nataragung.id – Natar – Allah mengabadikan kegelisahan orang-orang yang takut kehilangan dunia ketika cahaya kebenaran datang menghampiri mereka:
وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا
“Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (QS. Al-Qashash: 57)
Ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi cermin bagi setiap zaman. Kebenaran sering kali menuntut keberanian, dan petunjuk Allah tidak jarang datang bersama risiko.
Mengikuti ide-ide besar, nilai-nilai luhur, dan prinsip ilahi, kerap berujung pada keterasingan. Terusir dari jabatan, dijauhkan dari pergaulan, disingkirkan dari lingkungan, bahkan diputus dari sumber penghidupan.
Sebagaimana ungkapan yang sarat makna:
“Di antara konsekuensi yang mesti siap diterima ketika mengikuti ide-ide besar adalah keterusiran.”
Namun Allah menegaskan bahwa ketakutan itu sejatinya lahir dari pandangan yang sempit terhadap dunia.
Dalam lanjutan ayat-Nya, Allah membantah alasan mereka dan menyingkap jaminan-Nya bahwa rezeki dan keamanan bukan berada di tangan manusia, melainkan di tangan-Nya semata.
Sejarah para nabi adalah bukti nyata. Nabi Ibrahim alaihi salam diusir dari kaumnya, Nabi Musa alaihi salam diburu dan diasingkan, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dicela, disakiti, dan akhirnya terusir dari Makkah, tanah kelahirannya sendiri. Namun justru dari pengusiran itulah Allah membukakan pintu kemuliaan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
> إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ
“Sesungguhnya manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling menyerupai mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa penderitaan, penolakan, dan kehilangan bukan tanda kebinasaan, melainkan sering kali tanda kedekatan dengan jalan para kekasih Allah.
Allah juga menenangkan hati orang-orang beriman dengan firman-Nya:
> وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Maka jika karena kebenaran seseorang harus kehilangan kedudukan, Allah menyiapkan kemuliaan. Jika ia harus kehilangan manusia, Allah hadirkan ketenangan jiwa. Jika ia harus kehilangan dunia, Allah gantikan dengan keberkahan yang lebih luas.
Kebenaran memang mahal, dan kesetiaan pada petunjuk Allah bukan jalan yang selalu ramai. Namun di situlah letak kemuliaannya. Sebab lebih baik terusir oleh manusia daripada terusir dari rahmat Allah. Lebih baik kehilangan dunia sementara daripada kehilangan arah menuju akhirat yang kekal. (KIS)
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

