nataragung.id – Yogyakarta – Pagi ini saya berjalan kaki dari Hotel Harper Yogyakarta ke Stasiun Tugu. Niatnya, sedikit olah raga, meski akibatnya tenggorokan terasa kering, rasa haus menyerang. Langkah kaki menjadi bisa dihitung, perlahan, tetapi tak sampai gontai.
Dan saya enggak mungkin membeli air mineral di warung waralaba, yang sebagiannya mematikan toko warga. Ketika ada warga yang buka 24 jam, eh dipersoalkan. Itulah yang kemudian dikenal dengan warung kawan Madura.
Seperti juga bertahun yang lalu, selalu ada warung yang tetiba diselimuti kain di pintu masuknya. Saya paham benar, karena ketika itu saya setiap pagi menyusuri sepanjang Mangkubumi (sekarang Marga Utama), Malioboro dan berhenti sejenak di Titik Nol. Tepatnya di depan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.
Olah raga begitu rutin dan jauh? Bukan saya mencangklong tas berisi koran untuk dijajakan kepada penunggu warung untuk membuang jenuh, dan jakun tampak naik turun karena aroma masakan mereka sendiri.
Pembeli koran saya, juga para pelancong yang ingin mendapatkan informasi tujuan wisata di Yogyakarta, dan sebagiannya lagi para pencari jodoh. Kalau sudah membaca rubrik itu, mereka begitu serius, sejenak menengadah, lalu melempar koran itu.
Saya kecewa, karena koran itu diremas-remas, andaikan saja dibuang utuh, saya bisa dapat double keuntungan. Dijual lagi.
Nah, nglantur lagi, kan?
Kembali ke soal warung yang pintunya ditutup kain yang tak panjang penuh, terlihat kaki-kaki yang menari. Semua pasti mafhum, itu orang-orang yang tidak berpuasa dengan berbagai alasan, syar’i atau duniawi. Dan sebagainya lagi tentu mereka yang menganut agama berbeda, sehingga tidak ada ritual bulan puasa.
Saya sering mengatakan, sedari dulu, sebenarnya enggak perlu warung itu pakai upacara tutup pintu dengan kain. Saya yakin umat Islam itu sangat dewasa, tak perlu mendapatkan penghormatan seperti itu.
Bekerja lah dengan biasa saja tetaplah bertebaran mencari rezeki dari-Nya. Bulan Ramadan itu bulan penuh keberkahan, penuh keindahan, dan tentu saja berhias kasih sayang.
Kalau ada yang tetap mau menutup pintu warungnya? Ya, enggak asal tidak karena terintimidasi dan takut dengan ancaman. Ini menurut saya, prinsipnya. (*)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta tinggal di Magelang

