nataragung.id – Bandar Lampung – Di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai, di mana embun pagi masih setia membasuh pucuk-pucuk kopi dan gaharu, hiduplah sebuah keyakinan. Bahwa tidak ada yang terputus antara langit dan bumi, antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya, antara yang hidup dan yang telah berpulang.
Keyakinan itu menjelma dalam adat. Ia bukan sekadar tata cara, melainkan jalan. Di bulan yang suci, jalan itu terlihat paling terang. Ramadhan di Lampung bukanlah tentang menahan lapar semata. Ia adalah simpul ingatan, napas leluhur yang berbisik dalam setiap tetikho (tradisi), membimbing anak cucu untuk nemui nyimah (saling memberi) dan nengah nyappur (bersatu dengan yang lain). Buku ini adalah upaya untuk merekam bisikan itu, sebelum hilang diterpa angin zaman.
Konon, pada masa ketika Kesultanan Banten mulai menyebarkan pengaruh Islam di pesisir Lampung, hiduplah seorang penyebar agama yang arif bernama Guru Gindung. Beliau bukan sekadar pendatang; ia larut, membaur, dan belajar dari kearifan lokal. Di sebuah desa di kaki Gunung Pesagi, Tanoh Lado, ia disambut oleh Penyimbang Suku, seorang tetua bernama Ratu Pemanggilan.
Ratu Pemanggilan adalah penjaga tradisi yang kokoh. Namun, di hatinya, tumbuh pertanyaan besar tentang makna kehidupan setelah kematian. Ia sering termenung di bawah pohon beringin tua, tempat roh leluhur dipercaya singgah.
Suatu malam di bulan Saban (sebutan untuk bulan Syakban), Guru Gindung mendatangi Ratu Pemanggilan.
“Yekhda (Paman) Ratu, saya lihat kegelisahan di mata Yekhda. Lebih dalam dari danau di kaki gunung,” ujar Guru Gindung.
Ratu Pemanggilan menghela napas. “Guru, adat kami mengajarkan untuk menghormati yang telah pergi. Kami memberi sesaji, berzikir dengan cara kami. Tapi hatiku gersang. Apakah mereka benar-benar menerima penghormatan kami? Apakah ada jalan yang lebih lurus untuk menghubungkan kami dengan mereka dan dengan Tuhan?”
Guru Gindung tersenyum. “Islam datang bukan untuk menghapus adat Yekhda, tetapi untuk mengisinya dengan makna. Adat Yekhda adalah badan, Islam adalah ruh-nya. Mari kita rangkai keduanya.”
Saat Ramadhan tiba, Guru Gindung mengajak warga untuk berkumpul di sesat (balai adat) bukan untuk sesaji, tetapi untuk membersihkan hati. Ratu Pemanggilan, dengan segala wibawanya, memimpin warganya. Namun, ia merasa ada yang kurang. Suara hati leluhur terasa sunyi.
Guru Gindung kemudian memanggul sebatang kayu besar yang telah dilubangi, sebuah khaddam (bedug) yang ia bawa dari Banten. “Pukullah ini, Yekhda,” katanya. “Bukan untuk memanggil roh, tetapi untuk membangunkan jiwa. Suaranya akan mengingatkan kita untuk makan sahur, untuk berhenti, untuk mengingat Allah.”
Saat pertama kali bedug itu ditabuh, suaranya bergema dung… dung… dung… melewati lembah. Ratu Pemanggilan tersentak. Suara itu tidak menakutkan. Ia dalam, menghangatkan dada, seperti debaran nadi alam sendiri. Di sanalah ia mengerti. Bedug itu bukan pengganti pohon beringin, melainkan jembatan baru. Suaranya adalah undangan bagi yang hidup untuk bersatu dalam kebaikan, dan bagi yang telah tiada, doa yang dipanjatkan adalah hadiah yang tak terputus.
Sejak saat itu, lahirlah tradisi Ngebabali di Tanoh Lado. Di malam pertama Ramadhan, setelah Isya, seluruh warga, dari anak-anak hingga tetua, berjalan beriringan membawa pelita sederhana mengelilingi desa, menabuh bedug dan rebana. Mereka melewati makam-makam tua, membacakan tahlil, seolah berkata pada leluhur, “Kami kembali (babali) ke fitrah, kami kembali ke jalan yang Engkau ajarkan, doakan kami.” Ritual ini bukanlah syirik, melainkan silaturahmi lintas zaman.
Di Lampung, garis keturunan adalah segalanya. Masyarakatnya terbagi dalam dua rumpun besar: Saibatin (pesisir) dan Pepadun (pedalaman). Struktur sosial yang ketat ini, dengan para Penyimbang sebagai pemangku adat, menemukan momentum egaliternya di bulan Ramadhan.
Berdasarkan Kuntara Raja Niti (naskah hukum adat Lampung), struktur kemargaan telah ada jauh sebelum Islam, namun fleksibel menerima nilai-nilai baru. Dalam manuskrip kuno Koteh Bandung disebutkan bagaimana para leluhur bermimpi bertemu seorang bercahaya yang mengajarkan cara bersyukur bukan dengan menyembah berhala, tetapi dengan menyembah Tuhan yang satu. Mimpi itu dianggap sebagai pepaccur (wejangan) dari leluhur untuk menyambut cahaya baru.
Para Penyimbang, yang tadinya adalah pemimpin perang dan adat, kemudian bergeser fungsinya. Mereka menjadi imam dalam shalat tarawih, pemimpin doa dalam kenduri. Kekuasaan mereka tidak berkurang, justru diperkuat oleh legitimasi spiritual. Mereka adalah jembatan antara buay (marga) dengan Yang Maha Kuasa. Dalam manuskrip Silsilah Buay Nuban yang disimpan secara turun-temurun di rumah sesat, tertua marga mencatat: “Wat Ramadhan wat khik adat, ulun lom semako khupok. Wat adat khik agama, jadi tunggak tian badan.”
(Terjemahan: Saat Ramadhan tiba beserta adat, manusia tidak hanya bertahan hidup. Ada adat dan agama, menjadi tiang kuat tubuh.)
Filosofinya: Ramadhan adalah waktu untuk memperkuat tunggak (tiang) yang menopang kehidupan, yaitu harmonisasi antara kewajiban agama (hablumminallah) dan kewajiban sosial adat (hablumminannas).
Di masyarakat Pepadun, ada tradisi ngejalang (berkunjung) ke rumah para Penyimbang dan tetua di bulan Ramadhan, terutama sepuluh malam terakhir. Bukan sekadar silaturahmi, ini adalah bentuk ngakuk hukum (menimba ilmu). Generasi muda datang untuk “menyembah” (mencium tangan) dan mendengarkan petuah.
Analisis filosofisnya mendalam. Tindakan ngejalang ini adalah manifestasi dari konsep piil pesenggiri (harga diri). Bukan harga diri yang sombong, melainkan muli meghanai (pemuda-pemudi) yang tahu tempat. Mereka rendah hati di hadapan yang lebih tua, karena dengan kerendahan hati itulah mereka akan mendapatkan kekhatuan (keberkahan) dari orang tua dan leluhur yang terwakili.
Dalam setiap kunjungan, si tetua biasanya akan membacakan warahan (cerita lisan) tentang asal-usul marga sambil menikmati lawok (kue tradisional) dan kopi lada. Saat itulah, nilai-nilai seperti nemui nyimah (saling memberi) diwujudkan. Tuan rumah memberi jamuan, tamu memberi penghormatan. Transaksi sosial ini, yang terjadi di bulan penuh berkah, diyakini dapat mengundang keberkahan bagi seluruh marga. Seperti kata pepatah Lampung: “Khik tunggang puji, khik tunggang doa.” (Terjemahan: Bersama dengan pujian, bersama dengan doa.)
Artinya, dalam setiap interaksi sosial yang baik, terselip pujian dan doa yang akan mengalirkan rahmat.
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Bagi masyarakat Lampung, momen Nuzulul Qur’an sering dirayakan dengan acara “Ngebaca Pusako” (Membaca Pusaka). Tapi pusaka di sini bukan keris atau tombak, melainkan manuskrip-manuskrip kuno bertulisan Arab Pegon (Arab gundul berbahasa Melayu/Lampung) yang berisi ajaran tasawuf dan doa-doa.
Salah satu manuskrip yang kerap dibaca adalah kumpulan syair yang dikenal sebagai Syair Bumi Ruwa Jurai (diperkirakan ditulis abad ke-18). Dalam salah satu baitnya, termaktub: “Wahai anaking sanak saudaraku, Bulan puasa bulan nan mulya, Tahanlah nafsu di dalam dada, Lapangkan hati seluas legoknya danau.
Ingat-ingat pesan buyut kita, Lampung sai bumi ruwa jurai,
Adat khega rantau tiada berbagai, Bersatu dalam iman nan sejati.”
Bait pertama menggunakan metafora “seluas legoknya danau”. Danau di Lampung, seperti Danau Ranau, memiliki kedalaman yang tak terduga. Ini mengajarkan bahwa memaafkan dan mengendalikan hawa nafsa haruslah sedalam danau itu. Bait kedua sangat kuat menegaskan identitas. “Lampung sai bumi ruwa jurai” (Lampung negeri dua rumpun) dan “adat khega rantau tiada berbagai” (adat dan rantau tidak terpisah). Pesan leluhur (buyut) adalah bahwa meskipun masyarakat Lampung terbagi dalam dua rumpun adat (Saibatin dan Pepadun) dan terbiasa merantau, di bulan Ramadhan, semua perbedaan itu melebur dalam “iman nan sejati”. Ini adalah konsep nengah nyappur (asimilasi) dalam level spiritual tertinggi: persatuan umat.
Di beberapa marga di Way Kanan, ada tradisi hening yang disebut Ngambik Tige (Mengambil Air/diri). Di sepuluh malam terakhir, para lelaki, terutama yang sudah sepuh, akan menyepi ke sukhung bingi (sughung/sudut rumah) atau ke surau kecil di tengah sawah. Mereka hanya membawa tikar pandan, secangkir kopi, dan Al-Qur’an. Mereka tidak tidur, hanya berzikir dan merenung.
Tradisi ini memiliki akar dari ritual pertapaan kuno semah bujangga (bertapa di tempat sunyi) yang bertujuan untuk mendapatkan wangsit (petunjuk). Namun, setelah Islam datang, ritual ini disucikan menjadi i’tikaf. Tujuannya berubah dari mencari wangsit duniawi menjadi mencari ridha Ilahi, atau bahkan merenungi diri sendiri.
Sang tetua akan “mengambil diri” (ngambik tige) dari hiruk-pikuk dunia, untuk menemukan hakikat dirinya di hadapan Tuhan. Dalam keheningan malam, di mana kabut tipis menyelimuti sawah, mereka percaya bahwa doa-doa untuk leluhur dan anak cucu lebih mudah diangkat. Mereka menjadi penghubung spiritual, penyambung doa dari yang hidup di dunia nyata dan yang hidup di alam barzakh.
Idul Fitri di Lampung disebut Hari Raya Ketupat atau sekadar Ngelebaran. Namun, ada satu ritual yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian Ramadhan dalam perspektif adat: Njunju’ Buai (Mengunjungi/menyembah ke Buay/marga).
Sebelum pergi ke rumah sanak saudara, hal pertama yang dilakukan oleh masyarakat Lampung adalah ngelayat makam (ziarah) ke makam leluhur dan para Penyimbang yang telah tiada. Di makam, mereka membersihkan rumput, menabur bunga, dan membaca tahlil serta doa.
Filosofi di balik ini sangat kuat: mereka mengawali hari kemenangan dengan mengakui bahwa mereka ada karena jasa orang-orang sebelum mereka. Doa yang dipanjatkan adalah wujud sambungan tali kasih yang tak putus oleh maut. Ini adalah wujud nyata dari konsep ukhrawi (akhirat) dalam budaya, bahwa hubungan sosial tidak berhenti di kubur.
Setelah dari makam, barulah mereka njunju’ buai, mengunjungi rumah para Penyimbang tertinggi di marga. Di sini, seluruh anggota marga, dari yang kaya hingga miskin, dari pejabat hingga petani, duduk bersila di lantai sesat yang sama.
Mereka menyuguhkan wajik, lemang, dan tapai. Dalam suasana kebersamaan yang kental, sang Penyimbang akan membacakan sesikun (tawar pengantar) yang intinya memohonkan maaf lahir dan batin untuk seluruh anggota marga, serta mengingatkan kembali asal-usul mereka.
Momen ini adalah representasi sempurna dari konsep sakayan sakatungguan (satu harta, satu tempat tinggal) dalam arti spiritual. Semua perbedaan status sosial yang melekat dalam adat, untuk sesaat, melebur dalam pengakuan bahwa mereka semua adalah satu keban (keturunan) yang sama, hamba dari Tuhan yang sama.
Anak-anak kecil, yang mungkin tidak mengerti rumitnya silsilah, belajar satu hal: inilah keluarga besarku. Inilah tanah tumpah darahku. Inilah adat yang menjagaku. Dan semua itu dimaknai kembali di hari yang fitri.
Ramadhan dalam adat Lampung bukanlah museum yang berdebu. Ia adalah pohon tua yang terus berdaun. Bedug Khaddam mungkin tak lagi ditabuh dengan kayu besar, melainkan dengan pengeras suara. Ngebabali mungkin dilakukan sambil membawa obor listrik. Namun, esensinya tetap hidup selama anak cucu masih memahami maknanya: menghubungkan yang lama dengan yang baru, adat dengan iman, manusia dengan Tuhannya dan dengan leluhurnya.
Selama tetua masih duduk di sesat membacakan doa, selama pemuda masih ngejalang untuk menimba petuah, dan selama setiap insan Lampung masih mengawali Lebaran dengan ziarah ke makam leluhur, maka warisan itu tak akan mati. Ia akan terus bernapas, menjadi jejak yang tak terhapuskan dalam perjalanan hidup, mengalirkan berkah dari masa silam ke masa depan. Sebab di tanah yang dijunjung, di adat yang dipelihara, di situlah Tuhan menitipkan rahmat-Nya.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Penerbit Mandar Maju.
2. Khatib, Usman. (Penyusun). (2003). Kuntara Raja Niti: Naskah Hukum Adat Lampung. Bandar Lampung: Sanggar Budaya Sai Bumi Ruwa Jurai.
3. Koleksi Manuskrip “Syair Bumi Ruwa Jurai”. (Abad ke-18 M/Perkiraan). Tersimpan di Rumah Pintar Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai”.
4. Marsden, William. (1811). The History of Sumatra. London: Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown.
5. Suwondo, Bambang. (Ed.). (1977). Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

