Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri – 5 – Ungkapan yang Mengandung Nilai. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di tengah kehidupan masyarakat Lampung, tidak semua nasihat disampaikan secara langsung. Banyak nilai hidup justru diwariskan melalui ungkapan pendek yang diucapkan berulang-ulang, seolah ringan, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Ungkapan-ungkapan ini hidup dalam percakapan, petuah orang tua, hingga keputusan adat.
Seri kelima ini mengajak pembaca menyelami ungkapan-ungkapan populer dalam bahasa Lampung sebagai warisan kearifan lokal. Melalui cerita, sejarah marga, dan analisis makna, pembaca diajak memahami bahwa ungkapan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan kristalisasi pengalaman hidup leluhur.

Dahulu, di wilayah Way Semangka, hiduplah seorang tua bijak dari marga Pesisir yang dikenal jarang berbicara panjang. Namun, setiap ucapannya selalu dikenang. Ketika anak-anak muda bertanya tentang jalan hidup, ia hanya menjawab dengan satu ungkapan adat.
Konon, ungkapan itu terus diingat dan dijadikan pegangan hingga orang-orang yang mendengarnya tumbuh menjadi penyimbang adat. Cerita rakyat ini mengajarkan bahwa dalam budaya Lampung, ungkapan pendek mampu memuat pengalaman hidup yang panjang.
Legenda tersebut menjadi pengantar untuk memahami peran ungkapan sebagai sarana pewarisan nilai tanpa menggurui. Ungkapan menjadi bahasa kebijaksanaan yang membumi dan mudah diterima.

Dalam sejarah marga Lampung, ungkapan adat digunakan sebagai penuntun sikap. Banyak ungkapan muncul dari pengalaman kolektif marga menghadapi konflik, alam, dan hubungan sosial.
Dalam naskah adat yang tersimpan dalam koleksi Kuntara Raja Niti disebutkan: “Adat dang diajar panjang, cukup ku ungkapan.”
Maknanya, adat tidak selalu diajarkan dengan penjelasan panjang, melainkan cukup melalui ungkapan. Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa ungkapan berfungsi sebagai ringkasan nilai adat yang mudah diingat dan diterapkan.
Dalam silsilah marga, ungkapan sering dilekatkan pada peristiwa penting, seperti perpindahan wilayah atau penyelesaian sengketa. Dengan demikian, ungkapan menjadi arsip hidup yang mengikat sejarah dan nilai.

Baca Juga :  Juluk Adek (Sistem Pemberian Nama Gelar Dalam Adat Pepadun) Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Salah satu kelompok ungkapan yang paling sering digunakan dalam masyarakat Lampung berkaitan dengan harga diri dan sikap hidup. Ungkapan ini mengajarkan keseimbangan antara percaya diri dan kerendahan hati.
Dalam petuah adat Pepadun dikenal ungkapan: “Besar di ulun, kecil di kata.”
Secara makna, seseorang boleh besar dalam kemampuan, tetapi harus kecil dalam ucapan. Analisis mendalam terhadap ungkapan ini menunjukkan filosofi Lampung yang menolak kesombongan. Kehebatan sejati tidak perlu diumumkan melalui kata-kata.
Ungkapan ini sering diucapkan kepada generasi muda sebagai pengingat agar menjaga sikap, terutama ketika mulai mendapat pengakuan sosial. Dengan demikian, ungkapan berfungsi sebagai rem moral yang halus.

Dalam menjaga hubungan antarmanusia, masyarakat Lampung menggunakan banyak ungkapan yang menekankan kehati-hatian dan empati. Ungkapan ini hidup dalam percakapan sehari-hari maupun dalam forum adat.
Salah satu ungkapan yang dikenal luas adalah: “Jangan keras di kata, lembut di rasa.”
Ungkapan ini menekankan pentingnya menjaga perasaan orang lain. Analisisnya menunjukkan bahwa masyarakat Lampung memandang hubungan sosial sebagai sesuatu yang rapuh dan harus dirawat dengan bahasa yang bijak.
Ungkapan semacam ini sering muncul ketika terjadi perbedaan pendapat. Alih-alih memperuncing konflik, ungkapan menjadi alat penyejuk yang mengembalikan percakapan pada jalur harmoni.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 5: Nengah Nyappur - Membangun Jaringan dengan Akhlak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam lingkungan keluarga, ungkapan digunakan untuk mendidik tanpa menekan. Orang tua lebih memilih menyampaikan nilai melalui ungkapan agar anak merenung sendiri maknanya.
Dalam catatan lisan para tetua Saibatin disebutkan: “Anak dang dibentak, cukup ku diingat.”
Maknanya, anak tidak perlu dibentak, cukup diingatkan. Analisis kutipan ini menunjukkan pendekatan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang. Ungkapan menjadi sarana menanamkan nilai tanpa melukai batin anak.
Dengan cara ini, keluarga Lampung menumbuhkan kesadaran, bukan ketakutan. Ungkapan berperan sebagai jembatan antara generasi, menjaga kesinambungan nilai adat.
Secara spiritual, ungkapan diyakini mengandung kekuatan niat. Banyak ungkapan adat Lampung yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Dalam salah satu petikan adat lama disebutkan: “Kata baik, jalan lapang.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa tutur yang baik akan membuka jalan hidup. Analisisnya memperlihatkan keyakinan kosmologis bahwa kata-kata memiliki daya spiritual yang memengaruhi perjalanan manusia.
Oleh sebab itu, ungkapan tidak diucapkan sembarangan. Ia lahir dari perenungan panjang dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab. Dalam konteks ini, ungkapan menjadi doa yang tersembunyi dalam bahasa sehari-hari.
Dalam ritual adat, ungkapan digunakan sebagai penanda kesepakatan dan penegasan nilai. Setiap ungkapan diucapkan pada waktu dan konteks tertentu, tidak boleh salah tempat.
Dalam naskah adat disebutkan: “Ungkapan sai tepat, adat sai kuat.”
Maknanya, ungkapan yang tepat akan menguatkan adat. Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa ungkapan memiliki fungsi struktural dalam adat, bukan sekadar hiasan bahasa.
Ritual adat menjadi ruang sakral bagi ungkapan untuk dihidupkan kembali, menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui bahasa yang padat makna.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 7 – Tata Krama dalam Kegiatan Adat dan Sosial. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Di era modern, banyak ungkapan mulai jarang digunakan. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan kembali ungkapan tanpa menjadikannya beban.
Seri ini mengajak pembaca melihat ungkapan sebagai sumber inspirasi hidup, bukan aturan kaku. Dengan memahami maknanya, ungkapan dapat diterapkan dalam konteks baru tanpa kehilangan ruhnya.
Ungkapan Lampung tidak menolak perubahan, tetapi mengajarkan kebijaksanaan dalam menyikapinya.
Ungkapan dalam bahasa Lampung adalah warisan jiwa masyarakatnya. Ia menyimpan pengalaman, nilai, dan pandangan hidup yang dirangkai dalam kata-kata sederhana. Melalui ungkapan, leluhur berbicara lintas generasi.
Seri kelima ini menegaskan bahwa selama ungkapan masih dipahami dan dihayati, budaya Lampung akan terus hidup. Bahasa tidak hanya mencerminkan budaya, tetapi juga menjaga kebijaksanaan lokal agar tetap relevan sepanjang zaman.

Daftar Referensi (Fisik dan Digital Terverifikasi)
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Ungkapan Tradisional Bahasa Lampung.
3. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatra. Tradisi Lisan Lampung.
4. Koleksi Kuntara Raja Niti, Museum Negeri Provinsi Lampung.
5. Arsip wawancara lisan penyimbang adat Saibatin dan Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini