Piil Pesenggiri di Tengah Gempuran Materialisme, Bisakah Martabat Bertahan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tepian Way Sekampung, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Jaga. Ia dikenal cerdas dan ambisius. Setelah merantau ke kota, ia kembali ke kampung halaman dengan kekayaan yang melimpah, mobil mewah, dan gaya hidup yang berbinar. Suatu hari, ia menghadiri sebuah acara adat Beghundang, di mana seluruh keluarga besar berkumpul. Dengan percaya diri, ia memamerkan jam tangan mahalnya dan menyumbang dana dalam jumlah besar dengan suara lantang, berharap pujian akan menghampirinya.
Namun, sang Penyimbang Adat, Pak Dalom, justru memandangnya dengan tenang, bahkan sedikit sedih. Ketika tiba waktu Ratu Jaga untuk menyampaikan sigeh penguten (salam adat) dengan mencium tangan para tetua, ia melakukannya dengan tergesa, tangannya masih memperlihatkan gelang mewahnya. Pak Dalom kemudian menggandengnya dan berbisik lirih, “Anakku, kemuliaan seseorang bukanlah pada apa yang melekat di tangannya, tetapi pada bagaimana ia menggunakan tangannya itu untuk menghormati sesama. Harta boleh banyak, tapi jika jama (rasa malu) hilang, maka pesenggiri (harga diri)-mu justru berkurang di mata orang banyak.” Kata-kata itu menyentak Ratu Jaga bagai disiram air dingin. Ia tersadar, bahwa dalam semangatnya meraih kesuksesan materi, ia hampir melupakan inti dari jati dirinya: Piil Pesenggiri.

Cerita Ratu Jaga adalah alegori dari tantangan yang dihadapi masyarakat adat Lampung Pepadun di era globalisasi. Piil Pesenggiri, filosofi hidup yang menjadinya ruh kebudayaan Lampung, kini berhadapan dengan gempuran materialisme yang kerap mengukur segala sesuatu dari kepemilikan materi.

Esai ini akan membedah nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual dalam Piil Pesenggiri, menganalisis relevansinya, serta menjawab tantangan apakah martabat budaya ini dapat bertahan.

Piil Pesenggiri sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai “harga diri”. Namun, maknanya jauh lebih dalam dan kompleks. Ia adalah suatu konsep hidup yang membentuk karakter, perilaku, dan tata hubungan sosial masyarakat Lampung Pepadun. Filosofi ini terdiri dari beberapa pilar utama:
1. Nemui Nyimah: Sifat terbuka, ramah, dan mampu menerima tamu serta pendatang dengan hati yang lapang.

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 7 — Upacara Kematian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Nengah Nyappur: Kemampuan untuk beradaptasi dan aktif dalam pergaulan masyarakat tanpa kehilangan jati diri.

3. Sakai Sambayan: Semangat gotong royong dan tolong-menolong sebagai satu komunitas.

4. Bejuluk Beadek: Menjaga gelar dan status adat yang diwariskan secara turun-temurun, yang mewajibkan pemiliknya untuk berperilaku selayaknya.

Kitab Kuntara Raja Niti, salah satu rujukan adat Lampung, menyebutkan: “Hai umak sai tiwah, jama sai ngakak, piil sai pusus, patut sai paten, khimat sai pengga, ngindung sai bathin, ulah sai jelema, adat sai ngaku.” (Wahai anak cucu, milikilah rasa malu, piil yang lurus, patut yang pasti, hemat yang berarti, mengindung pada bathin, budi yang baik, adat yang diakui).

Analisis dari kutipan ini menunjukkan bahwa Piil Pesenggiri bukanlah harga diri yang kaku dan sombong. Justru, ia dimulai dari “jama” (rasa malu). Rasa malu inilah yang menjadi pengendali internal untuk tidak berperilaku menyimpang dari adat. “Piil sai pusus” (piil yang lurus) menekankan pada kejujuran dan integritas. “Khimat sai pengga” (hemat yang berarti) sangat relevan dengan kritik terhadap konsumerisme dan materialisme berlebihan. Nilai-nilai ini membingungkan sebuah sistem etika yang holistik, di mana martabat individu tidak terpisah dari tanggung jawabnya terhadap kolektivitas.

Dalam konteks kekinian, nilai “Khimat sai pengga” (hemat yang berarti) berbenturan langsung dengan budaya konsumtif. Materialisme mendorong individu untuk mendefinisikan diri melalui merek pakaian, jenis kendaraan, atau jumlah harta yang dipamerkan. Padahal, Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa kemuliaan berasal dari bagaimana kekayaan itu diperoleh dan dipergunakan untuk kemaslahatan bersama (Sakai Sambayan), bukan untuk pamer dan menjatuhkan orang lain.

Baca Juga :  Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri - 4: Sebuah Warisan Abadi untuk Nusantara. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Demikian pula, semangat Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur mendapat tantangan baru. Dunia maya dan media sosial telah menciptakan ruang pergaulan yang lebih luas, tetapi sering kali dangkal. Kemampuan untuk “nyappur” (bergaul) secara digital harus diimbangi dengan keteguhan “piil sai pusus” agar tidak terjerumus pada identitas yang palsu atau ujaran kebencian. Nilai Bejuluk Beadek juga bergeser; gelar adat kadang hanya dilihat sebagai simbol status sosial untuk pamer, bukan sebagai beban moral untuk menjadi teladan dalam masyarakat.

Lalu, bisakah martabat ini bertahan? Jawabannya terletak pada kemampuan untuk tidak hanya melestarikan bentuknya, tetapi juga merevitalisasi maknanya.
Pertama, pendidikan adat harus dimasukkan secara sistematis ke dalam pendidikan formal dan informal. Anak muda Lampung perlu memahami bahwa Piil Pesenggiri adalah “operating system” yang dapat membuat mereka sukses tanpa kehilangan identitas, seperti etos kerja keras yang tercakup dalam “khimat sai pengga”.

Kedua, perlu adanya penafsiran yang kontekstual. Nilai Sakai Sambayan dapat diterjemahkan dalam membangun jaringan bisnis yang kuat dan saling mendukung di perantauan. Nemui Nyimah dapat menjadi modal budaya untuk membangun pariwisata yang berkelas dan berkelanjutan.

Ketiga, peran penyimbang adat dan pemangku kepentingan sangat crucial. Mereka harus menjadi teladan hidup yang menjalankan nilai-nilai Piil Pesenggiri secara autentik, bukan hanya sebagai ritual yang mati.
Materialisme mungkin akan terus menggoda dengan gemerlapnya, tetapi Piil Pesenggiri memiliki ketahanan yang telah teruji zaman. Ia bukan menolak kemajuan atau kekayaan materi, tetapi menawarkan sebuah jalan yang lebih bermartabat untuk meraihnya.

Baca Juga :  Siger sebagai Simbol Kehormatan Adat. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Seperti yang diajarkan leluhur dalam Kuntara Raja Niti, “ulah sai jelema” (budi yang baik) dan “adat sai ngaku” (adat yang diakui) adalah pondasi yang kokoh.
Martabat Piil Pesenggiri akan bertahan jika ia tidak hanya dipajang dalam museum budaya, tetapi dihidupi dalam dinamika kehidupan modern. Ia harus menjadi kompas bagi generasi muda Lampung Pepadun untuk menjelajahi dunia, meraih kesuksesan materi, namun tetap kembali pada jati diri yang luhur: sukses secara finansial, tetapi juga dihormati karena kemuliaan budi pekerti dan kontribusinya kepada masyarakat.

Pada akhirnya, gelang mewah mungkin akan usang, tetapi martabat yang dibangun dari nilai-nilai luhur akan tetap abadi.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1.Buku:
o Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung.
o Suryadi, A. (2013). Piil Pesenggiri: Etika Hidup Orang Lampung. Universitas Lampung Press: Bandar Lampung.
2. Naskah Adat:
o Kuntara Raja Niti. (Naskah adat klasik Lampung yang banyak dipelajari dan diterjemahkan oleh para ahli adat, tersimpan dalam format digital terverifikasi di koleksi digital Perpustakaan Nasional RI).
3. Jurnal Ilmiah:
o Ismail, M. (2017). “Revitalisasi Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Membangun Karakter Generasi Muda Lampung”. Jurnal Sociologie, 3(2), 45-58. (Tersedia di portal jurnal online Universitas Lampung).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini