nataragung.id – Natar – Pada suatu masa ketika Madinah diguncang badai fitnah, ketika udara terasa berat dan hati terasa sesak, nama Aisyah, putri tercinta Abu Bakar, istri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, mutiara yang suci, terseret dalam kabut tuduhan yang kelam.
Lisan-lisan tak bertulang menyebar kata, dan daun-daun fitnah berjatuhan tanpa pernah bertanya apakah angin itu benar atau dusta.
Di antara mereka yang terseret dalam gelombang isu itu adalah Mistah bin Utsatsah, seorang lelaki miskin, kerabat, yang hidup dari belas kasih Abu Bakar.
Aneh, tangan yang memberi sering kali digigit oleh mereka yang menerimanya.
Saat kebenaran turun dari langit membersihkan nama Aisyah dengan cahaya wahyu, ketika bumi mengakui kesucian dan langit bersaksi, Abu Bakar menangis, bukan karena malu, tapi karena kecewa dan terluka.
Bagaimana mungkin Mistah…? Kerabatnya sendiri. Orang yang setiap hari hidup dari hartanya. Orang yang selama ini dibantu tanpa pamrih.
Dengan air mata tertahan dan perasaan manusiawi yang tak tertolak, Abu Bakar bersumpah: “Demi Allah, aku tidak akan menafkahinya lagi.”
Ia punya alasan. Ia punya hak. Dan tidak ada seorang pun yang menyalahkannya.
Namun Allah, Ar-Rahman, Yang Maha Memaafkan,
yang mengajari manusia bahwa tinggi akhlak bukan pada membalas, tapi pada berlapang dada.
Lalu turunlah ayat, bagai hujan yang menyebut nama Abu Bakar di antara kalimatnya:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian?”
Ayat itu mengetuk hatinya lebih keras dari pukulan pedang. Abu Bakar terdiam. Lidahnya kelu. Hatinya hancur, tapi bukan karena fitnah, melainkan karena ia menyadari bahwa Allah mengajaknya naik ke langit akhlak yang lebih tinggi.
Dengan suara bergetar ia berkata: “Demi Allah… tentu aku ingin Allah mengampuniku.”
Dan seketika, amarah sirna. Kekecewaan menguap. Luka pun berubah menjadi cahaya.
Ia memaafkan Mistah. Bukan dengan sekedar kata. Ia melanjutkan nafkahnya, bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Karena memaafkan itu mulia, tapi membalas luka dengan kebaikan, itu adalah puncak akhlak para kekasih Allah.
Begitulah Abu Bakar, yang hatinya lebih lapang dari padang pasir, dan pengampunannya lebih luas dari langit malam yang tenang.
Pada dirinya, ayat itu hidup menjadi tindakan, menjadi pelajaran, menjadi teladan: Bahwa hidup tak selalu tentang siapa yang melukai, tapi tentang bagaimana kita memilih mengubah luka menjadi pahala dan air mata menjadi penghapus dosa.
Hari itu Madinah belajar, bahwa memaafkan bukan berarti kalah, melainkan menang di hadapan Allah. (**)
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

