nataragung.id – Bandar Lampung – Mantan presiden Pilipina Rodrigo Duterte saat ini sedang meringkuk di penjara internasional di Den Haag karena kasus pelanggaran HAM, ketika menjadi presiden Duterte melakukan pembunuhan tidak langsung kepada puluhan gembong narkoba di Pilipina.
Langkah yang di lakukan presiden Pilipina dalam menumpas narkoba ini mengingatkan kita akan adanya operasi penembakan misterius ( PETRUS ) yang di lakukan presiden Soeharto terhadap orang-orang yang di kategorikan penjahat thn 1983 – 1985.
Medio 1983…
Hari masih pagi pukul 6.00 WIB, Yanto membuka tokonya di pasar Jembat Batu Kecamatan Sukadana (dulu Lampung Tengah), pasar kecil ini tidak tiap hari buka, seminggu hanya dua kali waktu pasarannya Senin dan Kamis.
Mbah Suto yang beberapa minggu sebelumnya menghilang dari rumahnya karena orang-orang desa geger karena di temukannya mayat-mayat penembakan misterius di jalan-jalan, pagi itu juga membuka toko berasnya, Mbah Suto ini badannya tinggi dan gagah, sehari-hari sebagai jogoboyo ( poldes ) di desanya, namun sudah jadi rahasia umum Mbah Suto juga merangkap bos garong.
Ketika Yanto sedang berbenah, tokonya yang masih sepi, datang dua org laki-laki beli topi koboy, bagi Yanto tidak heran adanya orang tegap, karena jarak satu kilometer dari tokonya sudah masuk kawasan hutan Gunung Balak yang di jaga ketat oleh aparat dan beberapa kali di datangi jenderal dari Jakarta.
Tidak lama dor .. dor.. orang yang sudah ke pasar pagi itu kaget, dan bergegas lari mencari sumber suara, terlihat Mbah Suto sudah tergeletak di saluran air depan toko berasnya tewas bersimbah darah dan dua orang itu dengan santainya berjalan menjauh.
Tidak lama setelah itu jarak 10 KM dari tempat Mbah Suto,.pak Sahir yang yang rumahnya di depan pasar umbul karet kecamatan Jabung dan di kenal sebagai bos garong juga tewas. Mayatnya di geletakkan di pemakaman umum di Kota Gajah.
Tidak ada yang bisa menghitung berapa penjahat yang berhasil di tembak misterius di Lampung kala itu, apalagi secara nasional.
Belakangan setelah lengser, Pak Harto mengatakan tentang Petrus ( penembakan misterius) : “Itu tanggung jawab saya pribadi nanti dengan Tuhan.” Kata Soeharto kala itu.
Presiden Soeharto beruntung didalam melakukan pembunuhan para penjahat ( operasi petrus) nasibnya baik tidak seperti mantan presiden Pilipina Rodrigo Duterte yang karena tidak membawa para pengedar narkoba ke pengadilan tapi langsung dibunuh aparat atas perintahnya, sekarang mantan presiden Pilipina itu di penjara di Den Haag karena tuduhan melanggar HAM.
Jika mantan Presiden Rodrigo Duterte berhasil di penjara oleh Mahkamah kriminal internasional di Den Haag, lalu bagaimana dengan PM Israel Benyamin Netanyahu yang sudah di putuskan oleh Mahkamah kriminal internasional untuk di tangkap karena melakukan pembunuhan lebih dari 60 ribu warga kota Gaza namun hingga sekarang belum berhasil di penjara?
Kita berharap jangan sampai publik beranggapan ada standar ganda yang di lakukan mahkamah internasional dalam menangani pelanggaran HAM. Dua peristiwa yang sama yaitu perintah menghilangkan nyawa, tapi bernasib beda. (*)
*) Penulis adalah : Aktivis Nahdlatul Ulama Lampung, tinggal di Bandar Lampung.

