Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 8: Di Ujung Gigin, Pantun, Cerita, dan Dongeng di Meja Makan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada suatu masa, di daerah Giham, hiduplah seorang pemuda bernama Minak Rio. Ia yatim-piatu dan hidup sebatang kara. Satu-satunya warisan orang tuanya hanyalah sebidang ladang yang kering dan sebuah gigin (pisau tradisional Lampung) tua yang katanya turun-temurun. Setiap hari, Minak Rio makan nasi seadanya, hanya dengan garam dan sambal, sambil memandangi gigin itu. Ia merasa hidupnya hampa, tak memiliki cerita atau silsilah yang dibanggakan.

Suatu malam, ketika hujan gerimis, seorang pengembara tua yang kehujanan meminta berteduh di gubuknya. Dengan sisa nasi yang ada, Minak Rio menjamu tamunya. Saat makan, si pengembara bertanya, “Mengapa wajahmu muram, Nak?”
Minak Rio pun bercerita tentang kesendirian dan ketiadaan sejarah keluarganya. Sang pengembara lalu mengangkat gigin itu dan berkata, “Setiap gigin yang usang, di ujung bilahnya, menyimpan kisah. Ia pernah memotong tali pusar bayi, mengiris rempah untuk pesta, membelah kayu untuk lamban, dan mengupas cerita dari buah kehidupan. Mari kita makan, dan aku akan menceritakan kisah-kisah yang terpahat di bilah ini.”
Sepanjang malam, sambil menyantap nasi sederhana, pengembara itu bercerita tentang asal-usul marga, petualangan leluhur, dan kearifan hidup. Nasi dan sambal itu terasa sebagai hidangan paling nikmat yang pernah dicicipi Minak Rio.

Saat fajar, pengembara itu pergi, meninggalkan pemahaman baru. Minak Rio menyadari bahwa meja makan adalah perpustakaan pertama.
Ia pun mulai mengumpulkan dan menceritakan kembali setiap kisah yang ia dengar kepada tetangganya saat mereka berkumpul makan. Lambat laun, ia menjadi sumber sejarah lisan yang dihormati. Dari pemuda tak dikenal, ia tumbuh menjadi Minak Rio Jukuk Dalom, cikal bakal marga yang dikenal akan kearifan dan kekayaan ceritanya.

Meja Makan sebagai Panggung Kearifan
Dalam masyarakat adat Lampung, makan bersama tidak pernah sekadar urusan mengisi perut. Ia adalah ruang sosial utama, sekolah informal, dan ruang penguatan identitas. Megan (makan bersama) adalah ritual pemersatu. Filosofi ini tertuang dalam ungkapan adat: “Mufuh mufah, makmegh makam.” Artinya, berkumpul dan bersatu, lalu menikmati makanan bersama.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 1 – Mengenal Tata Krama Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap ungkapan ini menunjukkan urutan yang sangat logis: kebersamaan (mufuh mufah) harus lebih dahulu terbentuk sebelum aktivitas makan (makmegh makam) dilakukan. Meja makan adalah tempat di mana kebersamaan itu dipupuk, dan salah satu pupuk utamanya adalah kata-kata: pantun, cerita, dan dongeng.

Tradisi bercerita saat makan, atau “bejuluk bejama” (berkata-kata dan bersantap), memiliki fungsi strategis. Dalam suasana yang rileks dan penuh keakraban, nilai-nilai hidup disisipkan dengan halus. Dongeng tentang Minak Jajuh yang licik dan akhirnya terkalahkan oleh si cerdik Peminggir, misalnya, bukan sekadar hiburan. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kecerdikan mengalahkan kelicikan, dan keutamaan berlaku jujur. Kisah-kisah ini disampaikan dari generasi ke generasi, menjadikan meja makan sebagai simpul penting dalam transmisi kebudayaan.

Pantun (Bejuluk-adok) – Bumbu Penyedap Percakapan.

Pantun dalam konteks makan Lampung bukan sekadar rangkaian sajak. Ia adalah bejuluk-adok, tutur kata yang beradat, penuh kiasan dan kesantunan. Pantun menjadi medium untuk mengungkapkan maksud secara tidak langsung, mengajarkan kesabaran, dan melatih ketajaman berpikir.
Sebelum makan, sering diucapkan pantun peneguh semangat:
“Buah duku dari Melinting
Dimakan siang bersama-sama
Adat bersendi pada yang tua
Ilmu bersendi pada yang maha.”

Analisis pantun ini mengungkap struktur nilai yang kokoh. Dua baris pertama (sampiran) yang menggambarkan aktivitas makan bersama, disambung dua baris berikutnya (isi) yang menegaskan fondasi hidup: adat berpedoman pada orang tua (leluhur, tradisi), dan ilmu/agama berpedoman pada Yang Maha Kuasa. Dalam satu nafas, pantun ini mengingatkan bahwa saat kita menyantap rezeki, kita harus selalu sadar akan dua sumber otoritas dalam hidup: tradisi dan ketuhanan.

Selama makan, pantun juga digunakan untuk menyampaikan nasihat halus. Misalnya, saat ada anak yang rakus mengambil lauk, seorang sesepuh mungkin berkata:
“Ikan semah di Way Besai
Hidup berenang di air jernih
Ambil secukupnya yang tersedia
Agar yang lain tak merasa sirih.”

Nasihat tentang kesederhanaan, keadilan, dan empati disampaikan bukan dengan teguran keras, tetapi dengan keindahan bahasa yang membuat si anak merenung tanpa merasa dipermalukan.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 9: Antara Adat dan Agama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Cerita Rakyat dan Silsilah – Makan bersama Sejarah.

Momen makan, terutama dalam acara adat besar seperti cangget (pesta adat) atau mepakok (musyawarah), menjadi waktu yang tepat untuk menguatkan ingatan kolektif. Para tetua sering menceritakan asal-usul marga (klan) atau pungkuk (kelompok kekerabatan). Kisah-kisah ini berfungsi sebagai peta relasi sosial.

Salah satu manuskrip silsilah (tarikh) dari Marga Pemanggilan di Abung, misalnya, tidak hanya mencatat nama-nama, tetapi juga peristiwa penting. Naskah yang ditulis pada daluang (kertas kulit kayu) itu kerap dibacakan ulang saat kumpul keluarga besar.

Kutipan awalnya sering berbunyi: “Ini cetera asal kita orang, dari Sekala Brak turun ke Tulang Bawang, beranak pinak menjadi empat jurai…”

Pembacaan ini bukan performansi kering, tetapi sebuah drama yang hidup. Pencerita akan menjelaskan konteks perpindahan, peperangan, atau perjodohan yang melatarbelakanginya, sering kali sambil menunjuk hidangan yang ada: “Nah, leluhur kita dulu hidup dari berburu, seperti daging rusa ini yang kita makan sekarang,” atau “Mereka membuka ladang pertama di tepi sungai, menanam padi seperti yang menjadi nasi ini.”

Dengan demikian, setiap suapan nasi dan lauk menjadi terkoneksi dengan perjalanan panjang leluhur. Makanan menjadi pengingat jasmani akan jasa dan perjuangan mereka. Dongeng tentang makhluk halus penunggu sungai atau hutan juga kerap diceritakan, bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengajarkan rasa hormat dan keseimbangan dengan alam yang menjadi sumber makanan mereka.

Nilai Spiritual dalam Tutur dan Gigitan.

Tradisi bercerita di meja makan memiliki nilai spiritual yang mendalam. Ia adalah praktik ngetui, yaitu mengingat dan menyambung. Dengan mendengarkan cerita leluhur, mereka yang hadir sedang menyambungkan diri dengan rantai generasi yang lebih panjang, melampaui ruang dan waktu fisik mereka.
Selain itu, ada keyakinan bahwa kata-kata yang diucapkan saat makan membawa energi. Pantun dan cerita yang baik akan memberkahi makanan dan menjadikannya nyaman (tidak hanya enak, tetapi juga membawa kebaikan). Sebaliknya, pembicaraan buruk, fitnah, atau amarah di meja makan dianggap dapat merusak nasi dan mendatangkan sial.

Baca Juga :  Piil Pesenggiri, Marak di Mata, Ikhsan di Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Filosofi ini termaktub dalam petuah: “Makam mak ngeghino, juluk mak neghimou.” Artinya, “Makan jangan rakus, berkata-kata jangan sembarangan.”

Kesimpulannya, meja makan masyarakat Lampung adalah teater tempat identitas dipentaskan dan diwariskan. Di ujung gigin yang memotong lauk, terselip kisah; di balik pantun penyedap, tersimpan petuah; dan dalam setiap cerita yang dibagikan, mengalir silsilah dan nilai. Tradisi lisan ini memastikan bahwa yang ditelan bukan hanya zat gizi, tetapi juga makna hidup.
Ketika generasi muda mendengar tentang Minak Rio atau petualangan Minak Jajuh sambil menikmati ikan panggang dan nasi panas, mereka sedang melakukan proses inkulturasi yang paling organik. Mereka tidak hanya mengisi perut, tetapi juga membangun jiwa yang terhubung dengan akar budayanya yang dalam. Inilah keajaiban sesungguhnya dari meja makan Lampung: sebuah ruang di mana makanan bagi tubuh dan makanan bagi jiwa disajikan dan dinikmati secara bersamaan.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Sastra Lisan Lampung: Pantun, Cerita Rakyat, dan Mantra oleh Hairus Salim HS dkk., Penerbit Kosa Kata Kita, 2012. (Fisik/Digital).
2. Naskah Kuno: Tarikh Marga Pemanggilan di Abung, transliterasi oleh Ivan Adilla, 2008. (Digital/Foto kopi koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung).
3. Buku: Masyarakat Adat Lampung dan Kearifan Lokal karya Febrianti, Penerbit Universitas Malahayati Press, 2015. (Fisik).
4. Hasil Penelitian Lapangan: “Fungsi Sosial Pantun dalam Masyarakat Lampung Saibatin” (Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, Universitas Lampung, Vol. 4, No. 2, 2019). (Digital/Terverifikasi).
5. Buku: Makanan dalam Upacara Adat Lampung oleh Rina Sari, Penerbit Universitas Lampung Press, 2012. (Fisik – merujuk pada bab tentang konteks sosial makan).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini