nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dusun di tepian Way Sekampung, hiduplah seorang pemuda bernama Genta. Ia adalah cucu dari kepala adat yang dihormati, mewarisi darah kepemimpinan namun masih mencari jati diri. Suatu malam, neneknya yang sepuh bercerita tentang Legenda Telaga Ranau. Konon, danau itu tercipta dari air mata seorang dewi yang meratapi kesendiriannya. Sebuah gempa besar lalu memisahkan sebuah bukit, menciptakan cekungan yang kemudian terisi air. Dalam kesendiriannya, sang dewi justru menemukan bahwa danau itu menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk. “Dari kesendirian, terciptalah sumber kebersamaan,” bisik sang nenek. “Itulah cermin Sakai Sambayan.”
Keesokan harinya, badai menerpa dusun itu. Sebagian besar rumah, termasuk balai adat, rusak berat. Genta, yang rumahnya selamat, melihat kepanikan warga. Ia teringat pesan neneknya dan legenda Telaga Ranau. Sebuah tekad tumbuh dalam hatinya. Di pelataran balai adat yang rusak, ia berdiri di atas sebuah batu dan berseru, “Wahai saudara-saudaraku! Jangan biarkan kesulitan ini memisahkan kita. Seperti air telaga yang menyatukan daratan, mari kita satukan tenaga! Rumah kita yang rusak ini akan kita perbaiki bersama!”
Seruannya bagaikan percikan api di tengah kegelapan. Satu per satu warga mendekat. Ada Bujang, petani kuat yang membawa kapak. Ada Muli, ibu muda yang menjanjikan persediaan makanan dan minuman. Bahkan Kinan, seorang gadis kecil, berkata ia akan membantu mengumpulkan daun rumbia. Pada saat itulah, Genta menyadari bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar perintah, melainkan panggilan hati yang sudah tertanam dalam jiwa setiap orang Lampung.
Tiang Pertama Persaudaraan
Prosesi pembangunan kembali balai adat dimulai dengan Musyawarah Besar. Semua unsur masyarakat hadir: tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya-miskin. Dalam musyawarah itu, prinsip Nemui Nyimah (keramah-tamahan) dan Nengah Nyappur (suka bergaul) diterapkan sepenuhnya. Setiap suara didengar, setiap pendapat dihargai. Seorang tetua adat, Pak Duo, membacakan petuah dari naskah kuno Kuntara Raja Niti: “Sakai Sambayan, tiada beban terasa berat bila dipikul beramai-ramai. Seberat apa pun pekerjaan, jika dibagi, akan menjadi ringan.”
Pembangunan pun dimulai. Ritual Ngebabali, atau mendirikan tiang utama, dilakukan dengan khidmat. Tiang itu tidak hanya disatukan dengan pasak kayu, tetapi juga diikat dengan tali rotan yang dijalin bersama oleh perwakilan setiap marga. Setiap ikatan simbolis itu diiringi doa: “Seperti rotan ini yang saling melilit dan menguatkan, demikianlah persaudaraan kita. Tiada yang dapat memutuskan ikatan Sakai Sambayan ini.”
Sebuah konflik kecil muncul ketika Rangga, seorang pemuda dari marga yang dianggap “bawahan”, memberikan ide tentang posisi jendela yang lebih strategis untuk sirkulasi udara. Beberapa tetua yang kaku sempat menolak. Namun, Genta dengan bijak mengingatkan mereka tentang Piil Pesenggiri (harga diri). “Bukankah Piil Pesenggiri mengajarkan kita untuk menghargai setiap pencapaian dan kebijaksanaan, dari mana pun asalnya? Harga diri kita justru tumbuh ketika kita mampu mendengar,” katanya.
Akhirnya, ide Rangga diterima, menunjukkan bahwa Sakai Sambayan juga merupakan ruang untuk mendewasakan ego kolektif.
Di Bawah Naungan Kitab Suci.
Di sela-sela istirahat, Pak Duo, yang juga seorang penghulu, mengajak para pemuda berdiskusi. Ia membuka lembaran Al-Qur’an dan membacakan firman Allah SWT: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). “Lihatlah,” ujarnya, “Apa yang kita lakukan hari ini, mengangkat tiang balai untuk kemaslahatan umat, adalah wujud nyata dari perintah Allah ini. Sakai Sambayan adalah pakaian takwa kita.”
Ia kemudian menjelaskan konsep Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). “Rasulullah SAW bersabda, ‘Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menolong adalah bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.'” Hadis ini, lanjutnya, adalah jiwa dari Sakai Sambayan.
Penderitaan seorang janda yang rumahnya roboh adalah “sakit” yang harus dirasakan dan diobati oleh seluruh “tubuh” masyarakat dusun.
Diskusi itu menerangi makna kerja bakti yang mereka lakukan. Membangun balai bukan lagi sekadar urusan duniawi, melainkan sebuah ibadah yang pahalanya mengalir. Setiap pukulan palu, setiap ikatan rotan, setiap tetes keringat, bernilai di sisi Allah. Mereka menyadari bahwa semangat Sakai Sambayan yang diajarkan leluhur mereka ternyata selaras dan diperkuat oleh ajaran agama yang mereka anut.
Jalan Sunyi Seorang Penyendiri.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Di pinggiran dusun, hidup seorang tua bernama Kiai Peradi. Ia dikenal sebagai orang yang kaya raya namun hidup menyendiri dan enggan bergaul. Ketika kabar tentang pembangunan balai adat sampai kepadanya, ia hanya menggeleng. “Urusan mereka, bukan urusanku,” katanya dalam hati. Individualisme yang dipeluknya membuatnya acuh.
Suatu sore, hujan deras menyebabkan atap rumah Kiai Peradi yang sudah tua itu bocor di beberapa tempat. Ia kebingungan, tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.
Seorang anak kecil, Kinan, yang kebetulan lewat melihatnya. Dengan polosnya, Kinan berkata, “Kakek, atapnya menangis. Nanti saya bilang ke Abang Genta.”
Keesokan harinya, tanpa diminta, Genta dan beberapa pemuda datang ke rumah Kiai Peradi dengan membawa peralatan. “Kami mendengar atap Kiai perlu diperbaiki. Izinkan kami membantu,” kata Genta dengan sikap Nemui Nyimah. Kiai Peradi tertegun. Rasa malunya bercampur haru. Ia yang selama ini menutup diri justru ditolong oleh orang-orang yang sempat ia jauhi.
Peristiwa ini menjadi titik balik bagi Kiai Peradi. Ia menyadari bahwa kekayaan materi tidak berarti apa-apa tanpa hubungan sosial yang tulus. Keesokan harinya, ia datang ke lokasi pembangunan balai dengan membawa kayu pilihan terbaik yang dimilikinya. “Izinkan saya… menyumbang,” katanya dengan suara bergetar. “Dan izinkan saya belajar lagi tentang Sakai Sambayan.” Kontras antara hidup individualistik dan semangat kebersamaan akhirnya menemukan titik terang dalam pencerahan batin Kiai Peradi.
Pilar-pilar yang Bergema.
Akhirnya, balai adat yang baru berdiri dengan megah. Lebih dari sekadar bangunan fisik, balai itu adalah monumen kebersamaan. Peresmiannya dirayakan dengan upacara Begawi, sebuah pesta adat yang meriah. Dalam sambutannya, Genta berkata, “Balai ini bukan hanya kayu dan paku. Ia adalah wujud dari Sakai Sambayan kita. Setiap tiang adalah pengorbanan kita, setiap atap adalah doa kita, setiap lantai adalah kesabaran kita.”
Ia melanjutkan, “Filosofi Sakai Sambayan mengajarkan kita bahwa solidaritas harus hadir dalam suka dan duka. Hari ini kita bersuka, besok mungkin ada di antara kita yang berduka. Maka, kekuatan yang kita bangun hari ini harus tetap terjaga. Seperti pilar-pilar balai ini yang saling menopang, demikianlah kita harus terus saling menopang dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Kisah Genta dan dusunnya bergema jauh melampaui wilayah mereka. Menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain tentang bagaimana nilai-nilai luhur leluhur, ketika diselaraskan dengan ajaran agama, dapat melahirkan masyarakat yang tangguh, beradab, dan penuh kasih.
Sakai Sambayan terbukti bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah sosial yang menghidupkan hati dan memakmurkan bumi.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din, 21(2), 158-181. [Jurnal Akademik]
2. Yusuf, H. (2010). Dimensi Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Relevansinya terhadap Pembangunan Kebudayaan Daerah Lampung. Jurnal Filsafat UGM, 20(3). [Jurnal Akademik]
3. Nururi, I. (2024). Tradisi dan Religi: Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Masyarakat Suku Lampung sebagai Dasar Etika dan Relevansinya dengan Agama Islam. [Jurnal Akademik]
4. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. [Buku]
5. Setyawan, A. B. (2022). 5 Falsafah Hidup Masyarakat Lampung yang Keren. Ruangobrol.id. [Artikel Populer yang Mengutip Sumber Tepercaya]
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

