas Sosial. Henri Tajfel dan John Turner (1979) melalui “Social Identity Theory” menjelaskan bahwa seseorang memperoleh sebagian identitas dirinya dari kelompok yang ia ikuti. Dalam konteks nobar maka masyarakat merasa menjadi bagian dari komunitas pecinta sepak bola dunia, identitas sebagai “football lovers” menjadi lebih dominan daripada identitas kebangsaan semata, dan suasana bersama memperkuat rasa memiliki terhadap peristiwa global. Karena itu, meskipun Indonesia tidak bertanding di final, masyarakat tetap merasa “ikut hadir” dalam sejarah Piala Dunia, Kedua. Emotional Contagion. Elaine Hatfield, John Cacioppo, dan Richard Rapson (1994) mengemukakan teori “Emotional Contagion”, yaitu emosi dapat menyebar dari satu individu kepada individu lain. Pada acara nobar akan nampak teriakan gol, tepuk tangan, nyanyian bersama, dan pelukan antarsuporter yang menyebabkan kegembiraan menyebar secara cepat. Semakin besar jumlah peserta nobar, semakin besar pula intensitas emosi kolektif yang dirasakan. Inilah sebabnya banyak orang mengaku bahwa menonton di rumah terasa jauh lebih sepi dibandingkan menonton bersama ribuan orang.

Teori ketiga yaitu “Collective Effervescence”. Sosiolog Émile Durkheim (1912) menjelaskan bahwa munculnya energi emosional yang sangat tinggi ketika masyarakat berkumpul dalam satu pengalaman bersama. Fenomena ini tampak jelas pada nobar Piala Dunia Dimana ribuan orang meneriakkan nama pemain secara bersamaan, menyanyikan lagu, bereaksi serempak terhadap gol, dan merasakan ketegangan dan kebahagiaan pada waktu yang sama. Energi kolektif tersebut memperkuat solidaritas sosial meskipun mereka sebelumnya tidak saling mengenal, Keempat. Positive Emotion Theory. Barbara Fredrickson (2001) melalui “Broaden and Build Theory” menjelaskan bahwa emosi positif memperluas cara berpikir seseorang sekaligus membangun hubungan sosial yang lebih kuat. Nobar akan menghadirkan kegembiraan, harapan, optimisme, rasa memiliki, dan persahabatan baru. Dengan demikian, nobar bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat.

Baca Juga :  Membangun Indonesia Melalui Perlindungan Pekerja yang Inklusif dan Berkelanjutan

Nobar sebagai Modal Sosial Bangsa.

Apabila dikelola dengan baik, euforia nobar dapat menjadi modal sosial yang berharga. Pertama, memperkuat kohesi sosial. Robert Putnam (2000) menjelaskan bahwa aktivitas bersama mampu meningkatkan social capital, yaitu kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas antarmasyarakat. Dalam banyak daerah di Indonesia, nobar mempertemukan anak-anak, mahasiswa, pekerja, pedagang, aparat, tokoh agama, hingga lansia. Mereka menikmati pertandingan dalam suasana yang relatif egaliter, Kedua, meningkatkan optimisme terhadap sepak bola nasional. Walaupun Indonesia belum mencapai final, perjalanan Tim Garuda pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 memberikan harapan baru bahwa prestasi internasional semakin mungkin diraih pada masa mendatang. Dukungan masyarakat melalui nobar juga mencerminkan kuatnya keterikatan emosional terhadap perkembangan sepak bola nasional. Secara psikologis, optimisme merupakan faktor penting dalam membangun motivasi kolektif sebagaimana dijelaskan oleh Charles R. Snyder (2002) dalam “Hope Theory”. Harapan bersama dapat mendorong masyarakat untuk terus memberikan dukungan positif terhadap pembinaan olahraga nasional.

Namun demikian, euforia juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai bersama. Gustave Le Bon (1895) dalam teori “Crowd Psychology” mengingatkan bahwa kerumunan dapat kehilangan kontrol apabila emosi negatif lebih dominan. Karena itu penyelenggara nobar perlu memperhatikan keamanan, kenyamanan, toleransi antarsuporter, pengendalian provokasi, serta menjaga waktu ibadah. Islam mengingatkan agar kegembiraan tidak melampaui batas. Allah SWT berfirman: “…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31). Ayat tersebut relevan sebagai prinsip bahwa setiap bentuk hiburan, termasuk nobar, hendaknya tetap berada dalam koridor moderasi, sportivitas, dan akhlak mulia.

Baca Juga :  Terperangkap dalam Notifikasi: Ketakutan yang Tak Pernah Tidur. Oleh: Zahratun Nur Azizah

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa fenomena euforia nobar Final Piala Dunia 2026 di Indonesia menunjukkan bahwa olahraga telah menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan masyarakat tanpa memandang usia, pekerjaan, suku, maupun pilihan klub atau negara favorit. Meskipun Indonesia belum tampil sebagai finalis, antusiasme masyarakat tetap tinggi karena sepak bola memenuhi kebutuhan psikologis manusia akan kebersamaan, identitas sosial, harapan, dan pengalaman emosional kolektif. Kajian psikologi terapan melalui Social Identity Theory (Tajfel & Turner, 1979), Emotional Contagion (Hatfield dkk., 1994), Collective Effervescence (Durkheim, 1912), Broaden and Build Theory (Fredrickson, 2001), Social Capital (Putnam, 2000), Hope Theory (Snyder, 2002), serta Crowd Psychology (Le Bon, 1895) menunjukkan bahwa nobar bukan sekadar aktivitas menonton pertandingan, melainkan fenomena sosial yang mampu memperkuat solidaritas, memperluas jejaring sosial, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat. Keberhasilan sebuah bangsa dalam sepak bola tidak hanya diukur dari jumlah trofi yang diraih, tetapi juga dari kemampuannya membangun budaya sportivitas, persaudaraan, dan optimisme. Jika semangat kebersamaan yang lahir dari nobar dapat terus dipelihara dan diarahkan pada aktivitas yang produktif, maka euforia Piala Dunia tidak berhenti sebagai hiburan sesaat, melainkan menjadi energi sosial untuk membangun bangsa yang lebih kuat, sehat secara psikologis, dan berkarakter. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini