nataragung.id – Surakarta – Kalau ngomongin sejarah Jawa, empat nama ini pasti sering nongol: Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara.
Mereka semua punya hubungan erat sama Kesultanan Mataram Islam, kerajaan besar yang dulu berjaya banget di Jawa Tengah. Tapi gara-gara drama politik, perebutan kekuasaan, plus campur tangan kolonial, Mataram akhirnya pecah jadi empat kerajaan besar yang masih eksis sampai sekarang.
⚔️ Asal Mula: Drama Pecahnya Mataram
Dulu ada raja bernama Amangkurat I, alias Raden Mas Sayidin. Tapi masa pemerintahannya penuh konflik — politik berantakan, pemberontakan di mana-mana, bahkan anaknya sendiri ikut melawan!
Kerusuhan besar pecah tahun 1677 dipimpin Trunajaya dari Madura, dibantu pasukan Makassar. Istana Plered pun tumbang, dan Mataram Islam resmi kehilangan kejayaannya.
Setelah Amangkurat I wafat dalam pengasingan, anaknya naik tahta jadi Amangkurat II dan mindahin pusat kerajaan ke Kartasura (1680). Tapi ya, konflik masih aja berlanjut. Akhirnya kerajaan ini benar-benar pecah jadi beberapa bagian.
💥 Lahirlah kerajaan-kerajaan baru:
1745 : Raden Mas Prabasuyasa bikin Kasunanan Surakarta
1755 : Perjanjian Giyanti bikin Mataram resmi terbelah dua — Jogja dan Solo
1797 : Lahir Mangkunegaran
1812 : Berdiri Pakualaman
👑 Hamengku Buwono : Raja-nya Jogja
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri tahun 1755 lewat deal politik antara Pangeran Mangkubumi dan VOC. Mangkubumi akhirnya dinobatkan jadi Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Keraton Yogyakarta yang kita kenal sekarang.
Nama “Yogyakarta” sendiri berasal dari “Yodyakarta”, gabungan kata Ayodya (negeri damai dari kisah Ramayana) dan Karta (makmur). Jadi, maknanya: tempat yang damai dan sejahtera.
Waktu kolonial Belanda, Jogja sempat jadi wilayah yang diatur lewat kontrak politik. Tapi setelah Indonesia merdeka tahun 1950, Kesultanan Jogja dan Pakualaman resmi jadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam NKRI.
📜 Daftar sultan Jogja dari masa ke masa : HB I sampai HB X — dan yang sekarang berkuasa adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X.
🛡️ Paku Alam : Penyangga Dunia Versi Jogja
Kadipaten Pakualaman berdiri tahun 1813, waktu Inggris masih ngatur Jawa di bawah Thomas Stamford Raffles.
Ceritanya agak dramatis : Keraton Jogja diserbu Inggris, Sultan HB II dilengserin, dan Pangeran Notokusumo (yang bantu Inggris) dikasih gelar baru — Paku Alam I. Dia dikasih wilayah sekitar 4.000 cacah tanah dan boleh punya pasukan sendiri.
Makna nama “Paku Alam” sendiri adalah penyangga dunia — simbol penguasa yang jaga keseimbangan dan ketertiban.
Gelar ini terus diwarisin turun-temurun sampai sekarang, dan sekarang dipegang sama Paku Alam X.
🕍 Paku Buwono : Raja Solo yang Legendaris
Kasunanan Surakarta Hadiningrat alias Keraton Solo lahir tahun 1745 gara-gara Kartasura hancur akibat pemberontakan Tionghoa.
Raja waktu itu, Paku Buwono II, mutusin buat bangun ibu kota baru di Sala (Solo) — dan sejak itu, Solo jadi pusat budaya Jawa yang keren banget.
Sayangnya, setelah PB II wafat (1749), kekuasaan Mataram diserahkan ke VOC. Jadi mulai dari situ, Belanda ikut campur ngatur raja-raja Solo.
Gelar Paku Buwono sendiri berarti peneguh dunia — simbol tanggung jawab raja buat jaga harmoni dan ketertiban bumi.
📜 Raja-raja Solo dari PB II sampai PB XIII terus jaga tradisi ini, dan sampai sekarang Keraton Surakarta masih berdiri megah di jantung kota Solo.
🐉 Mangkunegaran : Si Pemberani dari Solo
Kerajaan Mangkunegaran berdiri tahun 1757 lewat Perjanjian Salatiga, hasil perjuangan epik Raden Mas Said (Mangkunegara I) lawan Belanda dan Kasunanan Solo.
Dia akhirnya diakui sebagai penguasa mandiri dan punya wilayah sendiri.
Yang unik, gelarnya beda: bukan “Sunan” atau “Sultan,” tapi KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya) Mangkunegara — karena statusnya cuma kadipaten otonom, bukan kerajaan penuh.
Tradisi di Mangkunegaran juga beda. Misalnya, penari bedaya-nya cuma tujuh orang, bukan sembilan kayak di Solo.
Setelah merdeka, Mangkunegara VIII langsung nyatakan gabung ke Indonesia, dan sampai sekarang masih berdiri di Pura Mangkunegaran, Solo — dipimpin Mangkunegara X.
🌾 Empat Kerajaan, Satu Akar : Mataram yang Abadi
Jadi, keempat kerajaan ini — Jogja, Pakualaman, Solo, dan Mangkunegaran — semuanya punya akar yang sama : Mataram Islam.
Mereka udah lewat masa perang, politik, dan kolonialisme, tapi tetep eksis dan jadi bagian penting dari budaya Jawa modern.
Sekarang, keempatnya gak cuma simbol sejarah, tapi juga bukti kalau tradisi dan modernitas bisa jalan bareng.
Karena, ya… Jawa bukan cuma masa lalu, tapi juga jiwa yang masih hidup sampai sekarang. (**)
*// Dari berbagai sumber

