Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Gulai Taboh dan Nengah Nyappur, Menyatu dalam Perbedaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami di tepian Pantai Barat Lampung hidup dalam dua jurai yang berbeda. Ada yang disebut Saibatin, masyarakat adat yang mendiami kawasan pesisir, dengan garis keturunan yang tegas dan hierarki yang jelas. Ada pula yang dinamai Pepadun, kelompok adat di pedalaman yang lebih egaliter, mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
Dua kelompok ini kadang berselisih. Bukan karena benci, tapi karena cara pandang yang berbeda tentang banyak hal. Namun suatu ketika, seorang Punyimbang, tetua yang disegani dari kedua golongan, mengumpulkan mereka di sebuah tanah lapang dekat muara sungai.
“Anak cucuku,” katanya dengan suara tenang. “Hari ini kita akan memasak gulai taboh bersama.”
Wajah-wajah itu terlihat ragu. Gulai taboh adalah hidangan berkuah santan kental yang biasanya disajikan untuk jamuan besar.

Di kalangan Saibatin, gulai ini dibuat dari ikan laut dengan tambahan daun tangkil dan rebung. Sementara Pepadun di pedalaman lebih akrab dengan gulai taboh dari ikan sungai berpadu tuba atau kluwek.
“Bagaimana mungkin kami memasak bersama dengan cara yang berbeda?” tanya seorang pemuda Pepadun.
Sang Punyimbang tersenyum. “Justru itulah pelajarannya, Nak. Mari kita mulai.”
Dalam bahasa Lampung, taboh berarti santan. Namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar cairan putih dari parutan kelapa. Gulai taboh adalah hidangan yang sarat filosofi. Bahan dasarnya boleh berbeda, ikan laut atau ikan sungai, sayuran pegunungan atau hasil kebun pesisir, tetapi semuanya direndam dalam kuah santan yang sama.

Masyarakat Lampung di masa lampau kerap menyajikan gulai taboh dalam upacara adat dan jamuan besar. Bahkan di daerah Liwa, Lampung Barat, hidangan ini dulunya merupakan sajian khusus untuk raja dan tamu kehormatan. Namun bukan karena mahal atau sulit dibuat. Justru karena ia mengajarkan pelajaran berharga: dalam satu wadah, beragam isi tetap bisa selaras.
Satu jenis gulai taboh yang terkenal disebut Tapa Semalam. Namanya berasal dari proses pembuatannya, ikan harus “bertapa” atau diasapi selama enam jam lebih dengan sabut dan batok kelapa. Ikan yang telah melewati “pertapaan” ini kemudian dimasak dengan santan dan rempah hingga menghasilkan cita rasa yang khas.
Bayangkan, seekor ikan yang sebelumnya mentah dan biasa, setelah melalui proses panjang, diasap, direndam, dimasak dengan api kecil, berubah menjadi hidangan yang istimewa. Begitulah perumpamaan manusia. Perbedaan bukan untuk dihilangkan, tetapi diolah dengan kasih sayang.

Cerita tentang gulai taboh ini tak lepas dari falsafah Nengah Nyappur, salah satu pilar hidup masyarakat Lampung. Nengah Nyappur berarti keterbukaan untuk hidup bermasyarakat, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan keberanian bergaul lintas kelompok.
Dalam naskah kuno Oendang-Oendang Adat Krui disebutkan: “Nengah nyappur menunjuakkan tiyuh sai ghik mengan di dalam kampung, ngelangkhang ghik mengan di luar kampung, kedok ngungkung ghik mengan di mana pun.”
Kurang lebih artinya: “Keterbukaan itu menunjukkan bahwa seseorang bisa makan di kampungnya sendiri, bisa pula makan di luar kampung, bahkan bisa makan di mana pun tanpa sekat.”
Dari situlah kita belajar bahwa Nengah Nyappur bukan hanya tentang bergaul, tetapi tentang kemampuan melepas ego. Seorang Saibatin yang terbiasa dengan ikan laut harus rela mencicipi gulai taboh dari ikan sungai. Sebaliknya, Pepadun dari pedalaman perlu membuka hati terhadap cita rasa pesisir.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 3: Nemui Nyimah Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Menurut catatan adat, masyarakat Saibatin yang mendiami pesisir seperti Lampung Timur, Selatan, Barat, Pesawaran, dan Tanggamus memiliki tradisi kelautan yang kuat. Sementara Pepadun di Way Kanan, Tulang Bawang, dan beberapa bagian Lampung Utara lebih akrab dengan ladang dan huma. Perbedaan ini bukan untuk diperselisihkan, melainkan untuk disyukuri sebagai kekayaan.
Dalam gulai taboh, semua perbedaan itu larut dalam santan yang sama. Ikan laut dan ikan sungai, daun tangkil dan rebung, semua mendapat tempat yang setara. Tidak ada yang lebih utama, tidak ada yang tersisih.

Dalam sebuah manuskrip kuno yang disebut Kuntara Raja Niti, tersimpan petuah tentang harmoni di Bumi Lampung. Kitab adat yang digunakan oleh para Punyimbang dari berbagai marga ini menuliskan: “Huja nihan saibumi ruwajurai, hulun lampung ghik sai mengan nengah nyappur. Wat ghik ghasa sai dibedok, wat ghik raso sai dilom taboh.”
Maknanya: “Satu bumi dua jurai (Saibatin dan Pepadun), orang Lampung itu hidup dengan keterbukaan. Ada rasa yang dibedakan, ada rasa yang disatukan dalam santan.”
Analisis sederhana dari kutipan di atas: “rasa yang dibedakan” adalah kebanggaan terhadap identitas masing-masing, Pi’il Pesenggiri yang menjaga harga diri. “Rasa yang disatukan dalam santan” adalah semangat kolektif, Sakay Sambayan yang mengutamakan kebersamaan.
Kedua hal ini tidak bertentangan. Justru dari benturan perbedaan itulah lahir kekuatan. Seperti gulai taboh yang gurih justru karena beragam bumbu dan isian yang menyatu, demikian pula masyarakat Lampung, kuat karena perbedaan yang dikelola dengan lapang dada.

Lalu, apakah tradisi Nengah Nyappur ini sejalan dengan Islam? Tentu saja. Bahkan, nilai ini merupakan cerminan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 5 : Masa Kanak-kanak dan Remaja. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) ketika sebagian sahabat merasa bangga dengan kesukuan mereka masing-masing. Rasulullah SAW pun meluruskan bahwa kelebihan seseorang bukan pada suku atau keturunannya, melainkan pada ketakwaannya.
Nengah Nyappur adalah wujud nyata dari “saling mengenal” yang diperintahkan Allah. Dengan membuka diri terhadap perbedaan, baik dalam cara memasak gulai taboh maupun dalam berinteraksi sehari-hari, kita sedang mengamalkan ajaran Ilahi.

Tak hanya itu, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan merasakan demam.” (HR. Bukhari No. 6011 dan Muslim No. 2586)
Hadis ini mengajarkan bahwa perbedaan anggota tubuh, mata, telinga, tangan, kaki, bukan untuk saling meniadakan, tetapi untuk saling melengkapi. Inilah esensi Nengah Nyappur.

Selaras dengan itu, Pancasila juga menjunjung tinggi nilai persatuan dalam keberagaman. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, tidak mungkin terwujud tanpa keterbukaan terhadap perbedaan suku, adat, dan budaya. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, juga membutuhkan sikap Nengah Nyappur, duduk bersama, berdialog, mencari jalan tengah.

Kembali ke kisah leluhur tadi. Setelah berjam-jam memasak, gulai taboh pun matang. Santan mengental dan mengeluarkan aroma harum yang menguar hingga ke kampung seberang.
Pemuda Pepadun yang semula ragu itu kini duduk bersila di samping seorang tetua Saibatin. Keduanya menyantap gulai taboh dari periuk yang sama. Ikan laut dan ikan sungai bercampur dalam satu sendok. Daun tangkil dan rebung berada di piring yang sama.
“Bagaimana rasanya?” tanya sang Punyimbang.
“Lezat, Nyai,” jawab pemuda itu dengan mata berbinar. “Ternyata perbedaan itu bisa disatukan.”
Sang tetua Saibatin di sampingnya tertawa. “Bukan ‘bisa disatukan’, Nak. Ia sudah semestinya begitu. Alam saja mempertemukan air laut dan air tawar di muara sungai. Mana mungkin kita, yang mengaku manusia beradab, tidak bisa melakukan hal yang sama?”

Baca Juga :  Kenduri dalam Kehidupan Sehari-hari Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak hari itu, gulai taboh tidak lagi dimasak terpisah antara kampung pesisir dan kampung pedalaman. Masyarakat Saibatin dan Pepadun sepakat untuk memasaknya bersama setiap kali ada hajatan besar. Resepnya tetap berbeda, karena perbedaan adalah anugerah, tetapi cara menyantapnya sama: dengan hati terbuka.
Gulai taboh mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah musuh. Ia adalah bumbu yang membuat hidup terasa lebih kaya. Seperti santan yang merangkum ikan, sayur, dan rempah menjadi satu hidangan utuh, demikian pula Nengah Nyappur merangkum kita dalam kebersamaan.

Dalam santan yang kental, tak ada yang lebih penting dari yang lain. Ikan sekecil apa pun mendapat tempat. Sayuran sederhana pun dihormati. Semua menyatu, semua berpadu, tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
Begitulah seharusnya bermasyarakat. Saibatin tetap Saibatin, Pepadun tetap Pepadun. Namun saat duduk bersama di acara begawi, pesta adat yang mempertemukan seluruh warga, tidak ada lagi sekat. Yang ada hanyalah senyum, tawa, dan suapan demi suapan gulai taboh yang hangat.
Mari kita jaga warisan ini. Bukan hanya resepnya, tetapi pesan di baliknya. Karena di Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan.

Daftar Pustaka
1. detikFood. (2018). Gurih Mantap Gulai Taboh, Warisan Kuliner Leluhur Khas Lampung.
2. NU Online. (2019). 5 Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
3. Kompas.com. (2015). Menikmati Gulai Taboh Dalom, Menu Khas Orang Liwa.
4. ANTARA News Lampung. (2018). Gulai Taboh Merupakan Warisan Kuliner “Bumi Ruwa Jurai”.
5. Institut Teknologi Bandung. (2020). Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung dalam Novel Kembara Rindu.
6. Universitas Ahmad Dahlan. (2018). Identifikasi Nilai-nilai Bimbingan Pribadi Sosial dalam Falsafah Masyarakat Lampung.
7. detikSumbagsel. (2026). Mengulik tentang Pepadun dan Saibatin, Masyarakat Adat di Provinsi Lampung.
8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2015). Warisan Budaya Takbenda: Gulai Taboh.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini