Cermin Retak: Adil Menurut Penguasa. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Pakde Kliwon geleng-geleng kepala. Bibirnya bergerak-gerak seperti hendak bicara. Atau mungkin karena hobinya sejak dulu brutu ayam, sehingga begitulah bibirnya selalu bergerak tak ada ujung pangkalnya.

“Mau bersuara? Lepas saja,” kata Yuk Nah sambil mengangkat kedua bahunya. Kalau zaman sekarang, Yuk Nah pasti akan bilang speak up!

“Apa tidak berbahaya? Saya takut diteror, dan media sosialku mengundang para buzzer,” sahut Pakde Kliwon disusul dengan suara batuk sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

“Pakde, di warungku ini tidak ada penyadapan bisa terjadi. Tak hanya kedap suara, tetapi juga terlindungi udaranya,” ujar Yuk Nah berlagak seperti anggota intelejen yang kalau menemukan kasus keduluan netizen +62.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Dari Sok-sokan, Tidak Realistis, dan Desakan Mundur. Oleh : Mukhotib MD *)

“Begini, Yuk. Itu cerdas cermat kok ya mau diulang. Katanya biar adil.”

“Itu kan pandangan para penguasa, supaya teman kuasanya tidak tenggelam dalam rasa malu. Memberi muka. Coba tanyakan kepada korbannya.”

“Iya, Yuk,” kata Pakde Kliwon setuju tanpa syarat terhadap pendapat teman kuliahnya itu.

Menurut Yuk Nah, kalau para pejabat di Jakarta itu mau bertindak adil, mestinya bukan diulang. Itu kan pandangan adil menurut mereka.

“Lalu bagaimana sebaiknya, yang adil itu bagaimana?”

Baca Juga :  Terperangkap dalam Notifikasi: Ketakutan yang Tak Pernah Tidur. Oleh: Zahratun Nur Azizah

Kalau mau adil, kata Yuk Nah, cabut nilai -5, dan kembalikan nilai 10 kepada regu C. Lalu jumlah semua nilai setiap regu. Selesai. Gampang, enggak makan anggaran yang banyak, dan enggak berguna.

“Betul, Yuk. Bagaimana kalau kita ketemu anggota MPR RI. Menyampaikan usul ini?”

“Halah, memang mereka mau mendengarmu?” ujar Yuk Nah.

Pakde Kliwon menunduk. Ia menyadari situasi para pemegang kekuasaan di negeri ini. Tak akan mau mendengar pandangan rakyat seperti dirinya.

Saya nyeruput tetesan akhir kopi hitamku. Rasa kantuk menghilang. Berbagai pemikiran berlompatan di benakku. Yuk Nah benar, Pakde Kliwon juga benar.

Baca Juga :  Naniek MBG Oleh : M.Habib Purnomo Aktivis PWNU Lampung, tinggal di Bandar Lampung

Lah, lantas salahku apa? Saya garuk-garuk kepala yang sungguh amat gatal. Saya ingat sudah sebulan ini tidak keramas.

Terus ngapain juga Wapres mengundang regu C ke Istana Wakil Presiden dengan anggaran negara? Apa coba tujuannya, menghibur?

Bukan begitu caranya, kata sebagian orang yang melintas di beranda media sosialku. (*/40).

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini