nataragung.id – Bandar Lampung – Setiap bilah badik Lampung bukanlah sekadar tempaan logam biasa. Ia adalah lembaran sejarah yang kaku, penyampai cerita yang bisu, dan penjaga memori kolektif suatu peradaban. Jika Buku Pertama membahas badik sebagai simbol filosofis, maka dalam buku kedua ini, kita menyelami jantung dari mitos dan legenda yang melahirkan sang penjaga tersebut. Asal-usul badik terukir pada setiap bilahnya, berbisik tentang zaman gemilang, pengorbanan, dan sumpah suci para leluhur yang membentuk jiwa masyarakat Lampung. Inilah hikayat tentang bagaimana sebilah senjata menjadi jelmaan semangat Piil Pesenggiri itu sendiri.
Bab 1: Dari Khazanah Skala Brak: Tambo dan Migrasi Besar
Hikayat asal-usul badik tak terlepaskan dari epos besar perpindahan orang Lampung dari dataran tinggi Skala Brak. Menurut Tambo Sekala Brak yang disimpan oleh Pepadun Marga Buay Belunguh, perjalanan dimulai ketika empat paksi (marga utama), Paksi Buay Bejalan Diway, Paksi Kenyangan, Paksi Nyerupa, dan Paksi Belunguh, turun menyebar ke penjuru Lampung. Mereka membawa serta pengetahuan tentang besi dan tempaan.
Sebuah kutipan dari naskah kuno Warahan Umpu menyatakan:
“Umpu Pernong tiuh di Skala Brak, ngehnyou Lampung ngehaghou lembaga, sijou besi, tembou senjata, piil pesenggiri haga tiyan.”
(Terjemahan dan Analisis): “Umpu Pernong tinggal di Skala Brak, mengajarkan adat Lampung dan lembaga, mengolah besi, menempa senjata, agar Piil Pesenggiri tetap terjaga.” Kutipan ini menegaskan bahwa keterampilan menempa senjata diajarkan langsung oleh leluhur (Umpu) dan merupakan bagian integral dari penjagaan adat dan harga diri (Piil Pesenggiri). Besi bukan hanya material, tetapi wahana untuk melestarikan suatu cara hidup.
Bab 2: Legenda Sang Pemburu dan Roh Gunung Rajabasa
Salah satu legenda paling hidup berasal dari wilayah selatan, sekitar Gunung Rajabasa. Dikisahkan tentang seorang pemburu ulung dari Marga Keratuan Darah Putih bernama Minak Temui Jati. Suatu hari, ia mengejar seekor rusa jelmaan hingga ke puncak gunung. Di sana, ia bertemu dengan seorang sesepuh berjubah putih, penunggu tempat tersebut.
Sang sesepuh memberikan sebilah besi berkarat yang telah tertancap di batu sejak zaman bahula. Sang pemburu diperintahkan untuk menempa kembali besi itu. Setelah melalui laku tapa dan semadi selama empat puluh hari, Minak Temui Jati berhasil menempa besi itu menjadi sebilah badik yang sangat indah. Pada bilahnya, secara gaib terlihat pola pamor seperti jejak kaki rusa yang dikejarnya. Badik itu dinamai Badik Jejama Rusa (Badik Jejak Rusa).
Sang sesepuh berpesan:
“Guna inou badik niku, bukan ghaghou ngehancoukon, tapi ghaghou ngejaghou hati diri. Sai sapa sai hinou ngehinaou andokmu, badik niku sai nerimo tulah.”
(Terjemahan dan Analisis): “Kegunaan badik ini, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menjaga hati diri. Siapa saja yang menghina harga dirimu, badik ini yang akan menerima (memberi) tulah.” Legenda ini mengandung nilai spiritual yang dalam.
Badik diperoleh bukan melalui pertumpahan darah, melainkan melalui laku spiritual dan penyucian diri. Fungsinya bergeser dari alat ofensif menjadi pelindung spiritual. Pola pamor “jejak rusa” melambangkan pengejaran akan kebenaran dan penuntun dalam perjalanan hidup.
Bab 3: Silsilah dan Pusaka Marga: Badik sebagai Otoritas
Pada banyak marga, sebuah badik pusaka merupakan simbol otoritas dan kesinambungan kepemimpinan. Dalam Marga Pubian, misalnya, badik pusaka yang dikenal sebagai Badik Siwar Matoton (Badik Seluang yang Lurus) diwariskan turun-temurun kepada anak laki-laki tertua. Badik ini menjadi simbol sahnya seorang Penyimbang (kepala adat).
Prosesi serah terima badik pusaka ini adalah sebuah ritual sakral. Calon penerima harus melalui masa pemali (pantangan) dan belajar mengahou andok (menjaga harga diri). Dalam upacara, tetua adat akan mengucapkan mantra serah terima:
“Inou badik Siwar Matoton, titipan Umpu di luah, sai jadi pengingat, sai jadi pejaghou, andokmu, adokmu, ghamaoumu.”
(Terjemahan dan Analisis): “Ini badik Siwar Matoton, titipan leluhur di dunia, jadikan pengingat, jadikan penjaga, harga dirimu, adatmu, keluargamu.” Kutipan ini menempatkan badik sebagai “titipan” leluhur, yang berarti sang penerima bukanlah “pemilik” mutlak, melainkan khadam atau penjaga yang suatu saat nanti harus meneruskannya lagi. Ini mencerminkan filosofi kekuasaan dalam budaya Lampung yang bersifat kolektif dan bertanggung jawab, bukan individual.
Bab 4: Pamor dan Tulisan Gaib: Bahasa pada Bilah
Pola pamor (betik) pada bilah badik dipercaya bukanlah hasil tempaan yang acak. Setiap pola memiliki makna dan kisahnya sendiri. Motif pucuk rebung (tunas bambu) yang umum ditemui melambangkan keteguhan, pertumbuhan, dan kesinambungan. Motif ular naga melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan.
Yang lebih menarik adalah badik-balih yang diyakini memiliki tulisan gaib pada bilahnya, sering disebut sebagai huruf Ulu atau aksara Kaganga kuno. Seorang tetua adat dari Marga Sungkay bercerita tentang Badik Kitabou milik leluhurnya. Konon, pada bilah badik itu terukir kalimat dalam bahasa lampung kuno:
“Tiyan sai beghati bengou, sai bejuluk beadek, tiyan sai bepunyai.”
(Terjemahan dan Analisis): “Orang yang berhatikan bening, yang bergelar beradat, orang yang mempunyai (martabat).” Ukiran ini diyakini muncul dengan sendirinya dan hanya dapat dilihat oleh mereka yang “berhati bening”. Ini merupakan personifikasi dari nilai inti Piil Pesenggiri.
Badik tidak hanya melambangkan nilai-nilai itu, tetapi juga secara aktif “memilih” dan “mengingatkan” pemiliknya untuk senantiasa hidup dalam jalan tersebut.
Epilog: Legenda yang Terus Ditempa
Legenda dan asal-usul badik Lampung mungkin beragam dari satu marga ke marga lainnya, namun benang merahnya tetap sama: badik lahir dari rahim spiritualitas, kearifan, dan kebutuhan mendalam untuk mempertahankan identitas. Setiap kali seorang pandai besi menempa sebuah badik baru, ia tidak hanya membentuk besi dan kayu; ia sedang mengulangi dan menghidupkan kembali epos leluhur.
Legenda-legenda ini terukir abadi pada setiap bilah, menjadi pengingat bahwa harga diri (andok) bukanlah konsep abstrak. Ia dibentuk oleh sejarah, dijaga oleh sumpah, dan diwariskan melalui benda-benda pusaka yang penuh makna. Badik adalah hikayat yang bisa digenggam, legenda yang diselipkan di pinggang, dan penjaga yang akan terus berbisik tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Naskah Kuno: Tambo Sekala Brak (Transkripsi yang disimpan oleh Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak). Format: Fisik (Arsip Kerajaan).
2. Buku: Cerita Rakyat Daerah Lampung oleh Prof. Dr. Hilman Hadikusuma (Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983). Format: Fisik.
3. Jurnal Ilmiah: “Simbolisme Senjata Tradisional dalam Masyarakat Adat Lampung” dalam Jurnal Archaeoastronomi dan Ethnosains, Vol. 5, No. 2 (2021). Format: Digital (Portal Jurnal Nasional).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

