Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 4: Nemui Nyimah — Adab dalam Bertamu dan Menyambut Tamu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung tua di pesisir barat Lampung, hiduplah sebuah keluarga besar yang dikenal dengan Marga Penyimbang Ratu Mas. Konon, leluhur mereka adalah seorang perempuan bijaksana bernama Umpu Tihang Nyimah. Dalam sebuah naskah kuno yang ditulis pada kulit kayu ruas (dokumen dari kulit kayu pohon ruas) yang hingga kini tersimpan rapi di rumah adat Sesat Agung peninggalan masyarakat Saibatin, terukir dalam aksara Had Lampung: “Umpu Tihang Nyimah induk sai ulah. Ia mak ngelamban di lamban, ia mak ngelik di tengah tiyuh. Ia menganjok jama sai ngunjung, ia menganjok jama sai nyabai. Nemui iyulah nyimah, nyimah iyulah nemui. Ia mak wawai nanggap tetamu, ia mak wawai ngelapah sai datang.”
Artinya, Umpu Tihang Nyimah adalah ibu yang sangat santun. Ia tidak bermalas-malasan di rumah, tidak bengong di tengah kampung. Ia selalu menyambut dengan baik siapa pun yang berkunjung, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Menyambut adalah bentuk keramahan, dan keramahan adalah bentuk penyambutan. Ia tidak pernah berat hati menerima tamu, tidak pernah keberatan melayani siapa pun yang datang.
Naskah itu juga menceritakan bagaimana beliau membangun tradisi sai bumi dipijak, di situ langit dijunjung, setiap orang yang datang ke kampungnya, sekalipun hanya singgah sebentar, akan disuguhi makanan dan minuman. Beliau mengajarkan: “Nemui nyimah iyulah ubung. Sai mak nemui, ia mak nyimah. Sai mak nyimah, ia mak ubung jama sai datang.” (Menyambut tamu dengan ramah adalah jalinan persaudaraan. Yang tidak mau menyambut, ia tidak ramah. Yang tidak ramah, ia tidak memiliki hubungan dengan yang datang.)

Dari kisah ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa Nemui Nyimah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi telah menjadi identitas budaya yang sangat melekat pada masyarakat Lampung. Kata Nemui berarti menerima atau menyambut, sementara Nyimah berarti ramah tamah, lemah lembut, dan penuh keramahan. Jadi, Nemui Nyimah adalah sikap hidup yang mengajarkan bagaimana seseorang harus menyambut tamu dengan sepenuh hati, dengan wajah berseri, dengan ucapan yang lembut, dan dengan pelayanan yang tulus, tanpa membedakan latar belakang siapapun yang datang.

Mengapa Nemui Nyimah menjadi begitu penting dalam kehidupan masyarakat adat Lampung? Karena falsafah ini mengajarkan bahwa tamu adalah anugerah, bukan beban. Dalam keyakinan masyarakat Lampung, setiap orang yang datang ke rumah kita membawa berkah tersendiri. Mereka percaya bahwa rezeki seringkali datang melalui tangan-tangan tamu yang singgah. Karena itu, menyambut tamu dengan baik bukan hanya kewajiban adat, tetapi juga bentuk syukur kepada Tuhan.
Dalam masyarakat adat Saibatin yang bermukim di pesisir, tradisi Nemui Nyimah tampak dalam kebiasaan nyambai atau nyemai, menyediakan hidangan bagi tamu yang datang, sekalipun tamu tersebut tidak diundang sebelumnya.

Rumah-rumah adat Saibatin selalu menyediakan beruge (teras terbuka) di bagian depan, sebagai tempat menerima tamu dengan hangat. Demikian pula dalam masyarakat Pepadun di daratan, tradisi ngundang dan ngojok (bertamu) selalu disertai dengan penyambutan yang meriah. Tamu yang datang akan dipersilakan duduk di tempat terhormat, disuguhi kopi serbuk atau teh pahit, dan diajak berbincang dengan penuh keakraban. Tidak ada istilah “pulang sebelum makan” dalam budaya Lampung. Setiap tamu, sekalipun hanya singgah sebentar, akan dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 86:

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 9 , Adat dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
wa idzâ ḫuyyîtum bitaḫiyyatin fa ḫayyû bi’aḫsana min-hâ au ruddûhâ, innallâha kâna ‘alâ kulli syai’in ḫasîbâ
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.”

Ayat ini menjadi landasan spiritual yang sangat kuat bagi Nemui Nyimah. Allah memerintahkan umat Islam untuk membalas penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik. Dalam konteks budaya Lampung, ketika seseorang datang berkunjung, yang merupakan bentuk penghormatan kepada tuan rumah, maka tuan rumah wajib menyambutnya dengan lebih baik lagi.
Ini bukan sekadar formalitas, tetapi perintah Allah yang harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Karena itu, masyarakat Lampung sangat memperhatikan etika dalam menyambut tamu: memberikan tempat duduk yang nyaman, menyuguhkan makanan dan minuman, berbicara dengan lembut, dan tidak menunjukkan rasa terburu-buru atau tidak nyaman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan teladan yang sempurna dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah bersabda: “Man kāna yu’minu billāhi wal yaumil ākhiri falyukrim ḍaifah.” Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa memuliakan tamu adalah tanda keimanan seseorang. Dalam budaya Lampung, Nemui Nyimah adalah wujud nyata dari keimanan itu. Orang Lampung yang masih memegang teguh adat tidak akan pernah membiarkan tamu pulang dengan perut kosong atau dengan perasaan tidak dihargai. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat tamu merasa nyaman, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan kenyamanan mereka sendiri. Inilah bentuk pengamalan hadis yang hidup dalam keseharian.
Keindahan Nemui Nyimah tidak hanya terletak pada keramahan tuan rumah, tetapi juga pada adab bertamu yang diajarkan dalam masyarakat Lampung. Bertamu dan menerima tamu adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya harus dilakukan dengan penuh kesopanan dan saling menghormati. Dalam falsafah hidup orang Lampung, ada aturan tidak tertulis yang mengatur bagaimana seseorang harus bertamu: tidak datang pada waktu yang tidak tepat, tidak berlama-lama jika tuan rumah sudah mulai lelah, tidak menuntut lebih dari apa yang disuguhkan, dan selalu menjaga sikap dan perkataan.

Dalam sebuah naskah adat yang disebut Kuntara Raja Niti, yang menjadi pegangan masyarakat Pepadun, tertulis: “Nemui iyulah nyimah, ngunjung iyulah hormat. Sai datang iyulah tetamu, sai di lamban iyulah tuan. Tetamu mak minta-minta, tuan mak mengecewakan. Sai mak kenui nemui, ia mak nyimah. Sai mak kenui ngunjung, ia mak hormat.”
Artinya: Menyambut adalah keramahan, berkunjung adalah penghormatan. Yang datang adalah tamu, yang di rumah adalah tuan. Tamu jangan banyak menuntut, tuan jangan mengecewakan. Yang tidak suka menyambut, ia tidak ramah. Yang tidak suka berkunjung, ia tidak menghormati.

Baca Juga :  Seri Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun (Pengantar dari 6 sesi Tulisan). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ajaran ini mengajarkan bahwa Nemui Nyimah harus diimbangi dengan adab bertamu yang baik. Tamu yang baik tidak akan datang tanpa pamit, tidak akan memaksa tuan rumah menyediakan makanan yang tidak mampu disediakan, dan tidak akan berlama-lama hingga mengganggu kenyamanan tuan rumah. Sebaliknya, tuan rumah yang baik akan menyambut dengan wajah berseri, tidak menunjukkan rasa keberatan, dan memberikan yang terbaik meskipun terbatas. Inilah keseimbangan yang indah dalam budaya Lampung, yang mencerminkan nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) yang diajarkan dalam Islam.
Allah subhanahu wa ta’ala juga mengajarkan adab yang sangat baik dalam bertamu melalui firman-Nya dalam Surah An-Nur ayat 27:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tadkhulû buyûtan ghaira buyûtikum ḫattâ tasta’nisû wa tusallimû ‘alâ ahlihâ, dzâlikum khairul lakum la‘allakum tadzakkarûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran.”

Ayat ini menjadi panduan bagi masyarakat Lampung dalam bertamu. Meminta izin dan mengucapkan salam adalah syarat utama sebelum memasuki rumah orang lain. Ini adalah bentuk penghormatan kepada tuan rumah dan juga bentuk menjaga kehormatan diri sendiri. Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Lampung akan mengucapkan “Assalamu’alaikum” dengan suara yang cukup jelas sebelum memasuki pekarangan rumah, dan menunggu jawaban sebelum melangkah masuk. Jika tidak ada jawaban, mereka akan mengulanginya beberapa kali, dan jika tetap tidak ada jawaban, mereka akan memilih untuk kembali di lain waktu. Inilah adab yang diajarkan turun-temurun, yang sejalan dengan ajaran Islam.
Nemui Nyimah juga merupakan cerminan akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat ramah terhadap tamu, bahkan terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aṭ-ṭa‘āmu ‘alā ‘ajalin, wa ad-dāfu lā yadkhulun-nāra.” Artinya: “Makanan (untuk tamu) hendaknya disegerakan, dan tamu tidak akan masuk neraka.”

Hadis ini mengajarkan bahwa menyegerakan hidangan untuk tamu adalah bagian dari kemuliaan, dan memuliakan tamu adalah jalan menuju surga. Masyarakat Lampung mengamalkan hadis ini dengan sangat baik. Ketika ada tamu datang, mereka tidak akan membiarkan tamu duduk terlalu lama tanpa disuguhi makanan atau minuman. Mereka akan segera menyiapkan apa pun yang ada di dapur, sekalipun hanya sekedar kopi dan kue sederhana. Mereka percaya bahwa dengan menyegerakan hidangan, mereka sedang mengamalkan sunnah Nabi dan menuai pahala yang besar.

Kisah tentang kedermawanan dan keramahan Rasulullah terhadap tamu juga menjadi teladan yang hidup dalam budaya Lampung. Suatu hari, seorang sahabat berkunjung kepada Nabi dan menginap di rumahnya. Rasulullah tidak memiliki banyak makanan, tetapi beliau tetap menyuguhkan apa yang ada. Beliau bahkan memadamkan lampu agar tamunya tidak merasa malu melihat kondisi rumah yang sederhana. Kisah ini mengajarkan bahwa memuliakan tamu tidak diukur dari seberapa mewah hidangan yang disajikan, tetapi dari ketulusan hati dan keikhlasan dalam melayani. Inilah yang menjadi inti dari Nemui Nyimah.
Dalam perspektif spiritual, Nemui Nyimah adalah jalan untuk meraih keberkahan hidup. Masyarakat Lampung meyakini bahwa rumah yang sering dikunjungi tamu akan dipenuhi berkah, rezekinya lancar, dan penghuninya dijauhkan dari bala. Sebaliknya, rumah yang sepi dari tamu dianggap kurang mendapat berkah. Keyakinan ini mendorong mereka untuk selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang datang.

Baca Juga :  Nengah Nyappur, Menyatu dalam Perbedaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Menutup tulisan ini, mari kita renungkan kembali pesan dari Umpu Tihang Nyimah yang tertulis dalam naskah kulit kayu ruas itu: “Nemui nyimah iyulah iman. Sai mak nemui, ia mak nyimah. Sai mak nyimah, ia mak semah. Sai mak semah, ia mak gham.” (Menyambut tamu dengan ramah adalah iman. Yang tidak mau menyambut, ia tidak ramah. Yang tidak ramah, ia tidak dianggap. Yang tidak dianggap, ia bukan bagian dari kita).
Demikianlah Nemui Nyimah. Ia adalah cermin akhlak mulia yang mengharumkan nama baik keluarga, kampung, dan agama. Semoga kita semua terus menjaga tradisi luhur ini, menjadikan setiap tamu sebagai rahmat, dan menjadikan keramahan sebagai ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah dan sesama manusia.

Sumber Referensi:
1. Naskah Kulit Kayu Ruas Marga Penyimbang Ratu Mas (Koleksi Adat Pekon Pugung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus). Dokumen fisik berupa lembaran kulit kayu pohon ruas bertuliskan aksara Had Lampung yang memuat silsilah leluhur dan ajaran Nemui Nyimah dari perspektif masyarakat Saibatin.
2. Al-Qur’an Al-Karim, Surah An-Nisa (4): 86 dan Surah An-Nur (24): 27. Sumber fisik dan digital yang terverifikasi.
3. Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Shahih Al-Bukhari nomor 6135 dan Shahih Muslim nomor 48. (Digital via Maktabah Syamilah dan fisik kitab Shahih Al-Bukhari terbitan Dar Thawq an-Najah, serta Shahih Muslim terbitan Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah).
4. Hadis Riwayat Imam Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi nomor 1917. (Digital via Maktabah Syamilah dan fisik kitab Sunan At-Tirmidzi terbitan Dar al-Fikr).
5. Kuntara Raja Niti: Pedoman Hidup Masyarakat Adat Lampung, disusun oleh Lembaga Adat Provinsi Lampung. (Buku fisik, 2005).
6. Ensiklopedi Adat dan Budaya Lampung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung. (Buku fisik, 2015). Digunakan untuk verifikasi praktik Nemui Nyimah dalam tradisi nyambai dan adab bertamu masyarakat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini