Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dan Kebiasaan Menjaga Ucapan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Bagi masyarakat adat Lampung, kata-kata bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut, melainkan cermin martabat diri dan marga. Dalam kehidupan sehari-hari, tutur kata dijaga sebagaimana pakaian dijaga agar tidak robek. Apalagi ketika Ramadhan tiba, bulan yang diyakini sebagai waktu menundukkan hawa nafsu dan meninggikan adab.
Buku ini mengajak pembaca menyusuri jejak Ramadhan dalam adat Lampung, khususnya bagaimana kebiasaan menjaga ucapan tumbuh, diwariskan, dan dimaknai sebagai laku spiritual. Melalui cerita rakyat, legenda marga, kutipan naskah lama, serta analisis filosofis, pembaca diajak memahami bahwa puasa orang Lampung dahulu tidak hanya terjadi di perut, tetapi juga di lidah dan hati.

Pada suatu Ramadhan di masa lampau, hiduplah seorang penyimbang adat bernama Penyimbang Guna Tua, tokoh terpandang dari marga Abung. Ia dikenal tegas, tetapi suatu ketika ketegasan itu berubah menjadi kemarahan yang keluar lewat kata-kata kasar.
Dalam musyawarah adat di bulan puasa, ia menegur seorang pemuda dengan suara tinggi. Kata-katanya melukai, bukan menuntun. Sejak hari itu, konon suaranya serak dan sulit berbicara hingga akhir Ramadhan.
Seorang tetua berkata kepadanya: “Puasa bukan sekadar menutup mulut dari makan, tetapi membuka hati agar kata tidak menjadi luka.”
Legenda ini diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa ucapan yang lepas kendali dapat mencederai adat, terlebih di bulan suci. Sejak saat itu, menjaga ucapan menjadi ajaran utama dalam Ramadhan masyarakat Lampung.

Dalam struktur adat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, tutur kata memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dokumen adat lisan yang dikenal sebagai pepaccur sering mengawali musyawarah dengan petuah tentang lisan.
Dalam naskah Arab-Melayu tua dari wilayah pesisir tertulis: “Barang siapa tidak menjaga lidahnya, maka ia membuka aib marganya sendiri.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa lisan bukan urusan pribadi semata, melainkan menyangkut kehormatan kolektif. Oleh sebab itu, Ramadhan dimaknai sebagai bulan latihan menjaga ucapan, agar seseorang layak duduk dalam musyawarah dan dipercaya dalam urusan adat.
Falsafah hidup orang Lampung, Piil Pesenggiri, menempatkan harga diri sebagai nilai utama. Salah satu unsur Piil Pesenggiri adalah bejuluk beadek, yaitu menjaga sikap dan tutur sesuai kedudukan.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menjaga Hubungan Sosial di Tengah Lapar dan Dahaga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Puasa memperkuat falsafah ini. Orang Lampung dahulu percaya bahwa ucapan mencerminkan kedewasaan batin. Dalam Ramadhan, seseorang diuji: mampu atau tidak menahan diri dari kata-kata sia-sia, ejekan, dan fitnah.
Pepatah adat menyebutkan: “Lidah lebih tajam dari senjata, lebih lama lukanya dari goresan.”
Analisisnya menunjukkan bahwa menjaga ucapan dipahami sebagai bentuk perlindungan sosial. Dengan lisan yang terjaga, konflik dapat dicegah, dan keharmonisan marga tetap lestari.
Beberapa marga di Lampung memiliki legenda khusus tentang asal-usul adab berbicara. Di wilayah Melinting, diceritakan bahwa nenek moyang mereka bersumpah untuk tidak berkata kasar dalam bulan puasa, karena pernah terjadi bencana alam setelah pertengkaran lisan para tetua.
Dalam silsilah lisan marga disebutkan: “Kami diturunkan dari orang-orang yang menimbang kata sebelum diucap.”
Legenda ini menjadi dasar pendidikan anak-anak marga. Sejak kecil, mereka diajarkan bahwa Ramadhan adalah waktu mengurangi bicara dan memperbanyak mendengar.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam adat Lampung dahulu, ada kebiasaan yang tidak tertulis tetapi dijalankan: mengurangi percakapan yang tidak perlu selama Ramadhan. Penyimbang adat bahkan dikenal lebih banyak diam.
Diam bukan berarti pasif, melainkan bentuk penghormatan terhadap waktu suci. Dalam kitab nasihat adat disebutkan: “Diam yang menjaga adat lebih mulia daripada kata yang menyalahi adab.”
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa diam dipahami sebagai laku spiritual. Dengan diam, seseorang memberi ruang bagi hati untuk jernih, sehingga ketika berbicara, kata-kata yang keluar menjadi lebih bermakna.

Dalam masyarakat Lampung, perempuan memegang peran penting sebagai penjaga tutur keluarga. Perempuan yang memakai siger diajarkan bahwa setiap kata yang ia ucapkan mencerminkan kehormatan rumah tangga dan marganya.
Dalam cerita rakyat disebutkan: “Jika ibu menjaga lisannya di bulan puasa, maka rumah akan teduh sepanjang tahun.”
Analisisnya menunjukkan bahwa Ramadhan menjadi momen pendidikan keluarga. Ibu-ibu Lampung mengajarkan anak-anak untuk berbicara lembut, tidak membantah, dan tidak mengucapkan kata kotor, terutama saat berpuasa.
Orang Lampung dahulu percaya bahwa dosa akibat ucapan lebih berat karena dampaknya panjang. Fitnah, ejekan, dan janji palsu dianggap merusak tatanan sosial.

Dalam naskah keagamaan lokal tertulis: “Puasa yang baik adalah puasa yang tidak melukai manusia.”
Kutipan ini dianalisis sebagai pemahaman lokal bahwa ibadah tidak boleh merugikan orang lain. Menjaga ucapan menjadi inti puasa, karena melalui kata-kata, seseorang bisa menyakiti tanpa menyentuh.
Ramadhan dalam adat Lampung berfungsi sebagai sekolah adab tahunan. Selama sebulan penuh, masyarakat dilatih untuk:
* Berbicara seperlunya.
* Menghindari pertengkaran.
* Menyelesaikan masalah dengan musyawarah
Puasa bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antarmanusia. Inilah yang membuat Ramadhan selalu dirindukan sebagai bulan penyejuk sosial.
Ramadhan dalam adat Lampung adalah jejak hidup yang membentuk manusia beradab. Menjaga ucapan bukan sekadar etika, tetapi jalan spiritual untuk menjaga kehormatan diri, keluarga, dan marga.
Melalui cerita rakyat, legenda, dan filosofi adat, kita belajar bahwa puasa orang Lampung dahulu adalah puasa lidah dan hati, bukan hanya puasa perut. Nilai ini layak diwariskan agar Ramadhan tetap hidup dalam perilaku, bukan sekadar kalender.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 6: Adat dalam Siklus Kehidupan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Struktur Adat dan Hukum Adat Lampung. Jakarta, 1995.
3. Sutrisno, Bambang. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press, 2004.
4. Manuskrip Arab-Melayu Lampung Pesisir (Arsip Budaya Lampung).
5. Dokumentasi Lisan Tetua Adat Saibatin dan Pepadun, Koleksi Budaya Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini