MUTIARA PAGI : Bijak di Kala Lapang. (Renungan dari QS. Yusuf: 47). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Ketika mimpi raja menceritakan tujuh tahun yang subur dan tujuh tahun yang paceklik, Yusuf tidak hanya menafsirkan tanda, tapi menyiapkan jalan. Ia berkata dengan tenang dan bijak:

> “Bercocok tanamlah selama tujuh tahun tanpa henti, dan simpanlah hasil panenmu di bulirnya, makanlah sedikit darinya…”

Lihatlah…
betapa seorang nabi mengajarkan manusia ilmu pengelolaan hidup, bukan sekadar tafsir mimpi, tetapi hikmah dari langit yang menuntun bumi.

Ia tidak berkata, “Berdoalah agar musim buruk tidak datang,” karena iman bukan menghapus ujian, melainkan menyiapkan hati dan tangan untuk menghadapinya.
Yusuf tidak menunggu mukjizat, ia menyiapkan lumbung-lumbung biji-bijian, karena ia tahu, doa tanpa rencana adalah kesia-siaan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Didikan Lembut di Balik Ujian. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka wahai jiwa modern yang hidup di zaman berlimpah, ingatlah Yusuf, sang pengelola nikmat. Di saat hasil berlimpah, ia mengingat musim susah. Di kala tangan bisa mengambil banyak, ia memilih menyisakan sebagian.

Karena yang bijak bukan yang banyak mengumpul, tapi yang pandai menyimpan dan berbagi.

Yang arif bukan yang menanti datangnya krisis, tapi yang bersiap sebelum badai tiba.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Menjaga Harmoni dengan Kebijaksanaan Lisan dan Sikap. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Hari ini, pelajaran Yusuf bukan lagi tentang gandum dan bulirnya, tetapi tentang perencanaan dan kesederhanaan,
tentang disiplin dan kejujuran dalam mengelola nikmat.

Simpanlah sebagian dari rezekimu, bukan karena takut miskin, tapi karena menghargai berkah dari Tuhan.

Jangan habiskan segalanya hari ini,
sebab esok bisa menjadi tamu yang datang tanpa membawa kabar baik.

Dan ketika dunia menawarkan pesta tanpa batas, ingatlah bahwa Yusuf pernah menolak kemewahan,
demi masa depan manusia yang belum lahir.

Maka belajarlah darinya, menjadi hamba yang berfikir jauh, bukan sekadar merasa cukup.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Menjaga Nilai Diri dengan Tenang. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Menjadi manusia yang menanam di masa lapang, agar bisa memberi di masa sempit.

Karena iman sejati bukan hanya sabar di kala susah, tapi juga bijak di kala lapang. (86).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini