nataragung.id – Pemanggilan – Bukan hanya kebaikan yang bisa diterima oleh manusia melalui pembiasaan. Kejahatan pun, bila dipromosikan dengan rapi, terus-menerus, dan masif, lambat laun akan terasa wajar.
Bukan karena ia berubah menjadi benar, tetapi karena hati dan pikiran dipaksa untuk terbiasa.
Siapa yang sejak awal mengira asap racun bisa diberi rasa apel, mangga, atau mentol, lalu disebut sebagai kenikmatan?
Namun ketika iklan diputar tanpa henti, kemasan dibuat ramah mata, dan narasi dibungkus dengan gaya hidup, maka otak manusia mulai menerima yang semula ditolak.
Yang berbahaya tak lagi tampak berbahaya, yang merusak tak lagi terasa mengancam.
Inilah kekuatan propaganda: ia tidak meyakinkan dengan kebenaran, tetapi dengan pengulangan.
Sesuatu yang sering dilihat, sering didengar, dan sering dibicarakan akan dianggap normal, meski sejatinya menyimpang.
Sedikit demi sedikit, standar benar dan salah pun bergeser, bukan karena dalil atau akal sehat, tetapi karena kebiasaan visual dan narasi yang dibentuk.
Karena itu, menjaga kesadaran menjadi jihad zaman ini. Menolak terbiasa dengan keburukan adalah bentuk keberanian. Tidak semua yang populer layak diterima, dan tidak semua yang masif berarti benar.
Hati yang hidup akan tetap peka, meski dunia berusaha mematikan rasa dengan kemasan manis dan iklan yang memabukkan. (KIS/143).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

