Bulan: Juli 2026

  • Pemprov Lampung Dorong Kader PMII Ambil Peran Strategis dalam Membangun Daerah

    Pemprov Lampung Dorong Kader PMII Ambil Peran Strategis dalam Membangun Daerah

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat kolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan sebagai mitra strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berintegritas untuk menjawab tantangan pembangunan di masa depan.

    Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka Pelatihan Kader Lanjut (PKL) Pengurus Cabang Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung bertema “Beyond Ordinary Cadres: Mencetak Kader PMII yang Militan, Intelektual, dan Revolusioner” di Balai Keratun, Kompleks Dinas Kantor Gubernur, Rabu (1/7/2026).

    Dalam sambutannya, Wagub Jihan mengapresiasi konsistensi PMII sebagai organisasi yang terus melahirkan kader-kader berkualitas serta aktif membangun sinergi dengan pemerintah daerah.

    “Saya tidak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih atas peran aktif sahabat-sahabat PMII Provinsi Lampung. Insyaallah kita terus menjalin sinergi dan kolaborasi untuk memajukan Provinsi Lampung,” ujarnya.

    Menurutnya, tema PKL sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

    Perubahan yang dipicu perkembangan teknologi, digitalisasi, hingga kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI) menuntut lahirnya kader yang tidak hanya memiliki semangat juang, tetapi juga kapasitas intelektual dan kemampuan beradaptasi.

    Wagub Jihan menegaskan bahwa kader PMII perlu menanamkan tiga nilai utama, yakni militansi, intelektualitas, dan semangat revolusioner sebagai bekal menghadapi dinamika zaman.

    Ia menjelaskan militansi dibutuhkan agar kader tetap istiqamah memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

    Sementara intelektualitas tidak lagi sekadar kemampuan mengakses informasi, melainkan kemampuan mengolah informasi menjadi gagasan, riset, dan rekomendasi yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat.

    Adapun sikap revolusioner, menurutnya, diwujudkan melalui keberanian melakukan perubahan yang relevan dengan perkembangan zaman, bukan sekadar slogan.

    Lebih lanjut, Wagub Jihan mengajak para kader PMII untuk tidak berhenti sebagai aktivis organisasi, tetapi terus mempersiapkan diri mengisi berbagai posisi strategis di berbagai bidang, mulai dari birokrasi, dunia kesehatan, legislatif hingga kepemimpinan daerah.

    “Kami membutuhkan kader-kader PMII yang kelak menjadi birokrat, dokter, anggota DPR, kepala daerah, maupun pemimpin lainnya yang tetap membawa nilai-nilai perjuangan organisasi. Jangan berpuas diri hanya menjadi aktivis organisasi,” tegasnya.

    Ia meyakini estafet kepemimpinan daerah maupun nasional ke depan akan banyak diisi oleh generasi muda yang lahir dari proses kaderisasi organisasi kemahasiswaan, termasuk PMII.

    Karena itu, Wagub Jihan meminta seluruh peserta mengikuti setiap materi pelatihan dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam menghasilkan kajian, riset, serta rekomendasi kebijakan yang konstruktif bagi pembangunan.

    Sementara itu, Pengurus Besar PMII Dedy Indra Prayoga mengatakan tantangan global saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, dinamika geopolitik, hingga perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

    Menurutnya, kondisi tersebut menuntut organisasi kemahasiswaan melakukan rekontekstualisasi pola kaderisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

    Dedy juga mengapresiasi sikap Pemerintah Provinsi Lampung yang membuka ruang dialog dengan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.

    “Di Lampung saya sangat mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung. Kritik dalam negara demokrasi adalah mekanisme koreksi yang harus diterima sebagai bagian dari proses pembangunan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Umum PC PMII Kota Bandar Lampung Topik Sanjaya mengatakan bahwa PKL merupakan jenjang kaderisasi tingkat lanjut yang bertujuan mencetak pemimpin masa depan yang progresif, militan, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah, antara lain Lampung, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari tingkat nasional.

    Melalui pelatihan tersebut, PMII berharap lahir kader-kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta kesiapan menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan bangsa dan daerah.(*/SMh)

  • Kajian Psikologi: Ketika Emak-Emak Terjerat Judi Online, Keluarga Menjadi Taruhannya

    Kajian Psikologi: Ketika Emak-Emak Terjerat Judi Online, Keluarga Menjadi Taruhannya

    Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

    nataragung.id – Metro – Dahulu, ibu rumah tangga identik dengan sosok penjaga kehangatan keluarga. Mereka mengatur keuangan, mendidik anak, mendampingi suami, serta menjadi teladan dalam membangun rumah tangga yang sakinah. Namun, perkembangan teknologi digital menghadirkan ancaman baru. Judi online kini tidak hanya membidik laki-laki atau kalangan muda, tetapi juga menyasar emak-emak sebagai pasar yang menggiurkan. Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Polres Karawang pernah mengungkap jaringan bandar togel online yang secara sengaja menargetkan ibu rumah tangga dan warga pengangguran sebagai pemain utama. Di berbagai daerah juga beredar video yang memperlihatkan sekelompok ibu-ibu bermain judi kartu dengan taruhan uang hingga puluhan juta rupiah. Lebih memprihatinkan lagi, banyak kasus menunjukkan uang belanja dapur, tabungan keluarga, bahkan pinjaman online habis demi menutupi kekalahan berjudi.

    Mengapa seorang ibu yang selama ini dikenal hemat dan penuh pertimbangan dapat terjerumus ke dalam perjudian?. Dalam psikologi perilaku, B.F. Skinner (1953) menjelaskan melalui Operant Conditioning bahwa perilaku akan semakin kuat apabila sesekali memperoleh hadiah. Judi online menggunakan pola “variable ratio reinforcement”, yaitu kemenangan yang muncul secara acak dan tidak menentu. Justru karena kemenangan itu jarang terjadi, otak terus berharap bahwa “giliran menang” akan segera datang. Harapan semu inilah yang membuat seseorang terus mengulang taruhan meskipun berkali-kali mengalami kekalahan. Kondisi tersebut diperkuat oleh penemuan ilmu saraf modern. Setiap kemenangan kecil memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang menimbulkan rasa senang dan puas. Akibatnya, otak membentuk siklus candu yang mendorong pelaku terus bermain demi memperoleh sensasi yang sama. Pada tahap tertentu, seseorang tidak lagi berjudi untuk mencari keuntungan, tetapi untuk menghilangkan rasa gelisah ketika berhenti bermain.

    Dari sisi sosial, Albert Bandura (1977) melalui “Social Learning Theory” menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan. Media sosial dipenuhi konten yang menampilkan kemenangan besar, saldo rekening yang meningkat, atau gaya hidup mewah hasil perjudian. Sementara ribuan kisah kekalahan, utang, perceraian, dan kemiskinan justru tidak pernah dipublikasikan. Akibatnya muncul “optimism bias”, yaitu keyakinan bahwa dirinya akan menjadi orang yang beruntung, padahal secara statistik peluang kalah jauh lebih besar daripada menang. Fenomena ini juga dapat dipahami melalui “Prospect Theory” yang dikembangkan Daniel Kahneman dan Amos Tversky (1979). Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mengambil risiko lebih besar ketika sedang mengalami kerugian. Seorang ibu yang kehilangan uang Rp500.000 misalnya, sering berpikir, “Sekali lagi saja, siapa tahu kembali.” Namun keputusan tersebut justru membuat kerugian semakin besar. Inilah yang dikenal sebagai “loss chasing”, mengejar kerugian dengan mengambil risiko yang lebih tinggi.

    Ironisnya, yang dipertaruhkan bukan hanya uang pribadi, melainkan masa depan keluarga. Seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dalam perspektif psikologi perkembangan Urie Bronfenbrenner (1979), keluarga adalah lingkungan utama yang membentuk karakter anak. Ketika ibu mengalami kecanduan judi, perhatian kepada anak berkurang, emosi menjadi tidak stabil, komunikasi keluarga terganggu, dan konflik rumah tangga semakin sering terjadi. Anak-anak akhirnya tumbuh dalam suasana penuh kecemasan, ketidakpastian, bahkan kehilangan figur teladan.

    Islam telah jauh lebih dahulu mengingatkan bahaya perjudian. Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 90). Allah kemudian menjelaskan dampak psikologis dan sosial perjudian: “Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan judi serta menghalangimu dari mengingat Allah dan salat.” (QS. Al-Ma’idah: 91). Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Judi online merusak hubungan suami-istri, memicu pertengkaran, menghabiskan harta, menghilangkan ketenangan jiwa, bahkan menjauhkan seseorang dari ibadah.

    Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya; dari mana ia memperolehnya dan ke mana ia membelanjakannya.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini mengingatkan bahwa setiap rupiah yang diperoleh dan dibelanjakan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Harta yang berasal dari perjudian bukan hanya merusak ekonomi keluarga, tetapi juga menghilangkan keberkahan rezeki. Di sisi lain, negara juga memberikan sanksi tegas. Pelaku perjudian dapat dijerat dengan Pasal 303 bis KUHP yang mengatur ancaman pidana penjara maupun denda bagi peserta perjudian. Artinya, judi online bukan sekadar persoalan moral dan agama, tetapi juga merupakan pelanggaran hukum.

    Karena itu, pemberantasan judi online tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Yang jauh lebih penting adalah membangun ketahanan psikologis keluarga. Literasi digital perlu diperkuat agar masyarakat memahami berbagai modus manipulasi aplikasi judi. Pendidikan agama harus menjadi fondasi pengendalian diri. Suami dan istri juga perlu membangun komunikasi yang terbuka mengenai kondisi ekonomi keluarga sehingga tekanan finansial tidak mendorong pencarian jalan pintas.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa emak-emak adalah jantung keluarga. Ketika seorang ibu menjaga amanah sebagai pengelola rumah tangga, pendidik anak, dan pendamping suami dalam mencari rezeki yang halal, ia sedang membangun peradaban dari dalam rumah. Namun ketika ibu terjebak dalam judi online, yang dipertaruhkan bukan sekadar uang belanja atau tabungan, melainkan masa depan anak-anak, kehormatan keluarga, dan keberkahan hidup. Karena itu, menjaga ibu dari jerat judi online berarti menjaga masa depan bangsa. (*)

  • Perkuat Sinergi Antarkabupaten, Bupati Radityo Egi Pratama Hadiri HUT ke-26 Apkasi di Deli Serdang

    Perkuat Sinergi Antarkabupaten, Bupati Radityo Egi Pratama Hadiri HUT ke-26 Apkasi di Deli Serdang

    nataragung.id – Deli Serdang – Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi antardaerah kembali ditunjukkan melalui kehadiran Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, pada rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara.

    Rangkaian peringatan HUT ke-26 APKASI yang dirangkaikan dengan HUT ke-80 Kabupaten Deli Serdang diawali dengan acara welcome dinner yang berlangsung di Graha Bhineka Perkasa Jaya, Kabupaten Deli Serdang, Rabu malam (1/7/2026).

    Kegiatan tersebut menjadi pembuka agenda nasional yang mempertemukan para kepala daerah dari berbagai kabupaten di Indonesia.

    Mengusung tema “Satu Misi, Satu Aksi, Membangun Negeri”, peringatan HUT ke-26 APKASI yang berlangsung pada 1-3 Juli 2026 menjadi momentum strategis bagi pemerintah kabupaten untuk memperkuat sinergi, memperluas jejaring kerja sama, sekaligus berbagi praktik terbaik dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan.

    Acara tersebut dihadiri Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution, Ketua Umum Apkasi Bursah Narnubi, serta ratusan peserta yang terdiri atas para bupati, pejabat pemerintah kabupaten, serta berbagai pemangku kepentingan dari seluruh Indonesia.


    Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi forum strategis untuk membangun kolaborasi antarpemerintah daerah sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan pembangunan nasional.

    Pada kesempatan tersebut, Bupati Radityo Egi Pratama menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang yang memperingati hari jadinya ke-80, serta kepada Apkasi yang genap berusia 26 tahun.

    “Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Deli Serdang dan Hari Ulang Tahun ke-26 Apkasi. Semoga Kabupaten Deli Serdang semakin maju dan sejahtera. Begitu pula Apkasi, semoga terus menjadi wadah yang memperkuat sinergi, kolaborasi, dan kerja sama antarpemerintah kabupaten dalam mendukung percepatan pembangunan daerah,” ujar Bupati Egi.

    Dalam kunjungan kerjanya, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama hadir didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, bersama sejumlah pejabat strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

    Kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam forum Apkasi tersebut mencerminkan komitmen daerah untuk terus memperluas jejaring kemitraan, memperkuat kolaborasi lintas kabupaten, serta membuka berbagai peluang kerja sama yang diharapkan mampu mendukung percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan. (mara-kmf)

  • Khutbah Jum’at Bahasa Lappung: Inspirasi Hijrah – Pindah Nuju Ketaatan. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Khutbah Jum’at Bahasa Lappung: Inspirasi Hijrah – Pindah Nuju Ketaatan. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Tabiik puun. Dalam rangka mengimplementasikan Instruksi Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal Nomor : 4 Tahun 2025 tanggal 30 Desember 2025 tentang hari Kamis BERADAT yaitu sebagai upaya memperkuat pelestarian Bahasa Daerah dan Budaya Lampung dilingkungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lingkungan pendidikan se-provinsi Lampung, bersama ini kami mencoba untuk menyajikan Khutbah Jum’at berbahasa Lampung, khususnya bahasa Lampung berdialeg A.

    Meski Masjid bukan bagian yang diatur dalam instruksi tersebut, namun tidak ada salahnya warga masyarakat Lampung khususnya para khatib shalat Jum’at turut serta melestarikan bahasa Lampung dengan kegiatan nyata yaitu membacakan khutbah Jum’at dalam bahasa Lampung. Karena pada wilayah tertentu di provinsi Lampung, sudah banyak saudara-saudara kita warga masyarakat suku Jawa yang membaca khutbah dalam bahasa Jawa, bahkan buku-buku Khutbah berbahasa Jawa sudah banyak dijual di toko-toko.

    Kami menyadari naskah (dialeg) yang kami sajikan masih jauh dari kata sempurna, namun prinsip kami “Lamon Mak Gatta Kapan Lagi, Lamon Mak Gham Sapa Lagi.” Karena itu kritik dan saran dari para pembaca terkait dialeg yang kami pergunakan, sangat kami harapkan guna penyempurnaan dialeg Khutbah Jum’at dimasa yang akan datang.

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

    Amma ba’du.
    Minak Muakhi, hadirin jamaah Jum’at sai dirahmati Allah…

    Selaku khatib sekanuwa berwasiat, pertama guway dikhi sekanuwa pesayyan, selanjut ni guway Minak Muakhi se-unyin ni, payu kham tekhus ningkatko takwa guway Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa sinalah bekal kham sai paling betik guway ngehadopi kehukhi’an kham, betik di dunia jama betik di akhirat.

    Allah Ta’ala befirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    Khat-ti ni: “Wahai kaban jelema sai beriman! Bertakwalah guway Allah jama sebenokh-benokh ni takwa, khik dang sekali-kali kuti mati kecuali delom keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

    Jamaah Jum’at sai dimuliakon Allah…

    Gatta kham pagun uwat di bulan Muharram, salah sai bulan, sai dimuliakon Allah. Momentum Tahun Baru Hijriyah layin sekadar pergantian akka di tang-ngalan, tapi jadiko munih momentum guway ngehallaw ko tikad kham berhijrah nuju ketaatan.

    Hijrah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam anjak Makkah nuju Madinah layin ulah khabai. Hijrah sina adalah pekhittah Allah, strategi dakwah, sekaligus awal tebentuk ni kaban jelema Islam sai kuat.

    Selama telu belas tahun di Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ngehadopi berbagai ujian. Beliau dihina, dicaci, diboikot, bahkan direncanako haga di patiko. Tapi beliau tetap teguh mempertahankon tauhid. Beliau mak lekot ngejual prinsip ni guway ukhusan dunia.

    Wattu kaum Quraisy nawarkon khatta, jabatan, jama kemewahan dunia tagan Rasulullah meninggalkon dakwah, beliau tetop istiqamah suwa cawa:

    “Demi Allah, seandai ni tiyan ngepikko matakhani di pungu kananku khik bulan di pungu kikhi ku, tagan Ikam meninggalkon dakwah sa, niscaya Ikam mak haga ninggalko, hingga Allah memenangkon agama sa atawa Ikam binasa ulah ni.”

    Sijilah teladan istiqamah sai hakhus jadi contoh guway kham renungkon.

    Allah Ta’ala befirman:

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    Innal-lażīna āmanū wal-lażīna hājarū wa jāhadū fī sabīlillāhi ulā`ika yarjūna raḥmatallāh, wallāhu ghafūrur raḥīm.

    Khat-ti ni: ” Sesungguh ni kaban jelema sai beriman, berhijrah, khik berjihad di khanglaya Allah, tiyan sinalah sai ngeha-khopko rahmat Allah. Khik Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)

    Ayat sa ngajakhko bahwa iman harus di buktiko jama pengorbanan. Mak cukup di cawako di banguk gawoh. Mak ngedok hijrah tanpa pengorbanan, mak ngedok perjuangan tanpa kesabakhan.

    Allah Ta’ala befirman:

    وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

    Wa may yuhājir fī sabīlillāhi yajid fil-arḍi murāghaman kaṡīraw wa sa’ah.

    Khat-ti ni: “Barang sapa sai berhijrah di khanglaya Allah, niscaya ia haga ngedapokko di muka bumi sa ngan hijrah sai bekhak khik rejeki sai nayah.” (QS. An-Nisa’: 100)

    Jamaah sai dirahmati Allah…

    Hijrah munih ngajakhko penting ni milih lingkungan sai betik. Wattu Makkah kak jadi pok, sai ngehalangi berkembang ni dakwah Allah bukak ko kha-ngok Madinah pok sai masyarakat ni siap nekhima Islam.

    Sa jadi pelajakhan guway kham bahwa lingkungan, balak temon pengaruh ni guway iman jama akhlak. Mulani pilih lah kaban katca atau khik sai shaleh, sai khajin khatong guk majelis ilmu, tekhus jawohkon badan dikhi kham anjak lingkungan sai dapok nyi-khit ko dikhi kham guk pok sai nayah maksiat.

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

    Al-muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu.

    Khat-ti ni: “Ulun sai berhijrah ialah ulun sai meninggal ko segala sesuatu sai di larang Allah.” (HR. Al-Bukhari).

    Hadist sa mengajakh ko bahwa hijrah mak bekhadu pindah pok gawoh, tetapi tekhus berlangsung setijang hukhik, meninggal ko dusa khik nayah-nayahko amal shaleh.

    Sebab ina, selama hang-ngas pagun di badan, hijrah harus dilapahi. Khani-khani sai kham lapahi hakhus lebih betik anjak khani sai kak diliyuwi. Tinggalko kebiasaan sai mak betik, nayah ko ibadah, khajin ko ngebaca Alqur’an. Jaga sembayyang berjamaah kham, hormati khua ulun tuha kham, dang lupa munih pelihara ukhuwah jama kaban sesama muslim.

    Hadirin jamaah Jum’at sai dimuliakon Allah…

    Momentum Hijrah dang kham cuma sekadar jadiko peringatan sejarah gawoh tapi jadiko munih semangat guway ngehallaw ko dikhi jama guway nayahko amal shaleh.

    Hijrah delom akidah, cakha ni memurnikon tauhid, dang menyekutukon Allah, jawohkon segala bentuk syirik, tahayul, bid’ah sai sesat, jama khurafat.

    Hijrah delom ibadah, cakhani, jaga sembayyang lima wattu, khajin sembayyang berjamaah di mesigid, nayah ko ngebaca Al-Qur’an, dzikir, du’a, jama amal-amal sunnah layin ni.

    Hijrah delom akhlak, cakhani hakhus jadi pribadi sai jujur, amanah, rendah hati, penyabar, penyayang, jama jaga bubekh anjak ghibah, fitnah, adu domba, jama cawaan sai nyakik ko hati ulun bakhih.

    Hijrah delom muamalah, cakhani sepok khejeki sai halal, tinggalko riba’, penipuan, korupsi jama segala bentuk usaha sai diharamko Allah.

    Hijrah delom keluarga, cakhani jadiko rumah tangga kham pok ibadah, mahan sai dihiasi sembayyang berjamaah, bacaan Al-Qur’an, didik kaban sanak jama akhlak Islami, khik penuh kasih sayang.

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

    Wallażīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā wa innallāha lama’al-muḥsinīn.

    Khat-ti ni: “Ulun-ulun sai bersungguh-sungguh di khanglaya Ikam, pasti haga Ikam tunjukko jama tiyan khanglaya- khanglaya Ikam. Khik sungguh Allah jama Ulun-ulun sai berkelakuan betik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).

    Ayat sa ngajakhko bahwa khanglaya sai nuju kebetik’an sangun ngebutuh ko perjuangan. Makdok sai ge-khal ni perubahan tanpa kesungguhan. Tapi ingok sapa sai ikhlas berjuang ulah Allah, maka Allah dapok ngebukak ko khanglaya hidayah jama pertolongan anjak Allah SWT.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

    Innamal-a’mālu bin-niyyāt.

    Khat-ti ni: “Sesungguh ni setiap amal bergantung jama niat ni.” (HR. Al-Bukhari khik Muslim).

    Hadist sa ngi-ngok ko kham bahwa hijrah harus dimulai anjak niat sai ikhlas ulah Allah. Dang ulah pujian kaban jelema atau kepentingan dunia. Sebab amal sai diterima Allah hanyalah amal sai di kekhaj-ja jama ikhlas khik sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hadirin jamaah Jum’at sai dimuliakon Allah…

    Payu kham manfaat ko umokh sai pagun Allah juk ko jama kham guwai ngehallaw ko badan dikhi. Dang tunda taubat, dang nung-ngu kham tuha appai haga taat. Sebab kham mak lekot pandai kapan Allah haga ngakhuh kham.

    Semoga Allah ngejadikon kham termasuk hamba-hamba-Ni sai istiqamah dilom berhijrah menuju ketaatan, diteguhkon di lambung agama Islam, diwafatkon delom keadaan husnul khatimah, jama dikumpulkon jama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam delom Surga Firdaus.

    Sekian khutbah singkat anjak sekanuwa, semoga ngedok manfaat ni guway kham se-unyin ni. Aamiin ya Rabbal Aalamiin

    أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

    Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

    Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

    Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

    Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

    اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    ‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
    Editor Bahasa: H. SyahidanMh/Buay Sakti.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 3: Piil Pesenggiri – Harga Diri yang Melahirkan Santun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 3: Piil Pesenggiri – Harga Diri yang Melahirkan Santun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di Kampung Bumi Agung, hiduplah seorang pemuda dari marga (klan) Abung Siwo Mego bernama Bujang Gemilang. Ia dikenal gagah perkasa dan kaya raya. Namun anehnya, warga sering membicarakannya di belakang. Bukan karena iri, tapi karena ia suka memotong pembicaraan orang, suara kerasnya kerap menggelegar di sesat (balai adat), dan setiap kali ada tamu ia makan lebih dulu.
    Suatu senja, Punyimbang (tetua adat) Dalom Ratu Ngerang memanggilnya ke sesat. Sambil menghela napas, Dalom berkata, “Nak, kau kaya harta, tapi mungkin miskin Piil Pesenggiri. Mari kuceritakan apa itu harga diri yang sejati.”

    Lima Dasar Piil Pesenggiri.

    Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip kuno yang ditulis dengan aksara Lampung dan huruf Arab gundul, tercantum lima unsur falsafah hidup masyarakat Lampung. Falsafah ini mengajarkan bahwa harga diri bukanlah kesombongan, melainkan kemampuan menjaga kehormatan diri dan orang lain.
    Dalom pun membacakan satu per satu.

    Nemui nyimah – ramah dalam memberi tempat
    “Nemui artinya menerima tamu, nyimah artinya memberi tanpa pamrih,” jelas Dalom. Inilah inti keramahan Orang Lampung. Di Kampung Kiluan, ketika ada musafir singgah, tuan rumah akan menyajikan kopi dan makanan tanpa menunggu diminta. Bukan karena tamu itu kaya atau terpandang. Tapi karena nemui nyimah mengajarkan bahwa memberi adalah cermin jiwa yang mulia.
    Menurut syarak, ini sejalan dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1 yang memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Tuhan yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu. Takwa diwujudkan dengan memuliakan sesama, termasuk tamu yang datang.

    Nengah nyampur – pandai bergaul tanpa kehilangan diri
    Dalom melanjutkan, “Nengah nyampur berarti pandai bergaul dengan siapa saja, tapi jangan sampai kehilangan jati diri.” Orang Lampung harus terbuka terhadap siapa pun, pedagang dari Jawa, pendatang dari Batak, atau perantau dari Palembang. Namun dalam pergaulan itu, ia tetap memegang teguh adat dan Pesenggiri-nya.
    “Inilah bedanya,” kata Dalom. “Berkunjung dan dikunjungi bukan sekadar silaturahmi. Ini adalah sikap saling menghormati”.
    Dalam Islam, ini selaras dengan perintah Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13
    يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
    yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
    “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

    Sakai sambayan – ringan tangan membantu
    “Sakai sambayan,” Dalom tersenyum, “adalah gotong royong. Tolong-menolong dalam suka dan duka”.
    Bujang Gemilang teringat akan kejadian di Kampung Sukamarga. Seorang warga kehilangan rumah karena terbakar. Tanpa menunggu perintah, seluruh kampung bergerak. Ada yang menyumbang beras, ada yang mengumpulkan pakaian, ada yang membantu membangun kembali. Tidak ada yang bertanya, “Ini keluarga siapa?” Sebab sakai sambayan tidak mengenal sekat.
    Dalam Islam, tolong-menolong adalah kewajiban. Rasulullah saw. bersabda, “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim). Dan dalam Pancasila, nilai ini hidup dalam sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dan ke-5 (Keadilan Sosial).

    Bejuluk beadek – menjaga nama baik
    “Bejuluk beadek,” Dalom menatap tajam Bujang, “adalah gelar kehormatan yang harus kau jaga mati-matian.”
    Dalam masyarakat Lampung, setiap orang yang telah dewasa menyandang juluk (gelar). Bukan sekadar panggilan. Gelar adalah beban moral. Jika kau menyandang “Gemilang”, maka hidupmu harus memancarkan kemuliaan. Jika kau menyandang “Ratu Ngerang”, maka kau harus bijaksana seperti raja. Menjaga nama baik adalah menjaga martabat keluarga dan suku.
    Jujur mak ghedang – jujur dan tidak membual
    “Inilah yang paling berat,” Dalom menghela napas. “Jujur mak ghedang, jujur dan tidak membual.”
    Orang yang suka membual dianggap menghina akal sehat orang lain. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 23, disebutkan bahwa “anak lelaki piil-nya berhati-hati dalam bicara”. Hati-hati berarti tidak sembarangan berucap, tidak mengumbar janji palsu, dan tidak membesar-besarkan diri.
    Dalam Islam, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 70:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
    yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa qûlû qaulan sadîdâ
    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

    Asbabun nuzul ayat ini adalah ketika kaum munafik di Madinah sering mengucapkan kata-kata yang tidak benar, maka Allah memerintahkan kaum mukmin untuk berkata jujur dan lurus.

    Santun Bukan Lemah, Bukan Sombong

    Setelah menjelaskan kelima dasar, Dalom mengajak Bujang berjalan ke luar sesat.
    “Kau lihat pohon kelapa itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang menjulang. “Ia tegap, tidak membungkuk. Tapi saat angin kencang, ia melentur. Kalau ia kaku seperti batu, ia akan patah.”
    Menunduk bukan berarti takut
    Bujang mengangguk. Dalom melanjutkan, “Dalam Piil Pesenggiri, Pesenggiri berarti harga diri. Harga diri yang sejati tidak butuh ditunjukkan dengan dagu terangkat atau suara keras. Ia ditunjukkan dengan kemampuan merunduk saat diperlukan, tanpa merasa hina.”
    Dalom lalu mengisahkan sebuah legenda dari Kerajaan Sekala Bekhak, kerajaan kuno di kaki Gunung Pesagi yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung. Konon, Raja Sekala Bekhak dikenal sangat disegani, bukan karena ia galak, tapi karena ia selalu mendengarkan rakyatnya dengan kepala sedikit menunduk. “Itulah Pesenggiri,” kata Dalom. “Berani dalam kebenaran, lembut dalam bertutur”.
    Berbicara pelan bukan berarti kalah

    Di Kampung Pugung, ada tradisi musyawarah yang disebut himpun. Semua Punyimbang duduk melingkar. Tidak ada yang meninggikan suara. Jika seseorang berbicara dengan nada tinggi, ia akan ditegur. Sebab dalam adat Lampung, suara pelan adalah tanda bahwa kita mengendalikan emosi, bukan diperbudak olehnya.
    “Kalah bukan diukur dari siapa yang lebih keras,” kata Dalom. “Kemenangan sejati adalah ketika kedua belah pihak pulang dengan hati damai.”
    “Sopan itu senjata orang bijak di Lampung”
    Dalom mengutip sebuah pepatah tua: “Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri. Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi”, Cirinya orang Lampung, memiliki Piil Pesenggiri. Kehormatan selalu diperhitungkan, memiliki malu dan harga diri.
    “Sopan bukan kelemahan,” tegas Dalom. “Sopan adalah senjata. Dengan sopan, kita bisa masuk ke hati siapa pun. Dengan sopan, kita bisa menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Dengan sopan, orang akan menghormati kita tanpa kita paksa.”
    Contoh Sehari-hari dari Petuah Leluhur
    Untuk memperjelas ajarannya, Dalom memberikan tiga contoh konkret dari kehidupan sehari-hari.

    Mengalah saat berebut jalan setapak
    “Kau ingat kejadian di jembatan bambu pekan lalu?” tanya Dalom. Bujang menunduk. Ia hampir terlibat perkelahian dengan pemuda lain karena sama-sama tidak mau mengalah saat melewati jembatan sempit.
    “Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa mengalah bukan kalah. Mengalah adalah nemui nyimah, memberi tempat kepada orang lain. Saat kau mengalah, kau menunjukkan bahwa kau memiliki harga diri yang cukup untuk tidak bertengkar hanya karena urusan sepele”.

    Memotong pembicaraan adalah penghinaan halus
    Dalom menceritakan tentang seorang Punyimbang muda di Kampung Kenali yang sering memotong pembicaraan orang. Akibatnya, ia tidak pernah diundang ke musyawarah penting. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia dianggap tidak memiliki adab.
    “Dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 13 tentang tata tertib adat, berbicara harus bergiliran. Memotong pembicaraan adalah penghinaan halus karena kau mengatakan bahwa perkataanmu lebih penting dari perkataan orang lain. Dan itu bertentangan dengan bejuluk beadek, menjaga nama baik.”
    Dalam Islam, Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 11:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
    yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

    Tidak makan sebelum tamu mulai.
    Dalom mengisahkan sebuah tradisi di Kampung Bumi Dipasena. Ketika ada kenduri, tuan rumah akan mempersilakan tamu terlebih dahulu. Anak-anak menahan lapar melihat gulai ikan di meja. Ini adalah bentuk Nemui Nyimah yang paling nyata.
    “Rasulullah saw. bersabda dalam HR. Bukhari: ‘Man kāna yu’minu billāhi wal yaumil ākhiri falyukrim dhayfah’, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

    Dalom tersenyum. “Jadi, tidak makan sebelum tamu mulai bukan hanya adat. Ini ajaran agama.”
    Malam itu, Bujang Gemilang pulang dengan hati yang berubah. Ia sadar bahwa selama ini ia salah. Ia mengira Pesenggiri berarti harus selalu menang, harus selalu didengar, harus selalu dilayani. Padahal Piil Pesenggiri yang sejati justru mengajarkan sebaliknya: mengalah bukan kalah, merunduk bukan takut, dan memberi lebih dulu sebelum diminta.

    Keesokan harinya, ia memulai kebiasaan baru. Ia menyapa lebih dulu. Ia mempersilakan tamu makan sebelum ia mulai. Ia mendengar lebih banyak daripada berbicara.
    Dalom Ratu Ngerang yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum. “Itulah Piil Pesenggiri,” bisiknya pelan. “Harga diri yang melahirkan santun. Bukan dengan suara keras, tapi dengan hati yang lembut.” (*)

    Daftar Pustaka
    1. Kitab Kuntara Raja Niti (Manuskrip kuno aksara Lampung & Arab gundul)
    2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2022). Serial Buku – Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 2: Sembah Rasa, Sopan dalam Bahasa. Pemerintah Provinsi Lampung – JDIH
    3. Wikipedia. Piil Pesenggiri
    4. Repository IAIN Raden Intan. Falsafah Piil Pesenggiri dalam Masyarakat Lampung
    5. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Surat An-Nisa, Al-Ahzab, Al-Hujurat)
    6. HR. Bukhari (Hadits tentang memuliakan tamu)
    7. HR. Muslim (Hadits tentang menolong saudara)

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Khutbah Jum’at: Inspirasi Hijrah – Berpindah Menuju Ketaatan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Khutbah Jum’at: Inspirasi Hijrah – Berpindah Menuju Ketaatan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Kita masih berada di bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Momentum tahun baru Hijriah hendaknya tidak hanya menjadi pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbarui tekad berhijrah menuju ketaatan.

    Hijrah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah bukanlah pelarian karena takut. Hijrah adalah perintah Allah, strategi dakwah, sekaligus awal terbentuknya masyarakat Islam yang kuat. Dikesempatan khutbah hari ini, akan membahas topik yaitu: “Inspirasi Hijrah – Berpindah Menuju Ketaatan.”

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

    Amma ba’du.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah..

    Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan itulah bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Allah Ta’ala berfirman:

    «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ»

    Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…

    Kita masih berada di bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Momentum tahun baru Hijriah hendaknya tidak hanya menjadi pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbarui tekad berhijrah menuju ketaatan.

    Hijrah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah bukanlah pelarian karena takut. Hijrah adalah perintah Allah, strategi dakwah, sekaligus awal terbentuknya masyarakat Islam yang kuat.

    Selama tiga belas tahun di Makkah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menghadapi berbagai ujian. Beliau dihina, dicaci, diboikot, bahkan direncanakan untuk dibunuh. Namun sedikit pun beliau tidak pernah menggadaikan prinsip tauhid.

    Ketika kaum Quraisy menawarkan harta, kekuasaan, dan wanita agar beliau menghentikan dakwahnya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tetap teguh seraya berkata:

    «”Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya.”»

    Inilah teladan istiqamah yang patut kita renungkan.

    Allah Ta’ala berfirman:

    «إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ»

    Innal-lażīna āmanū wal-lażīna hājarū wa jāhadū fī sabīlillāhi ulā`ika yarjūna raḥmatallāh, wallāhu ghafūrur raḥīm.

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)

    Ayat ini menunjukkan bahwa iman harus dibuktikan dengan pengorbanan. Tidak ada hijrah tanpa perjuangan, dan tidak ada perjuangan tanpa kesabaran.

    Allah juga berfirman:

    «وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً»

    Wa may yuhājir fī sabīlillāhi yajid fil-arḍi murāghaman kaṡīraw wa sa’ah.

    “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 100)

    Jamaah yang dimuliakan Allah…

    Hijrah juga mengajarkan pentingnya memilih lingkungan yang baik. Ketika Makkah menjadi tempat yang menghalangi berkembangnya dakwah, Allah membuka pintu Madinah yang masyarakatnya siap menerima Islam.

    Ini menjadi pelajaran bagi kita. Lingkungan sangat memengaruhi keimanan. Bertemanlah dengan orang-orang saleh, dekatilah majelis ilmu, dan jauhilah lingkungan yang menyeret kepada maksiat.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    «الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

    Al-muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu.

    “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah.” (HR. Al-Bukhari)

    Hadis ini mengajarkan bahwa hijrah tidak berhenti pada perpindahan tempat, tetapi terus berlangsung sepanjang hidup dengan meninggalkan dosa dan memperbanyak amal saleh.

    Demikianlah Khutbah singkat hari ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

    أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

    Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

    Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

    Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

    Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

    اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    ‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Hari Bhayangkara ke-80, DPRD Provinsi Lampung Dorong Sinergi Kelembagaan dengan Polri

    Hari Bhayangkara ke-80, DPRD Provinsi Lampung Dorong Sinergi Kelembagaan dengan Polri

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung menghadiri Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 yang diselenggarakan di Lapangan Mapolda Lampung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (1/7/2026).

    Kehadiran DPRD Provinsi Lampung dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, H. Garinca Reza Pahlevi, SIKom., MM, bersama Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung, H. Edward Rasyid, SE

    Kehadiran DPRD Provinsi Lampung dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan sinergi kelembagaan antara DPRD dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan daerah, memperkuat penegakan hukum, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dukungan tersebut sejalan dengan fungsi DPRD dalam mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik serta terpeliharanya ketenteraman dan penyelenggaraan pemerintahan umum di daerah.

    Upacara berlangsung khidmat dan diikuti jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), unsur TNI, pemerintah daerah, instansi vertikal, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat di Provinsi Lampung. Rangkaian kegiatan meliputi pemeriksaan pasukan, penghormatan kepada Pataka Polda Lampung Wira Bhakti Ruwa Jurai, pembacaan Tri Brata, penganugerahan tanda kehormatan kepada personel Polri berprestasi, upacara Inspektur amanat, parade dan defile pasukan, hingga penyerahan penghargaan kepada personel yang menunjukkan dedikasi dalam pelaksanaan tugas.

    Usai mengikuti upacara, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung H. Garinca Reza Pahlevi, SIKom., MM, menyampaikan penghargaan atas pengabdian Polri dalam menjaga keamanan dan menghormati masyarakat.

    “Kami hadir mewakili DPRD Provinsi Lampung pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Kami berharap Polri terus menjadi institusi yang semakin profesional, mengedepankan prinsip Presisi, serta semakin dekat dengan masyarakat dalam memberikan pelayanan terbaik. Sinergi antara DPRD dan Polri harus terus diperkuat demi terciptanya keamanan dan telekomunikasi di Provinsi Lampung,” ujarnya.

    Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung H. Edward Rasyid, SE turut menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia.

    “Selamat Hari Bhayangkara ke-80. Semoga Polri semakin baik, semakin dicintai masyarakat, serta senantiasa memberikan pelayanan yang humanis, profesional, dan terbaik kepada seluruh masyarakat. Salam Presisi,” ungkapnya.

    Kehadiran DPRD Provinsi Lampung yang dalam hal ini diterima oleh Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung H. Garinca Reza Pahlevi, SIKom., MM, bersama Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung H. Edward Rasyid, SE, pada momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi wujud komitmen DPRD Provinsi Lampung dalam mendukung terjalinnya hubungan kelembagaan yang harmonis dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

    Sinergi tersebut diharapkan terus terpelihara guna mendukung terciptanya situasi keamanan dan menjaga masyarakat yang kondusif, penegakan hukum yang berkeadilan, serta pembangunan daerah yang berkelanjutan menuju Lampung Maju dan Indonesia Emas. (*/SMh)

  • Bupati Egi Hadiri HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolres Lampung Selatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Terbaik bagi Masyarakat

    Bupati Egi Hadiri HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolres Lampung Selatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Terbaik bagi Masyarakat

    nataragung.id – Kalianda – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara menjadi momentum bagi seluruh insan Polri untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui pelayanan yang profesional, responsif, humanis, dan berdampak nyata.

    Pesan tersebut disampaikan Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri, saat membacakan amanat Kapolri pada upacara HUT ke-80 Bhayangkara yang digelar di Lapangan Apel Mapolres Lampung Selatan, Rabu (1/7/2026).

    Upacara yang berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 WIB itu dihadiri Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), personel Polri dan TNI, serta para tamu undangan lainnya.

    Dalam amanat Kapolri yang dibacanya, AKBP Toni Kasmiri menegaskan bahwa seluruh tugas kepolisian pada hakikatnya bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara profesional, cepat, dan responsif.

    “Seluruh tugas kepolisian bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan pelayanan terbaik yang profesional, responsif, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar AKBP Toni.

    Menurutnya, tantangan yang dihadapi Polri semakin kompleks, mulai dari dinamika global, ancaman kejahatan siber, perkembangan teknologi, hingga konflik internasional yang berpotensi mempengaruhi stabilitas keamanan nasional.


    Untuk itu, Polri dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui penguatan sistem keamanan siber, peningkatan kemampuan prediktif, serta respon yang cepat dan tepat terhadap setiap laporan masyarakat.

    “Keberhasilan berbagai program pemerintah juga tidak terlepas dari aparat kepolisian dalam menjaga keamanan dan menjaga masyarakat. Oleh karena itu, Polri harus terus memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa,” kata AKBP Toni.

    Lebih lanjut, Kapolres menekankan pentingnya pembenahan internal guna menjawab dinamika serta ekspektasi publik yang terus berkembang. Profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi budaya kerja dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian.

    Selain itu, pemanfaatan informasi teknologi dinilai menjadi salah satu langkah strategi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap institusi masyarakat Polri.

    “Polri harus menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang humanis. Penguatan integritas, pelayanan berkualitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kunci membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.

    Peringatan HUT ke-80 Bhayangkara di Lampung Selatan menjadi refleksi sekaligus penguatan komitmen Polri untuk terus menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, modern, transparan, dan terpercaya. Semangat tersebut diharapkan mampu memperkokoh kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya keamanan yang kondusif sebagai fondasi keberhasilan pembangunan daerah dan nasional. (mara-kmf)

  • Musyawarah Kecamatan MUI Natar Tetapkan Dr. Achmad Sarbanun sebagai Ketua Masa Khidmat 2026–2031

    Musyawarah Kecamatan MUI Natar Tetapkan Dr. Achmad Sarbanun sebagai Ketua Masa Khidmat 2026–2031

    nataragung.id, Natar – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Natar menggelar Musyawarah Kecamatan (MUSCAM) pada Selasa, 30 Juni 2026, di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Natar, Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WIB tersebut mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Kemaslahatan Umat Mewujudkan Lampung Selatan Maju.”

    Musyawarah dihadiri oleh Dewan Pertimbangan MUI Natar, Dewan Pimpinan MUI Natar, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII, perwakilan pondok pesantren, serta KUA Kecamatan Natar. Dari sekitar 30 orang dan lembaga yang diundang, tercatat kurang lebih 25 peserta hadir mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Dalam sambutannya, Ketua MUI Kecamatan Natar masa khidmat 2020–2025, Kyai Qurthubi MQ, menyampaikan permohonan maaf atas terlaksananya musyawarah yang semestinya digelar pada tahun 2025 namun baru dapat dilaksanakan pada tahun 2026 karena berbagai pertimbangan.

    Selain itu, ia juga menyampaikan laporan singkat mengenai berbagai kegiatan dan program yang telah dilaksanakan selama lima tahun masa kepemimpinannya. Ia berharap MUI Kecamatan Natar dapat terus bersinergi dengan umara dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keharmonisan serta kemaslahatan umat di wilayah Kecamatan Natar.

    Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Natar, Drs. Mulyadi, memberikan apresiasi atas peran dan kontribusi MUI selama ini dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis di tengah masyarakat.

    Menurutnya, keberadaan MUI memiliki posisi strategis dalam membangun kerukunan umat beragama sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara, khususnya di Kecamatan Natar, guna mencegah munculnya konflik keagamaan maupun penyebaran paham yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan ketentuan perundang-undangan.

    “Semoga hasil musyawarah ini senantiasa mendapatkan keberkahan dan bimbingan Allah SWT,” ujarnya.

    Memasuki agenda utama, musyawarah dipimpin oleh Johan Wahyudi selaku pimpinan sidang. Dalam proses musyawarah dibentuk Tim Formatur yang beranggotakan tujuh orang, terdiri dari unsur perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, Dewan Pertimbangan, dan Dewan Pimpinan MUI.

    Melalui mekanisme musyawarah yang berlangsung secara mufakat, Tim Formatur menetapkan Dr. Achmad Sarbanun sebagai Ketua MUI Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, masa khidmat 2026–2031.

    Setelah penetapan ketua, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan struktur kepengurusan baru. Pimpinan sidang kemudian meresmikan hasil musyawarah dan memberikan kesempatan kepada ketua terpilih untuk menyampaikan sambutan perdananya.

    Dalam sambutannya, Dr. Achmad Sarbanun menegaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah berhimpunnya para ulama, kiai, ustaz, tokoh agama, dan cendekiawan Muslim yang memiliki tanggung jawab besar dalam membina umat.

    “Peran kita bukan hanya menyampaikan dakwah, tetapi juga menjaga umat agar tetap harmonis, tidak mudah terpecah, dan mampu hidup berdampingan dalam suasana yang penuh kedamaian,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan terima kasih atas amanah yang diberikan serta mengajak seluruh pengurus dan elemen masyarakat untuk bergerak bersama dalam mewujudkan kemajuan dan keharmonisan umat Islam di Kecamatan Natar.

    Musyawarah Kecamatan MUI Natar 2026 ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Qodar Solih. Dengan terbentuknya kepengurusan baru, diharapkan MUI Kecamatan Natar semakin optimal dalam menjalankan fungsi pelayanan, pembinaan, dan pemberdayaan umat, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang religius, harmonis, dan sejahtera di Kabupaten Lampung Selatan. (SN)

  • Pembangunan Tak Boleh Timpang, Bupati Egi Dorong Penguatan SDM dan UMKM Melalui Shobat di Sragi

    Pembangunan Tak Boleh Timpang, Bupati Egi Dorong Penguatan SDM dan UMKM Melalui Shobat di Sragi

    nataragung.id – Sragi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak boleh berjalan timpang.

    Kemajuan infrastruktur fisik harus diiringi dengan pembangunan sumber daya manusia, penguatan nilai-nilai spiritual, serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan hingga ke tingkat desa.

    Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat menghadiri kegiatan Shobat (Sholawat Bareng Bupati) di Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi, Selasa malam (30/6/2026).

    Momentum Shobat kali ini tidak hanya menjadi ajang syiar keagamaan dan silaturahmi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.

    Pada kesempatan itu, Bupati Radityo Egi menyerahkan bantuan stimulan kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Sragi sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

    Di hadapan ratusan jemaah yang memadati lapangan, Bupati Egi menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, esensi Shobat bukan sekadar bershalawat bersama, melainkan memperkuat fondasi spiritual yang menjadi bagian penting dalam membangun daerah.

    “Kita hidup di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Tantangan ekonomi, teknologi, dan derasnya arus informasi menuntut kita memiliki ilmu sekaligus akhlak yang kuat. Karena itulah malam ini kita berkumpul di forum Shobat, bukan sekadar bersholawat, tetapi memperkuat hati, mempererat ukhuwah, dan mengingatkan bahwa pembangunan yang paling penting adalah pembangunan manusia,” ujar Bupati Egi.


    Ia menegaskan, sebesar apa pun pembangunan jalan, jembatan, maupun fasilitas umum yang dilakukan pemerintah tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dibarengi dengan kerukunan masyarakat, kualitas sumber daya manusia, dan kesiapan generasi penerus.

    Menurut Bupati Egi, kekuatan sebuah daerah tidak hanya lahir dari kemajuan fisik, tetapi juga dari masyarakat yang memiliki karakter, moral, serta kebersamaan yang kuat.

    Selaras dengan semangat tersebut, Egi mengaitkan nilai-nilai yang dibangun melalui Shobat dengan implementasi Program Desa HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul). Program tersebut dirancang sebagai gerakan bersama untuk mewujudkan desa yang modern, namun tetap berakar pada nilai agama, budaya, dan semangat gotong royong.

    Melalui Program Desa HELAU, Pemkab Lampung Selatan menargetkan terwujudnya tata kelola pemerintahan desa yang bersih dan pelayanan publik yang semakin optimal. Dampaknya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, serta mendorong pertumbuhan sektor UMKM sebagai penggerak ekonomi lokal.

    Selain itu, program tersebut juga menempatkan masjid sebagai pusat pembinaan umat serta mendorong lahirnya generasi muda yang gemar mengaji dan memiliki karakter serta benteng moral yang kuat.

    “Program ini akan berhasil apabila pemerintah dan masyarakat berjalan berdampingan. Ketika pelayanan semakin baik, perekonomian warga bergerak, dan masjid menjadi pusat pembinaan umat, maka Desa HELAU benar-benar hadir memberi manfaat nyata,” kata Bupati Egi.

    Melalui forum Shobat, Pemkab Lampung Selatan juga menghadirkan jajaran pimpinan daerah secara langsung di tengah masyarakat. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat komunikasi, menyerap aspirasi warga, memperkuat kepercayaan publik, sekaligus mengapresiasi kerukunan yang selama ini terjaga di Kecamatan Sragi.

    Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, Sekretaris Daerah Supriyanto, jajaran pejabat utama dan para kepala perangkat daerah Pemkab Lampung Selatan, Camat Sragi, serta Kepala Desa Kuala Sekampung. (mara-kmf)