BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 2: MAKNA DAN TUJUAN BEGAWI CAKAK PEPADUN. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman yang silam, di kaki Gunung Pesagi yang megah, hiduplah seorang pemuda gagah bernama Ratu Dipuncak. Ia adalah keturunan dari Paksi Buay Bejalan Diway, salah satu dari empat pilar kerajaan tua Sekala Bekhak.

Ratu Dipuncak dikenal akan kebijaksanaannya dan keberaniannya. Namun, ia gelisah. Ia bermimpi tentang sebuah masyarakat yang tidak hanya ditentukan oleh kelahiran, tetapi juga oleh usaha dan jasa seseorang kepada komunitasnya.
Bersama keempat putranya, Unyi, Unyai, Subing, dan Nuban, serta lima marga sahabat setia (Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang, dan Nyerupa), Ratu Dipuncak memulai perjalanan membuka pemukiman baru. Kelak, persatuan mereka dikenal sebagai Abung Siwo Mego.

Dalam sebuah mimpi, ia didatangi oleh roh nenek moyang yang memperlihatkan sebuah singgasana kayu berukir indah, yang disebut Pepadun. Mimpi itu berkata, “Barangsiapa yang dengan ikhlas berjasa, dan dengan kesungguhan hati menyelenggarakan upacara di atas singgasana ini, maka ia akan diakui sebagai Penyimbang, pemimpin yang mengayomi, bukan menguasai.”

Dari legenda inilah, tradisi Begawi Cakak Pepadun mengalir, menjadi jiwa bagi masyarakat Lampung Pepadun yang egaliter dan menghargai prestasi.

Sebelum menyelami lebih dalam, penting untuk memahami makna dari setiap kata dalam “Begawi Cakak Pepadun”. Setiap istilah adalah sebuah filosofi yang berdiri sendiri, namun saling melengkapi dalam sebuah simfoni adat.
1. Begawi
Secara etimologis, Begawi berasal dari bahasa Lampung yang berarti “melaksanakan hajatan” atau “mengerjakan suatu pekerjaan besar”. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar pesta.

Begawi adalah sebuah karya kolektif. Ia bukan pekerjaan individu, melainkan sebuah mobilisasi seluruh komunitas, dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian. Dalam sebuah naskah kuno disebutkan, “Gawi sai ngehimpun, sai nyambai, sai nyinang.” (Hajatan yang menghimpun, yang menyatukan, yang menguatkan). Ini menunjukkan bahwa Begawi adalah medium untuk memperkuat ikatan sosial dan solidaritas.
2. Cakak
Kata Cakak berarti “naik” atau “menaiki”. Ini bukan sekadar aksi fisik, melainkan sebuah perpindahan status yang bersifat spiritual dan sosial. Cakak adalah momen transendental di mana seseorang diangkat dari posisi biasa ke posisi yang penuh tanggung jawab. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang seorang calon pemimpin.
3. Pepadun
Pepadun adalah inti dari segalanya. Secara fisik, ia adalah sebuah singgasana atau bangku kayu berukir yang menjadi pusat upacara. Namun, ia lebih dari sekadar kursi. Pepadun adalah simbol status sosial tertinggi dalam keluarga dan masyarakat. Ia adalah lambang kewibawaan, kedewasaan, dan kesiapan untuk memikul amanah. Seorang tetua adat pernah berujar, “Pepadun sai ngejuluk, sai ngadek, sai ngerajo.” (Pepadun yang memberi gelar, yang memberi kedudukan, yang merajakan).
Duduk di atas Pepadun berarti siap untuk “dijuluk” (diberi gelar), “didedak” (diberi kedudukan), dan dipersiapkan untuk memimpin.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 1: Piil Pesenggiri, Martabat dan Harga Diri dalam Bingkai Iman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dengan demikian, Begawi Cakak Pepadun dapat dimaknai sebagai sebuah karya kolektif masyarakat untuk mengangkat seseorang dengan menaikkannya ke atas singgasana simbolis, sebagai penanda pengakuan atas status sosialnya yang baru sebagai seorang Penyimbang.
Bagi yang awam, Begawi Cakak Pepadun mungkin terlihat seperti pesta adat yang meriah dan menghabiskan biaya besar. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan tujuan filosofis yang sangat mendalam dan menjadi penopang kehidupan masyarakat.
1. Wujud Rasa Syukur kepada Sang Pencipta. Seluruh rangkaian upacara ini, mulai dari persiapan hingga puncak acara, dijiwai oleh rasa syukur. Penyembelihan kerbau, yang menjadi syarat utama, bukanlah sekadar simbol kemewahan. Dalam perspektif masa kini, ia adalah bentuk sedekah dan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan rezeki yang dilimpahkan. Daging kerbau kemudian dibagikan kepada seluruh undangan, mencerminkan semangat berbagi dan mengukuhkan bahwa kemuliaan seseorang harus dinikmati bersama masyarakat. Seperti tertuang dalam falsafah hidup orang Lampung, Pi’il Pesenggiri, yang mengajarkan untuk selalu menjaga harga diri dengan cara berbuat kebajikan dan bersyukur.
2. Mekanisme Pengakuan Sosial yang Meritokratis. Berbeda dengan sistem kebangsawanan ketat di Saibatin, Pepadun menawarkan ruang yang lebih egaliter. Status Penyimbang tidak melulu diwariskan secara otomatis. Setiap laki-laki, dengan usaha dan kemampuannya, berhak untuk mengajukan diri mengikuti prosesi ini, tentu setelah memenuhi segala syarat adat, termasuk membayar dau (sejumlah uang adat) dan menyembelih kerbau. Prosesi ini adalah pengakuan formal dari masyarakat bahwa seseorang dianggap telah matang secara ekonomi, sosial, dan spiritual untuk memegang tampuk kepemimpinan. Ia adalah bentuk apresiasi terhadap prestasi dan integritas individu.
3. Proses Penobatan Pemimpin (Penyimbang) yang Mengayomi. Menjadi Penyimbang bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab. Kitab Kutara Rajantti, salah satu pedoman hidup masyarakat Lampung, dengan tegas menggambarkan sosok pemimpin ideal. Seorang Penyimbang harus “berakal budi serta berhati-hati terhadap pemicu kerusakan yakni harta, wanita, tanaman, mata pencaharian dan sikap diri pribadi.” Setelah cakak (naik) di atas Pepadun, calon Penyimbang akan mendapat wejangan (nasihat) dan petuah tentang tanggung jawabnya sebagai seorang Khalifah atau pemimpin yang harus membimbing masyarakatnya ke arah kehidupan yang lebih baik dan sesuai norma agama. Sebuah petuah adat mengatakan, “Punyimbang sai ngayomi, sai nguwawi, sai ngegantungi.” (Penyimbang yang mengayomi, yang melindungi, yang menjadi tempat bergantung).
4. Pemersatu dan Penguat Solidaritas Sosial. Prosesi Begawi yang panjang dan rumit mustahil terlaksana tanpa gotong royong seluruh komunitas. Mulai dari peppung (musyawarah) yang melibatkan semua penyimbang dari berbagai tingkatan, hingga persiapan logistik dan pelaksanaan acara, semuanya dilakukan secara kolektif. Ritual seperti cangget (pagelaran tari) dan nigel nari (tarian khusus laki-laki) melibatkan bujang dan gadis dari seluruh lapisan masyarakat. Interaksi ini menciptakan ruang bersama yang memperkuat rasa persatuan. Dalam teori sosiologi Emile Durkheim, ini adalah wujud nyata solidaritas mekanik, di mana masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif, kesamaan nilai, dan gotong royong yang kuat. Begawi Cakak Pepadun, dengan demikian, adalah “lem sosial” yang merekatkan hubungan kekerabatan dan kewargaan.

Baca Juga :  Buku Seri: Saibatin dan Pepadun, Keberagaman Sistem Adat Lampung. Seri 3 – Cara Memimpin Masyarakat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Setiap tahapan dalam Begawi Cakak Pepadun bukanlah ritual kosong. Ia sarat dengan nilai-nilai luhur yang menjadi panduan hidup.
* Nilai Spiritual: Terwujud dalam doa-doa, rasa syukur, dan penyembelihan kerbau yang kini diselaraskan dengan syariat Islam. Prosesi ini mengingatkan manusia akan kedudukannya di hadapan Sang Pencipta dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang diamanahkan.
* Nilai Moral: Seluruh prosesi, terutama pemberian wejangan, menekankan pada etika dan budi pekerti. Seorang Penyimbang dituntut untuk jujur, adil, bijaksana, dan menjadi teladan. Kesalahan seorang Penyimbang akan mendapat sanksi sosial yang besar, sebanding dengan tingginya posisinya.
* Nilai Sosial: Gotong royong, musyawarah, dan kerjasama adalah napas dari upacara ini. Nilai ini mengajarkan arti penting kebersamaan, menghormati peran masing-masing individu, dan menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat.
* Nilai Estetika: Keindahan terpancar dari busana adat seperti siger (mahkota) berlekuk sembilan, kain tapis bersulam emas, iringan musik gamelan, dan gerakan tari yang anggun. Nilai estetika ini bukan sekadar hiasan, melainkan cara untuk menyampaikan pesan moral dan spiritual dengan lebih luhur dan mudah diterima.
* Nilai Ekonomi: Meski bukan tujuan utama, upacara yang berlangsung berhari-hari menciptakan geliat ekonomi lokal. Pedagang kuliner, souvenir, dan jasa lainnya mendapatkan manfaat, menjadikan Begawi tidak hanya sebagai peristiwa budaya tetapi juga pemacu ekonomi kerakyatan.

Baca Juga :  Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Ikan Bakar dan Bejuluk Beadok, Identitas dalam Hidangan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Begawi Cakak Pepadun adalah lebih dari sekadar adat. Ia adalah sebuah sistem nilai yang hidup, sebuah filsafat kepemimpinan yang berakar pada kearifan lokal, dan sebuah mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan komunitas. Dalam pusaran globalisasi yang kadang menggerus identitas, tradisi seperti ini bagai mercusuar yang mengingatkan kita pada jati diri.
Melestarikan Begawi Cakak Pepadun bukan berarti mempertahankan kemewahan materiilnya, tetapi merawat jiwa dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengakuan atas prestasi dan integritas, dibangun di atas fondasi gotong royong, dan diabdikan untuk mengayomi sesama serta bersyukur kepada Sang Pencipta. Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari semua prosesi ini adalah melahirkan manusia utama, seperti yang dicita-citakan leluhur di Bukit Pesagi, yang tidak hanya berjuluk dan berkedudukan, tetapi juga berbudi pekerti luhur dan bermanfaat bagi semesta.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Depdikbud Lampung. (1999). Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun. Bandar Lampung: Depdikbud Lampung.
3. Cathrin, Shely, dkk. (2021). “Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung”. Patrawidya, Vol. 22, No. 2.
4. Skripsi & Jurnal Terkait: Maria (2000), Syarifah, Farisa (2021), Ghassani, Maretha (2019).
5. Naskah dan Kitab Rujukan Adat: Kutara Rajantti (dikutip secara turun-temurun oleh tetua adat).
6. Wawancara dengan Tokoh Adat (seperti dijelaskan dalam file “IMPLEMENTASI CAKAK PEPADUN.pdf”).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini