Mendidik dengan Hati: Teladan Pola Asuh Demokratis Nabi Ibrahim. Oleh : Aftio Atha Kesuma *)

0

nataragung.id – Kota Metro – Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memberikan teladan mendalam mengenai pentingnya pola asuh demokratis dalam membentuk karakter anak. Meskipun Ibrahim adalah seorang nabi yang menerima wahyu Tuhan, ia tidak menggunakan otoritasnya sebagai orang tua untuk memaksakan kehendak secara buta. Alih-alih langsung mengeksekusi perintah penyembelihan, ia memilih untuk membuka ruang diskusi dengan bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”. Hal ini menunjukkan prinsip psikologi bahwa pelibatan anak dalam pengambilan keputusan dapat menumbuhkan rasa dihargai dan memperkuat ikatan emosional antara guru dan murid atau orang tua dan anak.

Dari sisi psikologi perkembangan, pendekatan Ibrahim merupakan bentuk pengakuan terhadap eksistensi diri anak. Dengan mengajak Ismail berdialog, Ibrahim sedang melatih kecerdasan logika dan emosi putranya untuk memahami sebuah visi besar di balik sebuah instruksi.

Baca Juga :  Hadiri Harlah PMII ke-66, Ketua PCNU Metro: NU Metro Harus Menjadi Rumah Alumni PMII

Pendidikan bukan sekadar transfer informasi atau perintah satu arah, melainkan proses penyadaran di mana anak memahami alasan dan tujuan dari setiap tindakan yang mereka ambil, sehingga ketaatan yang muncul bukan karena rasa takut, melainkan karena pemahaman yang mendalam.

Respon Nabi Ismail yang tenang dan penuh keteguhan mencerminkan konsep resiliensi atau ketangguhan mental dalam psikologi pendidikan. Karakter Ismail yang siap menerima ujian berat tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari lingkungan belajar yang konsisten dalam menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral sejak dini.

Baca Juga :  Kompas Moral di Balik Layar: Menemukan Ruang Kelas di Balik Narasi Fiksi. Oleh: M. Haqu Darumiarta *)

Dalam psikologi, lingkungan yang aman dan mendukung (supportive environment) seperti yang dibangun Ibrahim terbukti mampu melahirkan individu yang stabil secara emosional dan mampu menghadapi krisis hidup dengan kepala dingin.

Lebih jauh lagi, kisah ini menyoroti konsep keteladanan atau modelling sebagai metode pendidikan paling efektif. Ismail bersedia taat karena ia melihat integritas dan kejujuran dalam diri ayahnya. Ketika seorang pendidik memberikan contoh nyata tentang kesabaran dan pengorbanan, peserta didik akan cenderung meniru perilaku tersebut tanpa perlu dipaksa. Hal ini menegaskan bahwa dalam psikologi pendidikan, perilaku nyata dari figur otoritas jauh lebih berdampak pada pembentukan karakter anak dibandingkan sekadar teori atau kata-kata.

Sebagai penutup, akhir dari kisah ini memberikan pesan psikologis bahwa tujuan utama pendidikan karakter adalah pembentukan mentalitas, bukan hasil fisik semata. Penggantian Ismail dengan seekor domba menandakan bahwa ujian tersebut adalah sarana untuk menguji kesiapan mental dan ketulusan hati. Secara edukatif, ini mengajarkan kita bahwa proses belajar yang menghargai martabat manusia dan mengedepankan dialog kasih sayang akan membuahkan hasil yang mulia, yakni lahirnya generasi yang memiliki iman yang teguh sekaligus empati yang tinggi terhadap sesama. <>

Baca Juga :  Pemprov Gelontorkan Rp 15 Miliar untuk Jalan Metro – Wates, Pemkot Metro Kawal Langsung

*) Penulis adalah : Mahasiswa Semester 2 Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini