Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 3: Nengah Nyappur – Integrasi Sosial yang Elegan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada suatu masa, di sebuah tiyuh tua di wilayah Abung, hiduplah seorang pemuda bernama Minak Gading Anom. Ia dikenal pendiam, tetapi selalu hadir dalam setiap urusan kampung. Saat musyawarah, ia tidak mendominasi, namun pendapatnya selalu dipertimbangkan. Ketika ada kerja bersama, ia datang tanpa disuruh. Seorang tetua adat pernah berkata, “Ia tahu caranya nengah dan nyappur, tidak larut, tidak pula menjauh.” Kisah
Minak Gading Anom dikenang sebagai cermin nilai Nengah Nyappur, seni hidup bermasyarakat orang Lampung.

Pengertian Nengah Nyappur.

Dalam falsafah adat Lampung, Nengah Nyappur berarti kemampuan seseorang untuk berada di tengah masyarakat dan membaur secara harmonis. Nengah bermakna hadir di tengah, sementara nyappur berarti bergaul atau berbaur.
Nilai ini menuntun individu agar tidak menyendiri, tetapi juga tidak kehilangan jati diri.

Nengah Nyappur bukan sekadar keaktifan sosial, melainkan kecakapan membaca situasi, menjaga tutur kata, serta menempatkan diri secara pantas. Prinsip ini menjadi penyeimbang antara kehormatan diri dan kepentingan bersama, baik dalam adat Saibatin maupun Pepadun.

Jejak Nengah Nyappur dalam Naskah Adat.

Dalam manuskrip adat Lampung kuno, seperti Kuntara Raja Niti, terdapat petuah yang menyinggung pentingnya kehadiran sosial:
“Sai nengah di pekon, nyappur di balai, dijauhi sengketa.” (Siapa hadir di kampung dan berbaur di balai adat, akan dijauhkan dari perselisihan.)
Kutipan ini mengandung makna bahwa keterlibatan sosial mencegah kesalahpahaman.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 10. “Doa dari Para Tuha: Pesan Baik untuk Masa Depan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisisnya menunjukkan bahwa adat Lampung memandang komunikasi dan kehadiran sebagai sarana menjaga harmoni. Orang yang enggan bergaul rawan disalahpahami, sementara yang terlalu menonjol berpotensi menimbulkan gesekan.

Sejarah Marga dan Tradisi Pergaulan.

Sejarah marga-marga Lampung, seperti Abung Siwo Mego, Pubian Telu Suku, dan Pesisir Saibatin, menunjukkan bahwa pergaulan menjadi kunci kelangsungan komunitas. Dalam silsilah tua, pemimpin adat bukanlah mereka yang paling keras bersuara, melainkan yang paling mampu merangkul.

Pada masa pembukaan wilayah, leluhur Lampung hidup berdampingan dengan berbagai kelompok. Nengah Nyappur menjadi strategi sosial untuk bertahan, beradaptasi, dan membangun kerja sama tanpa menghilangkan identitas adat. Hal ini memperlihatkan bahwa nilai ini lahir dari pengalaman historis yang panjang.

Legenda tentang Orang Tengah.

Sebuah legenda tua Lampung mengisahkan tentang Orang Tengah, tokoh yang selalu menjadi penengah saat terjadi perselisihan antarmarga. Ia tidak memihak, tetapi memahami semua pihak. Karena sikapnya, ia dihormati dan dijadikan rujukan.
Legenda ini mengajarkan bahwa berada di tengah bukan berarti netral tanpa sikap, melainkan aktif menjaga keseimbangan.

Analisis legenda menunjukkan bahwa Nengah Nyappur mengandung etika kepemimpinan sosial, di mana pengaruh dibangun melalui kebijaksanaan, bukan paksaan.

Nengah Nyappur dalam Ritual Adat.

Dalam musyawarah adat Lampung, Nengah Nyappur tampak pada tata cara berbicara. Setiap orang diberi ruang menyampaikan pendapat, namun dengan bahasa halus dan berurutan. Menyela pembicaraan dianggap tidak beradab dan mencederai kehormatan bersama.
Dalam hajatan adat, individu diharapkan membantu sesuai kemampuan tanpa menonjolkan diri.
Filosofinya jelas: kontribusi lebih penting daripada pengakuan. Analisis ritual ini menunjukkan bahwa Nengah Nyappur mendidik masyarakat untuk aktif berperan sambil tetap menjaga kerendahan hati.

Baca Juga :  Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dimensi Filosofis dan Spiritual.

Nengah Nyappur memiliki dimensi batin yang mendalam. Salah satu petuah adat menyebut:
“Nyappur ni lampah, nengah ni ati.” (Bergaul dengan langkah, hadir dengan hati.)
Maknanya, pergaulan sejati tidak hanya fisik, tetapi juga emosional dan moral.

Analisis kutipan ini menempatkan Nengah Nyappur sebagai latihan spiritual untuk mengendalikan ego. Dengan hadir sepenuh hati, seseorang belajar mendengar, memahami, dan menghargai perbedaan.

Dalam pandangan adat, manusia yang mampu Nengah Nyappur dianggap matang secara batin. Ia tidak mudah tersinggung, tidak cepat menghakimi, dan mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip.

Praktik Sehari-hari dalam Kehidupan Lampung.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung, Nengah Nyappur terlihat pada kebiasaan menghadiri undangan, ikut gotong royong, dan terlibat dalam musyawarah kampung. Orang yang jarang hadir tanpa alasan jelas dianggap menjauhkan diri dari kehidupan sosial.

Nilai ini juga tampak dalam cara berkomunikasi lintas usia. Anak muda diajarkan berbicara sopan kepada yang tua, sementara yang tua memberi ruang bagi yang muda. Analisis ini menunjukkan bahwa Nengah Nyappur menjaga kesinambungan antargenerasi.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri 3: Suku dan Lembaga, Penjaga Nilai-nilai Leluhur. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tantangan Zaman Modern.

Di era modern, individualisme dan komunikasi digital mengubah pola pergaulan. Kehadiran fisik digantikan pesan singkat, dan musyawarah digeser oleh keputusan sepihak. Namun, ketika konflik muncul, nilai Nengah Nyappur kembali dicari.
Hal ini membuktikan bahwa integrasi sosial tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Analisis ini menegaskan bahwa Nengah Nyappur tetap relevan sebagai etika sosial untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan individu dan keharmonisan bersama.

Seni Hidup di Tengah
Nengah Nyappur adalah seni hidup orang Lampung untuk tetap menjadi diri sendiri sambil hidup bersama orang lain. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendiri, tetapi juga tidak untuk larut tanpa arah. Dengan Nengah Nyappur, pergaulan menjadi ruang belajar, bukan arena pertentangan. Nilai ini adalah warisan tua yang terus berbicara, mengajarkan bahwa harmoni lahir dari kehadiran yang tulus dan sikap yang bijaksana.

Referensi Terverifikasi
* Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung.
* Manuskrip adat Kuntara Raja Niti, koleksi Museum Lampung.
* Fachruddin, Irfan. Pi’il Pesenggiri dan Falsafah Hidup Orang Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini